Bagikan:

Pengamat: Tragedi Kanjuruhan Momentum Evaluasi Pembangunan Stadion

"Ini kalau kita lihat kapasitas stadion yang demikian luas, demikian padatnya kemarin itu, dan juga pintu evakuasi yang juga tidak terlalu memadai, ini juga punya andil."

NASIONAL

Rabu, 05 Okt 2022 14:58 WIB

Pintu tribun 12 di Stadion Kanjuruhan Malang dengan korban terbanyak saat tragedi terjadi 1 Oktober

Pintu tribun 12 di Stadion Kanjuruhan Malang dengan korban terbanyak saat tragedi terjadi 1 Oktober 2022. (Foto: Antara/Ari Bowo Sucipto)

KBR, Jakarta - Pengamat Olahraga Eko Suprihatno menilai tragedi di Stadion Kanjuruhan, Malang, Jawa Timur seharusnya menjadi momentum tepat mengevaluasi pembangunan sebuah gedung, seperti stadion. Salah satu yang harus diperhatikan adalah penyediaan jalur evakuasi yang baik dan aman.

"Ini kalau kita lihat kapasitas stadion yang demikian luas, demikian padatnya kemarin itu, dan juga pintu evakuasi yang juga tidak terlalu memadai, ini juga punya andil. Bahwa itu bisa saja orang menjadi sesak nafas. Bayangkan ketika kemudian kita berada di dalam kerumunan massa. Kemudian punya tujuan yang sama, berdesak-desakan. Bisa dipastikan itu akan terjadi sesuatu yang kurang menyenangkan begitu ya. Entah kemudian kehabisan napas, terinjak-injak dan sebagainya. Itu bisa saja terjadi," katanya saat dihubungi KBR, Selasa (04/10/22) kemarin.

Sementara untuk gedung yang telah terbangun, kata Eko, panitia penyelenggara yang seharusnya mengantisipasi risiko terjadinya kondisi tak diharapkan. Misalnya dengan membatasi jumlah peserta acara.

Berkaca di tragedi Kanjuruhan, seharusnya panitia penyelenggara tidak menjual tiket pertandingan melebihi kapasitas gedung. Apalagi pertandingan tersebut termasuk acara yang rentan ricuh.

"Paling tidak ini menjadi perhatian dari para pengelola klub dan stadion itu. Kalau memang sudah melebihi kapasitas ya sudah. Jangan kemudian dipaksakan lagi untuk masuk," kesal Eko.

Berita terkait:

    Selain itu, jumlah orang melebihi kapasitas gedung, kerap terjadi pada acara besar seperti pertandingan sepak bola.

    Eko juga menyoroti sikap panitia penyelenggara yang cenderung lebih memikirkan keuntungan ekonomi dibanding menjamin keselamatan penonton.

    "Saya tidak menuduh. Tetapi bukan mustahil ada permainan untuk kepentingan diri. Cetak sekian, tapi ternyata yang bisa masuk lebih dari sekian. Atau kalau misalkan ada kesengajaan, artinya di sini panitia penyelenggara memang sengaja. Ini sangat riskan sendiri, kelebihannya ribuan. Ini sangat berbahaya," tambahnya.

    Editor: Kurniati Syahdan

    Kirim pesan ke kami

    Whatsapp
    Komentar

    KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

    BERITA LAINNYA - NASIONAL

    Kabar Baru Jam 7

    Bagaimana Stok dan Stabilitas Harga Pangan Jelang Nataru?

    Kabar Baru Jam 8

    Kick Off Seminar: Jurnalisme di bawah Kepungan/Tekanan Digital

    Kabar Baru Jam 10