covid-19

Potensi Bencana Ekologis di Indonesia Makin Besar

Banyaknya bencana ekologis tak bisa hanya dilihat dari faktor alam semata. Namun juga imbas dari perubahan iklim dan buruknya kebijakan lingkungan di Indonesia.

BERITA | NASIONAL

Kamis, 14 Okt 2021 10:29 WIB

bencana ekologis

Warga bersama anak melintas banjir di permukiman Desa Mentaya Hulu, Kotawaringin Timur, Kalteng, Kamis (7/10/2021). (Foto: ANTARA/Chalisa)

KBR, Jakarta - LSM lingkungan Walhi meminta semua pihak mewaspadai peningkatan potensi bencana ekologis di Indonesia.

Manajer Kampanye Walhi Wahyu Perdana mengatakan itu terlihat dari banyaknya bencana ekologis dalam dua tahun terakhir.

Menurut Wahyu, banyaknya bencana ekologis tak bisa hanya dilihat dari faktor alam semata. Namun juga imbas dari perubahan iklim dan buruknya kebijakan lingkungan di Indonesia.

"Dalam beberapa tahun ke depan, prediksi kami sebenarnya tidak jauh berbeda dalam data gambaran statistik di BNPB dan BMKG. Ada bencana ekologis dalam bentuk bencana hidrometeorologis dan faktor-faktor yang dipengaruhi perubahan iklim. Itu cukup tinggi. Saya kira ke depan yang penting harus dilihat dalam kerangka jangka panjang kebijakannya. Seperti soal tutupan kawasan hutan, ruang terbuka hijau dan lain-lain, itu harusnya tidak diutak-atik," kata Wahyu kepada KBR, Rabu (13/10/2021).

Wahyu Perdana mendesak pemerintah mencabut kebijakan-kebijakan yang mengancam lingkungan dan keselamatan rakyat. Termasuk di dalamnya Undang-undang Omnibus Law Cipta Kerja. Menurut Wahyu, langkah itu perlu dilakukan untuk menurunkan potensi bencana ekologis akibat perubahan iklim.

"Saya mau bilang begini. Penurunan muka tanah kita tinggi, curah hujan tinggi, tapi catchment areanya (daerah tangkapan air) tidak tersedia atau makin berkurang. Sehingga ancaman bencana hidrometeorologisnya makin tinggi," ujarnya.

Baca juga:


Wahyu mencontohkan, beberapa daerah di Indonesia kini menghadapi ancaman bencana ekologis yang tinggi. Mulai dari Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, hingga pesisir Jawa.

"Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah, sesudah dalam satu periode terakhir pembukaan lahan skala luasnya cukup tinggi. Banjir hampir menjadi rutinitas tahunan," ungkapnya.

Fenomena La Nina

Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebut beberapa wilayah di Tanah Air akan menghadapi fenomena perubahan iklim La Nina pada akhir tahun 2021 hingga awal tahun depan.

La Nina merupakan fenomena dimana ada penurunan suhu permukaan laut di sepanjang timur dan tengah Samudera Pasifik di garis khatulistiwa. Suhu permukaan laut turun sekitar tiga hingga 5 derajat Celcius dibanding suhu normal.

Turunnya suhu permukaan laut berdampak pada meningkatnya curah hujan di wilayah Indonesia, dan membuat musim kemarau lebih basah.

Kepala BMKG Dwikorita Karnawati mengatakan, meski saat ini La Nina masih dalam kategori rendah, upaya mitigasi bencana harus tetap disiapkan. Sebab, kata dia, beberapa wilayah telah mengalami hujan ekstrem meskipun La Nina masih pada kondisi netral.

"Ini kondisi masih netral, La Nina belum ada tambahan pasokan massa udara basah dari Pasifik. Tapi sudah beberapa kali terjadi hujan ekstrem, terjadi banjir di berbagai wilayah di Indonesia. Longsor juga sudah terjadi. Jadi semoga saja kita bisa memitigasi dengan cepat dan tepat. Meskipun posisi saat ini masih netral, baru akan mulai aktif berkembang di akhir tahun hingga April 2022," kata Dwikorita dalam diskusi daring, Senin (11/10/2021).

Baca juga:


Dwikorita Karnawati mengatakan tim BMKG akan terus memantau pergerakan dan potensi dampak dari La Nina yang diprediksi akan meningkat di penghujung tahun ini.

BMKG juga mencatat tren hujan ekstrem di Indonesia dengan intensitas lebih dari 150 milimeter per hari semakin meningkat dari tahun ke tahun. Dalam setahun ini tren hujan ekstrem sudah mencapai hampir 60 kali.

Dwikorita menyebut, secara wilayah didapatkan tren hujan ekstrem di pulau besar di Indonesia juga menunjukkan peningkatan yang sangat signifikan. Beberapa wilayah pun perlu menyiapkan mitigasi di antaranya Jawa, Kalimantan, Sumatera dan Papua.

"Ini trennya jumlah kejadian hujan ekstrim semakin meningkat. Ini kan benar-benar data yang menjadi fakta yang harus dapat kita segera mitigasi," katanya.

Editor: Agus Luqman

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Semai Toleransi ala Anak Muda Bandung