Bagikan:

Berharap UMKM Tangguh Jadi Penyelamat Hadapi Ancaman Resesi

Kontribusi UMKM terhadap produk domestik bruto (PDB) mencapai 60 persen. Proporsi pekerja UMKM di Indonesia menjadi yang tertinggi di Asia Tenggara.

NASIONAL

Kamis, 13 Okt 2022 17:57 WIB

Author

Muthia Kusuma

resesi

Penjaga stan produk UMKM melayani wisatawan asing di Kota Ternate, Maluku Utara, Kamis (13/10/2022). (Foto: ANTARA/Andri Saputra)

KBR, Jakarta - Perjuangan pemulihan ekonomi dari dampak pandemi Covid-19 saat ini menghadapi situasi tidak terduga. Kondisi ekonomi global kini lesu, muram dan gelap. Banyak negara menghadapi ancaman krisis pangan, krisis energi, dan krisis keuangan.

Sejumlah negara diperkirakan menghadapi pelambatan pertumbuhan ekonomi dan terancam jatuh ke jurang resesi pada tahun depan. Banyak Bank Sentral merespons dengan menaikkan suku bunga acuan guna menahan laju inflasi.

Menghadapi situasi sulit tersebut, Wakil Presiden Ma’ruf Amin meminta semua pihak terus menjaga dan mengoptimalkan modalitas dan kekuatan domestik yang dimiliki Indonesia. 

Hal ini sebagai langkah mengantisipasi pembalikan arus modal dari negara-negara berkembang ke negara-negara maju.

"Kekuatan domestik yang perlu kita jaga antara lain adalah konsumsi dalam negeri dan UMKM yang menjadi penyokong pertumbuhan ekonomi. Untuk itu, pemerintah terus menjaga level daya beli dan konsumsi masyarakat melalui bantuan sosial dan bantuan langsung tunai yang menyasar rumah tangga maupun UMKM," ungkap Wapres saat membuka Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) Ke-9 Tahun 2022 di Jakarta Convention Centre, Kamis (6/10/2022).

Wakil Presiden Maruf Amin mengatakan pada triwulan dua tahun ini, lebih 50 persen Produk Domestik Bruto berasal dari konsumsi rumah tangga.

Karena itu, pemerintah akan terus menjaga level daya beli dan konsumsi masyarakat melalui bantuan sosial dan bantuan langsung tunai yang menyasar rumah tangga maupun UMKM. Pemerintah juga terus menggaungkan gerakan nasional bangga buatan Indonesia.

Baca juga:

Penyelamat

Salah satu sektor usaha yang diharapkan bisa menjadi penyelamat menghadapi resesi adalah usaha mikro kecil menengah atau UMKM. 

Sektor Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) terbukti cukup tangguh saat menghadapi beberapa kali krisis ekonomi di Indonesia. Termasuk ketika krisis ekonomi 1998 yang membuat rupiah melemah lebih dari 200 persen dan terjadi PHK masal.

UMKM didorong segera memasuki dunia digital agar bisa menjangkau pasar yang lebih luas. Namun, dorongan ini perlu disertai dengan peningkatan kualitas produk UMKM yang lebih bernilai jual dan berdaya saing.

Menteri Koperasi dan UKM Teten Masduki mengatakan, perkembangan UMKM itu akan menghasilkan pendapatan yang lebih besar. Jika itu bisa dioptimalkan, pemerintah optimistis, ketangguhan UMKM akan jadi angin segar dalam menghadapi krisis ekonomi global.

“Digitalisasi bagi para program UMKM untuk bisa mengakses pasar yang lebih luas dan ini bukan karena Pandemi saja. Tapi memang tren digital market ini bukan hanya di Indonesia, ini akan menjadi semakin besar dan kita diprediksi di 2030 Market digital kita ekonomi digital kita itu akan terbesar di Asia Tenggara, value nya sekitar 4.500 triliun rupiah ini kan besar sekali,” ujar Teten, pekan lalu.

Ada lebih dari 65 juta UMKM di Indonesia yang menyerap 97 persen tenaga kerja nasional. Kontribusi UMKM terhadap produk domestik bruto (PDB) mencapai 60 persen. Proporsi pekerja UMKM di Indonesia menjadi yang tertinggi di Asia Tenggara.

Berdasarkan catatan Kementerian Koperasi, pertumbuhan UMKM di Indonesia cukup pesat tiap tahun. Hal ini membuka peluang cipta lapangan kerja baru di sektor UMKM.

Pelaku UMKM meminta pemerintah serius memperkuat sektor usaha mikro kecil agar bisa membantu menghadapi ancaman resesi.

Sekretaris Jenderal Asosiasi UMKM Indonesia (Akumindo) Edy Misero mengatakan, pemerintah sangat berperan dalam memperkuat UMKM dengan kebijakan yang mempermudah pengembangan usaha dan peningkatan kualitas.

"Bahwa resesi dunia itu sudah mulai. Di dunia itu sudah luar biasa tingkat inflasi. Bahwa itu akan masuk ke Indonesia, yes. Bagaimana kita mengantisipasi? Satu, siapkan pelaku-pelaku UMKM yang tahan banting. Dalam kondisi apapun kita harus survive. Unsur kedua adalah pemangku kebijakan, pemerintah. Sekali lagi seberapa serius pemerintah mau mendorong, memberikan ruang agar belanja negara itu bisa menyerap 40 persen kepada UMKM," jelas Edy saat dihubungi KBR (12/10/22).

Baca juga:

Edy Misero mengatakan UMKM harus memiliki ketahanan yang kuat agar bisa mempertahankan usahanya. Caranya dengan adaptif dalam setiap keadaan, termasuk pada masa krisis. 

Sebagai bentuk dukungan, Edy meminta pemerintah merealisasikan 40 persen belanja negara dengan menyerap dari UMKM.

Namun pengembangan sektor UMKM di Indonesia dinilai masih banyak menghadapi hambatan. 

Direktur Eksekutif lembaga kajian ekonomi INDEF Tauhid Ahmad menyebut hambatan itu meliputi masalah permodalan, fasilitas pembiayaan hingga perluasan pemasaran.

"Yang pertama adalah peningkatan kapasitas ya. Jadi mereka untuk naik kelas bukan hanya akses permodalan tapi juga manajemen, kapasitas kelembagaan. Saya kira yang kedua adalah marketing ya. digitalisasi menjadi pendorong untuk mereka mendapat tambahan market itu, itu perlu ada peningkatan kapasitas. Yang ketiga Saya kira UMKM juga perlu didorong untuk peningkatan fasilitas pembiayaan. Kita kan tahu paling kredit secara total ya 19-20 persen dari total kredit atau masih kurang begitu kita ingin target 30% tercapai. Nah ini kan masih kurang," ucapnya kepada KBR, Rabu, (12/10/2022).

Direktur Eksekutif INDEF Tauhid Ahmad memperkirakan inflasi tahun depan masih tinggi. Kondisi itu akan memicu tren peningkatan suku bunga. Ia menyarankan pemerintah memperpanjang kebijakan subsidi bunga untuk program Kredit Usaha Rakyat (KUR) kepada UMKM.

Selain itu, seiring dengan proyeksi kenaikan harga energi dan pangan pada tahun depan, pemerintah juga didorong untuk tetap menyalurkan bantuan sosial kepada UMKM.

Baca juga:


Editor: Agus Luqman

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Kabar Baru Jam 7

Kabar Baru Jam 8

Episode 2: Apa yang Bisa dilakukan Media dalam Kampanye Pencegahan Kekerasan Seksual?

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 11

Most Popular / Trending