Bagikan:

Kasus Ginjal Akut Anak, DPR Dorong Tetapkan KLB dan Bentuk TGIPF

"Ketika nanti statusnya naik menjadi kejadian luar biasa tentu akan ada penelitian yang mendalam. Kemudian penatalaksanaan dan yang ketiga dampaknya dampak pembiayaannya tentu akan dipikirkan"

NASIONAL

Selasa, 25 Okt 2022 13:39 WIB

Kasus Ginjal Akut Anak, DPR Dorong Tetapkan KLB dan Bentuk TGIPF

Ilustrasi ginjal. (Foto: Robina Weermeijer/Unsplash)

KBR, Jakarta - Anggota Komisi IX DPR Netty Prasetiyani mendorong pemerintah segera menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB) di penyakit gangguan ginjal akut.

"Ketika nanti statusnya naik menjadi kejadian luar biasa tentu akan ada penelitian yang mendalam. Kemudian yang kedua penatalaksanaan dan yang ketiga dampaknya dampak pembiayaannya tentu akan dipikirkan oleh pemerintah," kata Netty saat dihubungi KBR, Senin (24/10/2022).

Netty menyebut, penetapan ini mendesak lantaran kasus penyakit gagal ginjal akut itu terus meningkat. Terlebih kata politisi Partai Keadilan Sejahtera ini, fatality rate atau tingkat keparahan penyakit ini di atas 50 persen.

Netty menambahkan, penetapan KLB bakal mempercepat penanganan penyakit gangguan ginjal akut.

Bentuk TGIPF Usut Penyakit Gagal Ginjal Akut

Anggota Komisi IX DPR, Netty Prasetiyani juga mendorong pemerintah segera membentuk Tim Gabungan Independen Pencari Fakta (TGIPF) untuk mengusut tuntas gangguan ginjal akut ini.

Menurutnya, TGIPF harus bekerja transparan dan independen melakukan investigasi, sehingga hasilnya dapat menjadi dasar pengambilan kebijakan.

Termasuk, lanjut Netty, apakah ada faktor lain penyebab terjadinya gangguan ginjal akut di luar dugaan cemaran Etilen Glikol (EG) dan Dietilen Glikol (DEG).

"Dari situ juga bisa disimpulkan apakah ada unsur kesengajaan hingga tindak pidana. Apakah kelalaiannya pada pihak-pihak tertentu katakanlah hari ini kita punya badan POM yang bertugas melakukan pengawasan pengawasan baik pre market sebelum diedarkan maupun post market setelah diedarkan. Itu baru ketahuan jika kita sudah punya evidence-based yang dilakukannya dengan tahapan yang scientific," pungkasnya.

Berita terkait:

Editor: Kurniati Syahdan

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Kabar Baru Jam 7

Ekonomi Indonesia di Tengah Bayang-Bayang Ketidakpastian Global

Kabar Baru Jam 7

Kabar Baru Jam 8

Komunitas Biboki Lestarikan Tenun Ikat Tradisional

Most Popular / Trending