Bagikan:

Wapres Minta Penyuluh Agama Khotbah Soal Pencegahan Stunting

Keterlibatan penyuluh agama sangat diperlukan melalui khotbah, ceramah, dan tausiah

NASIONAL

Kamis, 06 Okt 2022 19:27 WIB

Wapres Minta Penyuluh Agama Khotbah Soal Pencegahan Stunting

Wakil Presiden Maruf Amin saat acara Halaqoh Nasional Penurunan Stunting, Kamis (6/10/2022). (Dok Setwapres)

KBR, Jakarta - Wakil Presiden Maruf Amin meminta penyuluh agama dan dai ikut mendukung penurunan angka stunting di Indonesia. Wapres berharap para dai ikut menyampaikan pesan pencegahan stunting saat khotbah.

"Pemerintah secara agresif telah mengambil langkah penanganan stunting untuk mencapai target stunting 14 persen pada 2024. Dibutuhkan kerja cepat, kerja cerdas, dan yang terpenting kerja kolaborasi. Kerja bersama, kerja berjemaah semua pihak. Termasuk partisipasi aktif dari penyuluh agama, dai, dan daiyah," kata Ma'ruf dalam acara Halaqoh Nasional Pelibatan Penyuluh Agama, Dai, dan Daiyah untuk Penurunan Stunting, Kamis (6/10/2022).

Stunting atau kondisi gagal tumbuh pada balita karena kekurangan gizi akut, saat ini menjadi perhatian khusus pemerintah. Wapres menyebut peran penyuluh agama sangat diperlukan. Dengan lebih dari 50 ribu penyuluh agama di Indonesia, dia yakin perilaku masyarakat dapat berubah.

Baca juga:

"Keterlibatan penyuluh agama sangat diperlukan melalui khotbah, ceramah, dan tausiah untuk mengajak masyarakat dalam mempercepat upaya penurunan stunting. Seperti dengan mengajak masyarakat menerapkan pola hidup sehat dan bersih, mengimbau ibu-ibu untuk dapat memberikan ASI eksklusif selama enam bulan, menekankan pentingnya makan makanan yang bergizi, dan perlunya meminum tablet tambah darah, sehingga anak-anak balita tidak mengalami stunting," imbuhnya.

Menurutnya, pendekatan agama biasanya efektif dalam upaya pemerintah menyampaikan pesan-pesan baik ke masyarakat.

"Upaya mendorong percepatan penurunan stunting adalah langkah-langkah mulia untuk mengimplementasikan maqashid asy-syari’ah (tujuan-tujuan disyari’atkan Islam), terutama hifdh an-nafs (perlindungan jiwa), hifdh al-‘aql (perlindungan akal), dan hifdh an-nasl (perlindungan keturunan), sehingga menjadi bagian dari ibadah yang harus diamalkan dan didakwahkan kepada masyarakat," lanjutnya.

Baca juga: Cegah Stunting, BKKBN Dorong Audit Hingga Desa

Editor: Wahyu S.

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Menyongsong Terbitnya Rupiah Digital

Episode 4: Relasi Kuasa: Akar Kekerasan & Pengaturannya Dalam UU TPKS

Kabar Baru Jam 7

Bagaimana Stok dan Stabilitas Harga Pangan Jelang Nataru?

Kabar Baru Jam 8

Most Popular / Trending