covid-19

LaporCovid: Pendataan Semrawut, Distribusi Vaksin COVID-19 Tak Merata

LaporCovid-19 menerima laporan mulai dari semrawutnya pendataan vaksinasi hingga masalah distribusi vaksin COVID-19 yang tak merata ke seluruh daerah.

BERITA | NASIONAL

Rabu, 13 Okt 2021 22:08 WIB

vaksin COVID-19

Petugas menyiapkan vaksin COVID-19 untuk warga di Kota Madiun, Jawa Timur, Rabu (13/10/2021). (Foto: ANTARA/Siswowido)

KBR, Jakarta - Inisiatif warga LaporCovid-19 menerima berbagai laporan soal pelaksanaan vaksinasi Covid-19.

Relawan LaporCovid-19 Amanda Tan menyebut laporan itu mulai dari semrawutnya pendataan vaksinasi hingga masalah distribusi vaksin COVID-19 yang tak merata ke seluruh daerah.

"Laporan yang masih konsisten kami dapatkan adalah soal pendataan program vaksinasi. Warga masih mencoba mendaftar tapi di fasilitas kesehatan dipersulit dan lain sebagainya. Kalau terkait stok vaksin, ada beberapa warga yang melaporkan bahwa vaksin sudah habis. Kalau mau divaksin mereka harus membawa sekitar 5 hingga 10 orang, baru faskesnya membuka vial dosis tersebut," kata Amanda kepada KBR (13/10/21).

Amanda mengatakan kekosongan vaksin itu disebabkan karena semrawutnya pendataan.

"Kalau pendataannya kuat, faskes akan tahu hari ini ada sekian pasien yang datang, maka akan harus membuka sekian vial vaksin," kata Amanda.

Baca juga:

Selain soal pendataan, LaporCovid19 juga menyoroti distribusi vaksin yang kurang merata. Amanda mencontohkan berdasarkan data yang dilansir di dashboard vaksin Kementerian Kesehatan, Provinsi DKI Jakarta termasuk daerah yang stok vaksinnya sangat banyak, bahkan bisa bertahan puluhan hari.

"Tapi kita bisa lihat beberapa daerah lain, sebut saja Jawa Barat, ada beberapa daerah yang stok vaksinnya tinggal beberapa hari aja. Kok kami lihat jomplang banget ya dengan DKI, yang banyak hingga bisa bertahan puluhan hari," tambahnya.

Amanda mengatakan belum mengetahui akar masalah distribusi vaksin yang tidak merata tersebut. Saat LaporCovid19 melakukan Focus Group Discussion (FGD) dengan petugas vaksinasi di Jakarta, ada petugas yang mengatakan jika stok vaksin habis mereka tinggal minta ke pemerintah pusat. Lalu vaksin akan didistribusikan lewat PT. Biofarma sebagai distributor.

"Bagaimana pemerintah memeratakan distribusi vaksin? Saya rasa ini lebih kepada bagaimana mendistribusikan vaksin ke daerah yang membutuhkan. Kan sudah ada datanya. Kemarin terakhir di Bekasi, mereka kebanjiran vaksin. Bahkan saking kebanyakannya, mereka berencana memberikan ke tenaga pendidik dan guru. Alasannya daripada kebuang, mending untuk booster ketiga bagi guru," lanjut Amanda.

Amanda mengatakan seharusnya vaksin yang berlimpah di suatu daerah diberikan ke daerah lain yang belum mendapat vaksin, atau kekurangan stok vaksin.

"Kita lihat di Papua ada Kabupaten Intan Jaya kalau nggak salah stok vaksinnya nol. Apakah itu karena warganya tidak mau divaksin sehingga tidak didistribusikan? Saya rasa itu hal yang lain. Itu tugas pemerintah memastikan semua warga mau divaksin. Kemudian kembali ke sosialisasi dan informasi pemerintah, vaksin itu bagaimana supaya tidak melimpah tapi diberi ke warga yang membutuhkan," kata Amanda.

Baca juga:

Editor: Agus Luqman

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Semai Toleransi ala Anak Muda Bandung