Bagikan:

Tragedi Kanjuruhan dan Rapuhnya Kepercayaan Publik Terhadap Aparat

Pertandingan di Stadion Kanjuruhan saat itu dikawal lebih dari 4 ribu aparat gabungan TNI Polri. TNI juga mendapat kecaman karena melakukan tindakan represif terhadap penonton pertandingan.

NASIONAL

Rabu, 05 Okt 2022 15:11 WIB

Tragedi Kanjuruhan

Sejumlah polisi melintas di pinggir lapangan Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur, Minggu (2/10/2022). (Foto: ANTARA/Zabur Karuru)

KBR, Jakarta - Tingkat kepercayaan publik terhadap aparat penegak hukum dan keamana diuji melalui sikap anggota Polri dan TNI yang tidak patut, dalam beberapa bulan terakhir.

Menurut survei yang dilakukan Charta Politika Indonesia misalnya, tingkat kepercayaan publik terhadap Polri menurun tajam, terutama sejak kasus polisi tembak polisi yang melibatkan jenderal polisi Ferdy Sambo sebagai dalangnya.

Direktur Eksekutif Charta Politika Indonesia Yunarto Wijaya mengatakan pada periode 6 sampai 13 September lalu, tingkat kepercayaan publik terhadap Polri menurun dari sebelumnya 73 persen menjadi 55 persen.

“Kita lihat pada beberapa survei terakhir, ini biasanya ditempati Polri. Dan kemudian Polri kalau kita lihat ada di posisi hampir paling bawah. Dia hanya menang dari Lembaga DPR, jauh darit tingkat kepercayaan KPK misalnya yang sering dipertandingkan dalam persepsi publik begitu dalam konteks terutama pemberantasan korupsi dan penegakan hukum. Dan ini masih menjadi PR. Ada 62,4 persen publik setelah disuguhi oleh bermacam proses dari kepolisian, masih menyatakan tidak transparan. Sementara baru 32,4 persennya transparan,” ujar Yunarto dalam keterangannya, Kamis (22/9/2022).

Hasil survei serupa datang dari lembaga lain. Lembaga Indikator Politik Indonesia juga mencatat Polri berada pada peringkat terendah dalam tingkat kepercayaan publik.

Direktur Eksekutif Indikator, Burhanudin Muhtadi mengatakan aparat penegak hukum lain yang diperbandingkan adalah Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Kejaksaan Agung (Kejagung), dan Pengadilan.

“Setelah KPK turun pamornya di mata publik, polisi waktu itu nomor satu bahkan ya. Kita pernah riset tahun 2021. Polisi paling dipercaya publik. Sekarang drop di paling bawah. Jadi public trust itu seperti iman ternyata ya. Kadang naik, kadang turun. Jadi memang sangat tergantung bagaimana kinerja masing-masing lembaga,” ujar Burhanudin dalam rilis daringnya (2/10/2022).

Baca juga:

Kanjuruhan

Turunnya peringkat Polri salah satunya disebabkan karena persepsi publik terhadap kasus Sambo yang mencoreng Polri. Selain kasus Sambo, tragedi kerusuhan pasca pertandingan sepak bola di Stadion Kanjuruhan, Malang, Sabtu lalu juga membuat institusi Polri jadi sasaran kritikan.

Polri dikritik karena menggunakan gas air mata untuk mengurai penonton. Namun, tindakan itu justru memicu kepanikan ribuan masyarakat. Lebih dari 130 orang tewas dan ratusan luka. Banyak yang meninggal karena sesak nafas setelah menghirup asap tembakan gas air mata.

Kapolda Jawa Timur Nico Afinta mengakui ada anggotanya yang diduga melanggar etik.

“Saya selaku Kapolda ikut prihatin dan turut menyesal sekaligus minta maaf di dalam proses pengamanan yang sedang berjalan ada kekurangan. Ke depan kami akan mengevaluasi bersama-sama dengan panitia pelaksana kemudian dengan PSSI. Sehingga harapannya pertandingan sepakbola ke depan, pertandingan sepakbola yang aman, nyaman, dan bisa menggerakan ekonomi,” kata Nico pada awak media, Selasa (4/10/2022).

Buntut dari tragedy Kanjuruhan, Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mencopot Kapolres Malang AKBP Ferli Hidayat, dan 9 komandan Brimob Polda Jatim.

Baca juga:

TNI Represif

Pertandingan saat itu dikawal lebih dari 4 ribu aparat gabungan TNI Polri. TNI juga mendapat kecaman karena melakukan tindakan represif terhadap penonton pertandingan.

Panglima TNI Jenderal Andika Perkasa akan menindak anggotanya secara hukum, dengan ancaman pidana, terhadap anggotanya yang terbukti anarkis.

“Jadi kita tidak akan mengarah kepada disiplin. Karena memang itu sudah sangat berlebih. Sekali lagi bukan tugas mereka melakukan yang terlihat itu. Kalau yang viral kemarin, itu bukan bertahan diri atau misalnya.. bukan. Bagi saya termasuk pidana. Mungkin orang lagi tidak berhadapan dengan prajurit kita, tapi diserang,” tegas Andika (03/10/22).

Khusus sebagai tindak lanjut tragedi Kanjuruhan, Presiden Joko Widodo meminta Polri melakukan investigasi untuk mengusut tuntas kasus tersebut. Termasuk juga diperlukan evaluasi agar kasus serupa tak terjadi lagi.

“Saya telah perintahkan kepada Menpora, Kapolri, dan Ketua Umum PSSI untuk melakukan evaluasi menyeluruh tentang pelaksanaan pertandingan sepak bola dan juga prosedur pengamanan penyelenggaraannya. Khusus kepada Kapolri, saya minta melakukan investigasi dan mengusut tuntas kasus ini,” ucap Jokowi (02/10/22).

Pada kesempatan lain, Wakil Presiden Ma'ruf Amin juga menyoroti tingkat kepercayaan publik terhadap aparat penegak hukum. Ia meminta Polri mempercepat reformasi lembaganya.

"Mengembalikan dan memperkuat kepercayaan publik menuntut profesionalisme dan integritas yang di bangun di internal institusi Polri," kata Ma'ruf dalam Seminar Sespimti Polri Dikreg ke 31 dan Sespimmen Polri Dikreg ke 42 tahun 2022 (21/9/2022).

Baca juga:

Editor: Agus Luqman

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Menyongsong Terbitnya Rupiah Digital

Episode 4: Relasi Kuasa: Akar Kekerasan & Pengaturannya Dalam UU TPKS

Kabar Baru Jam 7

Bagaimana Stok dan Stabilitas Harga Pangan Jelang Nataru?

Kabar Baru Jam 8

Most Popular / Trending