Siap-Siap Era Bank Digital

Perkembangan teknologi dorong inovasi perbankan

Jumat, 29 Oktober 2021

KBR, Jakarta - Fenomena bank digital di Indonesia bak jamur di musim hujan. Tren ini dimulai sejak Bank BTPN mengeluarkan Jenius, yang jejaknya lantas diikuti bank konvensional lain, di bawah payung digitalisasi perbankan. 

Kini progresnya makin melesat dengan maraknya layanan seperti Digi Bank milik DBS, Tomorrow by UOB, Blu oleh BCA, dan Livin’ milik Bank Mandiri.

Direktur Eksekutif Next Policy, Fithra Faisal Hastiadi menilai fenomena ini wajar karena perusahaan ingin memanfaatkan momentum perkembangan teknologi dan antusiasme masyarakat.

“Pandemi ini sebenarnya mempercepat future of works, apa yang kita alami sekarang, kita hadapi sekarang ini seharusnya menjadi 5 atau 10 tahun ke depan. Kemudian bank-bank lain ingin ikut-ikutan menangkap momentum ini,” ungkapnya.

Kemunculan bank digital dianggap banyak orang sebagai produk baru dalam perbankan. Namun, menurut Fithra, sebenarnya belum ada perbedaan signifikan antara bank digital dan bank konvensional.

“Jadi bank is a bank. Meskipun tidak ada semacam clear cut ya antara bank digital dengan bank konvensional, perbedaan mendasarnya, punya bangunan fisik. Bank digital ini dia memang memiliki kantor tapi sangat terbatas,” terang Fithra.

Baca juga: Kelola Paylater Anti Kalap-Kalap Club

Direktur Eksekutif Next Policy, Fithra Faisal Hastiadi. (Foto: dok pribadi)

Guna menarik konsumen, bank digital menawarkan kemudahan dan juga keuntungan. Misalnya dengan memberikan bunga hingga 7% atau lebih tinggi dari bank konvensional. Hal ini bisa dilakukan karena operasional bank digital yang minimalis.

“Ongkos operasionalnya lebih murah, karena tidak harus bayar SDM yang berlebihan. Semua ini bisa dialihkan menjadi benefit buat konsumen. Apalagi mereka tergolong pemain baru kan, tentu yang mereka hadirkan adalah user engagement,” imbuh Fithra

Di sisi lain, kemudahan bank digital juga perlu dibarengi dengan peningkatan sistem keamanan data. Risiko kejahatan siber meningkat karena model layanannya yang serba digital. 

“Jadi data kita bisa bocor dan banyak mungkin cerita soal data-data kita diperjualbelikan. Makanya OJK harus betul-betul memberikan perhatian khusus,” pungkas Fithra.

Mau tahu ulasan lengkapnya? Simak di Episode 24 Uang Bicara