Siniar Kreasi Pelajar Surabaya di Masa Pandemi

Produksi konten butuh pendampingan tepat dari guru

Salah satu episode video siniar Pelajar Bicara. (Foto: dok Pelajar Bicara)

Jumat, 08 Oktober 2021

Pengantar:

Penutupan sekolah selama pandemi menciptakan banyak tantangan bagi pelajar. Tak hanya soal kesulitan belajar, tetapi juga minimnya ruang gerak untuk berkreasi. Namun, dua pelajar di Surabaya, Jawa Timur enggan berdiam diri. Mereka memanfaatkan ekosistem daring untuk meracik video siniar Pelajar Bicara. Simak kisahnya yang dibacakan Astri Yuana Sari.

- Siniar Kreasi Pelajar Surabaya di Masa Pandemi
Klik di sini untuk kisah-kisah menarik lainnya

KBR, Jakarta - Cornelius Matthew menyapa pemirsa maupun pendengar video siniar atau podcast Pelajar Bicara yang diunggah di akun Instagram suarapelajar.id. Di episode ini, topik yang diangkat adalah tentang penting atau tidaknya belajar sejarah.

Siniar Pelajar Bicara diproduksi Matthew bersama rekannya di kelas 11 IPS SMA Santa Maria Surabaya, Gregorius Taffi Valentino. Gagasan ini muncul saat momen pandemi yang memaksa sekolah ditutup sementara.

"Waktu kita banyak. Kenapa kita ga bikin kayak podcast saja, kan gampang di rumah, tinggal bahas isu sosial. Pas itu saya bingung, masak saya harus start sendirian. Akhirnya saya ngajak Taffi ini," kata Matthew.

Episode pertama diunggah pada awal Maret 2021. Hingga Juni, Pelajar Bicara sudah mengoleksi 10 episode. Tema yang diangkat pun beragam, mulai dari pembelajaran daring, curhatan pelajar hingga isu-isu sosial. Narasumbernya adalah rekan satu sekolah dan guru mereka sendiri.

"Kita bahas banyak hal. Tetapi pada saat itu juga ada kejadian bom di Makassar itu kan. Saya rasa momentumnya ini tepat, akhirnya kita bahas soal terorisme, kita up video itu supaya bisa membuka pikiran banyak orang juga," imbuh Matthew.

Baca juga: Be One in Diversity, Komunitas Pelajar Pegiat Perdamaian dan Toleransi

Cornellius Matthew (Foto:Ninik/KBR)

Isu terorisme dan intoleransi diangkat usai peristiwa bom Makassar. Pengajar Pendidikan Kewarganegaraan SMA Santa Maria, Khrisma Wibisono diundang sebagai narasumber. Matthew memastikan selalu mendapat pendampingan dari guru dalam memproduksi konten.

"Yang pertama kita membahas tentang radikalisme itu apakah masih eksis di sekitar kita? terutama di kalangan pelajar juga. Kedua, tahulah kalau bicara teroris pasti akan framing suatu agama tertentu. Maka dari itu kita diskusikan, apakah framing agama itu masih ada di sekitar kita?" papar dia.

Bagi Taffi, toleransi dan keberagaman penting didiskusikan dan disebarluaskan di kalangan pelajar. Pemahaman kuat sejak dini tentang nilai-nilai tersebut bisa mereduksi potensi tindak diskriminasi terhadap minoritas.

"Berawal dari pengalaman pribadi. Saya ini kan orang asli Jawa, tapi saya sekolah di lingkungan sekolah Katolik yang notabene isinya anak-anak chinese. Di SD-SMP itu kadang saya menerima beberapa seperti bully-an atau ejekan, karena mungkin kulit saya yang berbeda. Mereka kan putih-putih, saya ini hitam. Jadi itu keprihatinan saya," kata Taffi.

Baca juga: Anak Muda Mataram Lawan Kekerasan Berlatar Agama

Gregorius Taffi Valentino. (Foto:Ninik/KBR)

Pelajar Bicara kini dikenal seantero sekolah dan menuai banyak apresiasi. Namun, Taffi bilang inisiatif itu sempat diremehkan, karena mereka masih dianggap anak remaja.

"Sebelum seterkenal ini di sekolah, kami juga sering dapat sindiran, ngapain sih bikin kayak gini? buang-buang waktu saja, mending santai-santai. Tapi kan kita mau prove them wrong. Kita melakukan ini untuk kebaikan, untuk perkembangan kemajuan pendidikan juga di Indonesia," tutur Taffi.

Remaja berusia 16 tahun ini mengajak kawan-kawan sebayanya agar jangan takut berkarya. Sebab, pelajar bisa bersuara dan membawa perubahan.

"Kami ingin kasih tahu kalau pelajar itu bisa beraspirasi lho. Pelajar itu punya pendapat lho. Kan moto kita, tempat di mana aspirasi dan inspirasi bertemu ya. Jadi kita ingin menginspirasi agar pelajar bisa beraspirasi lebih luas lagi dalam banyak hal," kata Taffi.

Ajakan dan tantangan serupa juga ditebarkan Matthew kepada pelajar lain.

"Mungkin pesan saya kalau kalian punya mimpi, pikirkan mimpi itu terus. Tapi jangan lupa, kalau mimpi itu dipikirkan terus, tidak akan terjadi,” ungkap Matthew.

Baca juga: Inisiatif Berbagi Konten Pembelajaran Gratis

Doni Koesoema (Foto: dok Pendidikan Karakter Utuh)

Kreativitas Mattew dan Taffi mendapat aplaus dari pengamat pendidikan Doni Koesoema. Namun, ia mengingatkan perlu ada pendampingan intensif dari guru atau sekolah, terkait tema-tema yang pelik. Misalnya soal isu radikalisme dan toleransi.

β€œDia harus minta reviewer dari orang yang tepat. Kalau tidak, nanti bisa keliru ketika dirilis. Untuk review seperti itu, bisa bapak-ibu guru yang memang punya kredibilitas soal nasionalisme dan kebangsaan, serta paham tentang seluk beluk itu,” kata Doni.

Doni bilang, pelajar sebaiknya memilih topik atau persoalan yang berhubungan langsung dengan mereka.

"Misalkan tentang pandemi, kebijakan pemerintah kuotanya merugikan anak-anak, speak up-lah. Kami masih online terus tapi kemudian mau PTM, sekolah-sekolahnya ternyata ga siap. Ambillah masalah yang dekat dengan hidup anak-anak itu sendiri. Masalah sampah, masalah orang tidak tertib prokes, penyebaran hoaks, itu kan masalah-masalah sosial,” pungkas Doni.

Baca juga: Akses Pendidikan untuk Asa Masa Depan Anak Pemulung