Bagikan:

Aksi Kamisan HAM ke-750, Runtuhkan Tembok Impunitas

"Itulah sebabnya kemudian hari ini kita 750 Kamisan kita masih bicara soal bagaimana cara meruntuhkan tembok impunitas. "

NASIONAL

Jumat, 28 Okt 2022 07:58 WIB

aksi kamisan ke-750

Aksi teaterikal Kamisan ke-750 di depan Istana Merdeka, Jakarta, Kamis (27/10/22). (Antara/Sulthony Hasanuddin)

KBR, Jakarta- Aktivis Asia Justice and Rights (AJAR) Putri Kanesia mengatakan, meruntuhkan tembok impunitas adalah kunci untuk menyelesaikan pelanggaran HAM dan untuk melindungi warga negara Indonesia. Namun sayangnya, menurut Putri, masih banyak aturan-aturan yang berlaku di Indonesia yang justru memberangus hak-hak kaum marjinal.

"Impunitas menjadi satu hal yang tumbuh subur dari hari ke hari. Itulah sebabnya kemudian hari ini kita 750 Kamisan kita masih bicara soal bagaimana cara meruntuhkan tembok impunitas. Artinya memang impunitas itu masih ada di mana-mana dan masih belum terselesaikan. Kita bisa lihat impunitas dari kebijakan-kebijakan pemerintah yang hari ini tidak ramah korban kebijakan-kebijakan yang hari ini membranus kebebasan berekspresi kawan-kawan," kata Putri dalam refleksi Aksi Kamisan 750, di seberang Istana Merdeka, Kamis (27/10/2022).

Putri mengajak seluruh peserta aksi kamisan untuk membuka kembali visi misi aksi Kamisan, dan tetap bersatu tanpa terpecah belah untuk bisa terus menguatkan korban-korban hak asasi manusia. 

Putri juga meminta agar seluruh peserta aksi Kamisan bisa melipatgandakan dukungan untuk para korban.

Baca juga:

Aksi Kamisan di depan istana negara sudah dilakukan sejak  18 Januari 2007. Aksi setiap Kamis sore ini untuk menuntut Negara menyelesaikan kasus HAM berat di Indonesi.

Aksi Kamisan (27/10) yang ke-750 kali dilakukan  untuk mencari keadilan, mengungkap kebenaran, melawan impunitas dan melawan lupa. 750 kali berdiri di depan Istana menjelaskan bahwa Negara gagal untuk memberi keadilan bagi korban.

Editor: Rony Sitanggang

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Kabar Baru Jam 7

Tergoda Perpanjangan Masa Jabatan Kepala Desa

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 11

Most Popular / Trending