Bagikan:

Aremania: Dominan Tindakan Aparat Dibanding Faktor Stadion di Tragedi Kanjuruhan

"Sebenarnya kita flashback ke pekan 10, Persebaya lawan RANS Cilegon juga ricuh di Stadion Delta Sidoarjo tapi tidak ada korban jiwa. Intinya reflektif dari keamanan yang membuat kolaps dan chaos

NASIONAL

Senin, 10 Okt 2022 14:18 WIB

Aremania: Dominan Tindakan Aparat Dibanding Faktor Stadion di Tragedi Kanjuruhan

coretan dinding di Stadion Kanjuruhan. (Foto: KBR/Eko Widianto)

KBR, Jakarta - Kelompok suporter klub sepak bola Arema Malang, Aremania menilai terlambatnya tudingan Tim Gabungan Independen Pencari Fakta (TGIPF) terkait kelayakan Stadion Kanjuruhan menggelar pertandingan.

Perwakilan Aremania, Emprid Lalapan beralasan, pertandingan-pertandingan klub Arema sebelumnya juga pernah mengalami kericuhan, namun tidak timbul korban jiwa separah 1 Oktober lalu.

Menurut Emprid, tindakan aparat di stadion Kanjuruhan usai laga melawan Persebaya 1 Oktober lalu yang justru membuat kericuhan meletus dan menyebabkan ratusan korban jiwa meninggal.

"Sebenarnya kita flashback ke pekan 10, Persebaya lawan RANS Cilegon itu juga ricuh di Stadion Delta Sidoarjo tapi tidak ada korban jiwa. Intinya reflektif dari pihak keamanan aja sih yang membuat kolaps dan chaos kemarin kalau se-penglihatan saya. 2018 Arema main di Kanjuruhan (lawan Persib, red) juga lebih parah, bahkan pertandingan belum selesai pun suporter masuk ke lapangan," ujar Emprid saat dihubungi KBR, Minggu (9/10/2022) kemarin.

Emprid juga mempertanyakan reaksi berlebihan aparat keamanan usai laga Arema FC melawan Persebaya 1 Oktober lalu. Ia menilai, aparat keamanan tidak memahami karakter suporter Aremania.

"Tiap daerah harus tahu karakter, mereka sepertinya tidak terbiasa dengan karakter Aremania. Dalam arti kalau turun ke dalam lapangan itu bagi mereka ancaman, kalau suporter turun itu oke salah tapi untuk suporter turun itu yang bisa menyalahkan itu adalah komdis (Komisi Disiplin)," jelasnya.

    Emprid menambahkan, verifikasi stadion dari PT Liga Indonesia Baru untuk Stadion Kanjuruhan juga tidak dilakukan tahun ini. 

    Ia juga mendukung rencana audit menyeluruh terhadap seluruh stadion yang ada di Tanah Air.

    "Kalau dilakukan audit atau tidak di seluruh stadion, demi kebaikan sepak bola Indonesia, saya setuju. Intinya semoga tidak ada kejadian-kejadian lagi, dipikirkan lagi keamanannya," pungkas Emprid Lalapan.

    Baca juga:

    Sebelumnya, Tim Gabungan Independen Pencari Fakta (TGIPF) mengungkapkan Stadion Kanjuruhan, Malang tidak layak menggelar pertandingan yang memiliki risiko tinggi.

    Hal ini merupakan kesimpulan sementara TGIPF, setelah sempat meninjau langsung ke Stadion Kanjuruhan dan meminta keterangan dari sejumlah pihak.

    Pengamanan Pertandingan Langgar Aturan Kapolri

    Sementara hasil investigasi tim pencari fakta dari Koalisi Masyarakat Sipil untuk Reformasi Sektor Keamanan menemukan pengamanan pertandingan sepak bola di Stadion Kanjuruhan melanggar Peraturan Kapolri Nomor 16 Tahun 2006 tentang pengendalian massa.

    Anggota koalisi dari LBH Surabaya, Jauhar Kurniawan menyebut, di Peraturan Kapolri disebutkan, gas air mata ditembakkan harus didahului dengan peringatan lisan dan meriam air atau water canon.

    Selain itu, ada mobilisasi pasukan Brimob bersenjata gas air mata di menit ke lima sampai 10 sebelum akhir pertandingan.
    Sementara dalam dokumen pengamanan tidak disebutkan penggunaan gas air mata, sehingga LBH Surabaya menilai ada komando yang tersistematis.

    LBH Surabaya menyebut, ada aktor lain yang bertanggung jawab di level lebih tinggi dan harus diproses hukum di tragedi Kanjuruhan.

    "Perlu pemeriksaan mendalam atas keterlibatan aktor yang memiliki kuasa dan pertanggungjawaban lebih besar. Termasuk memeriksa berapa jumah pelontar gas air mata, apakah kedaluwarsa, dan apakah ada unsur kesengajaan yang cukup serius menyebabkan korban jiwa," pungkas Jauhar Kurniawan.

    Editor: Kurniati Syahdan

    Kirim pesan ke kami

    Whatsapp
    Komentar

    KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

    BERITA LAINNYA - NASIONAL

    Kabar Baru Jam 7

    Tergoda Perpanjangan Masa Jabatan Kepala Desa

    Kabar Baru Jam 8

    Kabar Baru Jam 10

    Kabar Baru Jam 11

    Most Popular / Trending