covid-19

Oktober 2021, Realisasi Program PEN Hampir 60 Persen

Oktober 2021, Realisasi Program PEN Hampir 60 Persen

BERITA | NASIONAL

Senin, 11 Okt 2021 23:17 WIB

Oktober 2021, Realisasi Program PEN Hampir 60 Persen

Warga mengantre untuk mendapat bantuan tunai bagi pedagang kecil di Polrestabes Surabaya, Jawa Timur, Jumat (24/9/2021). (Foto: ANTARA/Didik Suhartono)

KBR, Jakarta - Pemerintah mencatat hingga 8 Oktober 2021 realisasi program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) mencapai 55,9 persen.

Menteri Koordinator Bidang Perekonomian sekaligus Ketua Komite Penanganan COVID-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional (KPC-PEN) Airlangga Hartarto menyebut jumlah anggaran yang tersalurkan mencapai Rp416,8 triliun.

"Di kluster kesehatan sudah 49,7 persen atau Rp106,87 triliun, kluster perlindungan sosial ada Rp121,5 triliun atau 65,1 persen.

Kemudian program prioritas 55,75 persen atau Rp65,69 triliun, dukungan UMKM sebesar Rp62,04 triliun atau 38 persen, kluster insentif usaha ada 95,8 persen," kata Airlangga, saat konferensi pers daring, Senin (11/10/2021).

Baca juga:


Airlangga mengatakan pengeluaran untuk kluster kesehatan yang sebesar Rp108,87 triliun antara lain digunakan untuk diagnostik sebesar 2,96 triliun.

Sementara untuk klater perlindungan sosial realisasinya untuk Program Keluarga Harapan (PKH) mencapai 73,4 persen atau Rp20,79 triliun, Kartu Sembako 58,6 persen dari pagu atau sebesar Rp29,26 triliun.

"BLT Desa sebesar 56,2 persen atau Rp16,2 triliun dan Bantuan Subsidi Upah sebesar 75,6 persen atau Rp6,65 triliun," kata Airlangga.

Belanja Pemerintah Jadi Bemper Ekonomi

Selama pandemi COVID-19, pemerintah menjadikan sektor belanja pemerintah sebagai bemper atau landasan pertumbuhan ekonomi nasional.

Wakil Menteri Keuangan Suahasil Nazara menyebut pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat pasti berdampak kepada turunnya konsumsi, investasi hingga ekspor dan impor. Karena itu, pertumbuhan ekonomi lebih banyak mengandalkan belanja pemerintah.

"Sejak 2020, pengeluaran pemerintah kita tingkatkan meskipun penerimaan turun di 2020. Mengapa penerimaan negara turun? Karena kegiatan ekonomi turun. Namun pengeluaran negara tidak boleh turun, harus jadi landasan bemper untuk menangani covid ini. Alhasil defisitnya harus meningkat," kata Suahasil Nazara, saat diskusi daring, Senin (11/10/2021).

Baca juga:


Sebelumnya, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyebut hingga Agustus 2021 total belanja negara telah mencapai Rp1.560,8 Triliun.

Jumlah ini tercatat mengalami pertumbuhan 1,5 persen. Sri Mulyani mengatakan belanja Kementrian/Lembaga mengalami pertumbuhan paling tinggi yakni 21,5 persen.

Editor: Agus Luqman

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Semai Toleransi ala Anak Muda Bandung