covid-19

BPOM Akan Dampingi Pengembangan Vaksin Booster Dalam Negeri

"Vaksin booster ini bisa diberikan juga seoptimal mungkin dari produksi yang bisa dilakukan di Indonesia."

BERITA | NASIONAL

Jumat, 08 Okt 2021 08:34 WIB

Ilustrasi: Vaksin booster Moderna untuk nakes di Puskesmas Gang Sehat, Pontianak, Kalbar, Selasa(10/

Ilustrasi: Vaksin booster Moderna untuk nakes di RSUD Matraman, Jaktim, Jumat (06/08/21). (Antara/Fakhri Hermansyah)

KBR, Jakarta-  Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) akan memastikan potensi vaksin Covid-19 untuk booster tersedia. Itu seiring dengan rencana pemerintah yang akan memulai vaksin booster untuk masyarakat.

Kepala BPOM Penny Lukito mengatakan, lembaganya akan memberi pendampingan pengembangan sehingga produksi bisa dilakukan di dalam negeri.

"Harapannya ke depan adalah vaksin booster ini bisa diberikan juga seoptimal mungkin dari produksi yang bisa dilakukan di Indonesia. Jadi komponen dalam negerinya sudah semakin besar," kata Penny dalam konferensi pers, Kamis (7/10/2021).

Kepala BPOM Penny Lukito menambahkan, dibutuhkan transfer teknologi untuk pengembangan vaksin dalam negeri. Menurut Penny, vaksin-vaksin yang dikembangan di dalam negeri seperti Merah Putih bisa menjadi potensi untuk vaksin booster.

"Nah itu adalah potensi dari vaksin-vaksin yang akan diberikan sebagai vaksin booster. Dan ini Zifivax ini juga memiliki potensi untuk menjadi vaksin booster dan beberapa vaksin lain yang segera akan melakukan uji klinik dalam waktu dekat," ujarnya.

Baca juga:

Efikasi Vaksin Zifivax Mencapai Lebih dari 80 Persen, Potensial Dijadikan Booster

BPOM Terbitkan Izin Penggunaan Darurat Vaksin Moderna, Berapa Efikasinya?


Penny menjelaskan, pemberian booster bisa dari platform yang sama atau yang berbeda. Namun dia menekankan, pemberian vaksin booster akan ditentukan oleh pemerintah.  

Editor: Rony Sitanggang

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Ramai Cukai Rokok Mau Naik, Apa Kata Pakar dan DPR?