Bagikan:

Pemerintah Tak Akan Sembarangan Beri Izin Kegiatan Skala Besar

Pemerintah Tak Akan Sembarangan Beri Izin Kegiatan Skala Besar

BERITA | NASIONAL

Rabu, 06 Okt 2021 06:58 WIB

kegiatan skala besar

Peragaan busana batik di Mega Mall Batam Center, Batam, Kepulauan Riau, Sabtu (2/10/2021). (Foto: ANTARA/Teguh Prihatna)

KBR, Jakarta - Kementerian Kesehatan menyatakan tidak akan sembarangan memberi izin pada kegiatan skala besar.

Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Menular Langsung di Kementerian Kesehatan Siti Nadia Tarmizi mengatakan dengan semakin melonggarnya level pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM), pemerintah terus memberikan ruang untuk berbagai upaya masyarakat termasuk kreativitas untuk menyelenggarakan acara atau event berskala besar.

Namun, Nadia menyebut, proses pemberian izin untuk penyelenggaraan kegiatan berskala besar harus melalui beberapa tahapan, dan akan dikawal sejak awal persiapan.

Penyelenggara harus punya komitmen menjalankan protokol kesehatan dengan ketat, serta mitigasi jika terjadi penularan saat acara berlangsung.

"Persiapannya itu sudah dari awal akan dikawal, untuk memastikan kesiapan dari penyelenggara ini. Kalau nanti sudah jelas misalnya, sudah ada plan-nya untuk advokasi, untuk masyarakat memahami adanya event tersebut. Dan tentu event tersebut harus protokol kesehatan, dan kemudian membuat rencana mitigasi. Kalau nanti terjadi kejadian luar biasa, juga harus disiapkan dari awal. Kalau kemudian tahapan-tahapan ini dinilai kurang memadai pasti tidak diberikan izin," kata Nadia kepada KBR, Selasa (5/10/2021).

Nadia mengatakan, pemerintah cukup percaya diri untuk melaksanakan event-event besar dengan membaiknya situasi pandemi saat ini.

Meski begitu, Nadia menegaskan, pelaksanaan event tetap dilakukan secara bertahap dengan protokol kesehatan ketat. Sehingga acara dapat berjalan lancar tanpa meninggalkan klaster baru penularan Covid-19.

"Begitu juga untuk teman-teman pelaksana, bahwa persiapan itu menjadi komitmen bersama, harus ada perencanaan ataupun mitigasi plan kalau nanti misalnya ada pengunjung yang positif ataupun yang positif. Artinya di post-event itu harus memastikan pascakegiatan tersebut tidak menimbulkan klaster. Jadi bagaimana pada saat event penyelenggara itu betul-betul memastikan prosesnya harus dijalankan, aturan keluar masuk berbeda, itu yang harus dipastikan dalam hal ini," imbuhnya.

Baca juga:


Tidak bisa disamakan

Epidemiolog dari Universitas Griffith Australia Dicky Budiman mengatakan, pelonggaran kegiatan skala besar harus didasari indikator epidemiologis yang valid dan sesuai dengan eskalasi pandemi di suatu daerah.

Apalagi kapasitas tes dan pelacakan juga belum kuat di semua daerah.

"Membolehkan diadakannya acara besar seperti konferensi, pameran, konser, olahraga, pesta, hingga resepsi pernikahan yang diberikan pemerintah karena merasa sudah kondisinya membaik kasus Covid-19 turun, ini secara umum tidak bisa diterapkan disama ratakan di semua daerah. Tidak bisa begitu," kata Dicky kepada KBR, Minggu (3/10/2021).

Dicky Budiman mengatakan penurunan kasus tidak bisa dijadikan dasar jika tes dan pelacakan belum maksimal. Dia menilai pelanggaran dilakukan saat ini bukan karena kasusnya aman, melainkan karena kebutuhan pemulihan ekonomi.

Jika memang akan membuka kegiatan berskala besar, dia menyarankan agar pemerintah membuat percontohan atau pilot project terlebih dahulu.

"Jadi caranya bagaimana agar mengurangi risiko, karena risikonya tetap ada. Jadi dengan cara melakukan pilot project. Seperti pembukaan sekolah, jika ditemukan klaster, perbaiki," ujarnya.

Dicky menjelaskan, kegiatan seperti konser musik harus didahului dengan proyek percontohan dengan melibatkan para promotor. Dia menyarankan, dilakukan tes Covid-19 3-4 jam sebelum acara dimulai, untuk meminimalkan penularan virus. Selain itu, setelah acara selesai juga harus dilakukan tes acak untuk memastikan tidak ada klaster.

Baca juga:


Editor: Agus Luqman

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Problematika Bantuan Sosial BBM

Most Popular / Trending