Who Is Gambut?

Butuh ribuan tahun untuk gambut tumbuh dan berkembang. Gambut adalah penyimpan karbon yang penting, tak hanya bagi Indonesia tapi juga bagi dunia.

BERITA | NASIONAL

Jumat, 02 Okt 2020 10:11 WIB

Author

KBR

Lahan gambut bekas karhutla ditanami

Ilustrasi: Lahan gambut bekas karhutla ditanami (Foto: Antara)

Tapi manusia yang ada di sekeliling gambut sepertinya tak tahan kalau mendiamkan gambut begitu saja. Salah satu ancaman terbesar gambut adalah alih fungsi lahan. Niatnya untuk memenuhi kebutuhan manusia, tapi ujung-ujungnya bisa menimbulkan bencana alam dan sosial. Di Podcast Gambut Bakisah kali ini, kami mencoba mereka sebuah percakapan imajiner dengan … gambut.

Informasi tentang gambut ini disusun berdasarkan wawancara dengan Guru Besar Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada, Profesor Azwar Maas, kelas webinar tentang gambut dan riset dari berbagai situs yg fokus pada ekosistem gambut.

Aika: Disclaimer dulu nih. Saya biasanya bangun tidur dengan pemandangan sekat tembok, atap rumah tetangga. Lalu kalau bekerja, maka akan bertemu gedung-gedung tinggi, jalan raya. Paling kalau ambil cuti saja baru bisa bertemu atau mendengar yang kayak gini…

Asrul: Iya, saya akhirnya bisa lihat gambut secara langsung ketika ke Kalimantan Tengah. Permukaan tanahnya terlihat datar, tapi kalau diinjak, agak gembos. Melesap ke dalam tanah gitu. Lalu di permukaan itu digenangi air dengan warna kehitaman. Warna tanahnya lebih hitam, tidak seperti tanah pada umumnya.

Aika: Kalau bicara soal gambut, dia sangat penting sebagai penyimpan karbon dunia, tapi terus menerus terancam alih fungsi lahan. Apa ya yang dia rasain… Andai bisa ngobrol sama gambut, asik kali ya…

Inilah podcast Gambut Bakisah, bersama saya Aika Renata dan dia Asrul Dwi.

Gambut: Halo.

Aika: Oh wow. Ini betulan. Kita betulan bicara sama gambut….

Gambut: Senang bisa berbincang dengan manusia. Biasanya kami hanya mengamati saja dari bawah tanah.

Asrul: Hm, betul juga. Kalau orang bilang “hutan gambut” itu jangan juga membayangkan ada pohon-pohon tinggi menjulang ya. Karena gambut ada di bawah kaki kita, di dalam permukaan tanah itu.

Gambut: Ekosistem kami memang agak yang berbeda. Dataran kami tidak padat dan juga digenangi air. Kalau kamu bandingkan dengan hutan pada dataran yang lain, mungkin pohon-pohon dan vegetasi lainnya lebih beragam daripada yang tumbuh di atas kami. Begitulah kami.

Aika: Di dalam tanah itu, rasanya seperti apa? Kesepian kah?

Gambut: Tidak juga. kami tidak hidup sendiri. Di atas kami, ada tumbuhan, ada hewan, juga kalian manusia. Di bawah tanah, kami hidup bersama bermacam hewan makrobentos atau hewan yang mampu bertahan hidup secara sebagian atau seluruhnya di endapan dasar perairan. Kita hidup berdampingan dengan baik-baik saja. Eh… ya nggak terlalu juga sih…

Asrul: Karena kamu terus digusur untuk pembukaan lahan perkebunan ya?

Gambut: Itu salah satunya. Intinya adalah kebutuhan manusia semakin meningkat. Ya, saya sebut manusia secara khusus, karena kalian lah yang aktif membuat perubahan. Selain ada juga aktivitas bumi yang secara alami berusaha menyeimbangkan keadaan, mulai dari perubahan musim sampai bencana alam.

Asrul: Saya sempat membaca buku Muhammad Noor berjudul Pertanian Lahan Gambut, Potensi, dan Kendalanya. Di situ disebutkan bahwa pembentukan gambut di Indonesia terjadi antara 6.800 sampai 4.200 tahun yang silam. Menurut saya itu luar biasa, pasti punya sejarah yang panjang. Dan membayangkan betapa sebuah proses maha panjang seperti itu bisa rusak begitu saja karena kebutuhan kita, manusia… duh…

Gambut: Ekosistem gambut itu yang ada di bawah tanah, juga lahan di atasnya dengan tumbuh-tumbuhan atau vegetasi. Ini bagian terpenting dari gambut. Dulu kami dataran biasa yang rendah tapi kemudian tergenangi air beribu tahun lamanya. Gambarannya seperti suatu lembah cekungan yang terhimpit di antara dua sungai. Jadi bentuk dataran kami yang utuh itu seperti mangkok dan kubah. Semakin tebal lapisan gambut, semakin tebal pula kubahnya.

Selain tanah, air ini menimbun materi organik seperti sisa-sisa pohon, rerumputan, lumut, dan jasad hewan yang membusuk. Karena tergenang air dan kekurangan oksigen, materi organik itu tidak terurai dengan baik. Mereka tidak menyatu sempurna dan memadat bersama tanah mineral. Tapi lantai hutan kami ini, masih tetap mampu membagikan sisa nutrisinya pada tumbuhan hidup, walaupun tidak sesubur tanah mineral. Pada ekosistem gambut, nutrisinya cenderung berputar pada wilayah itu-itu saja.

Aika: Apakah semua ekosistem gambut seperti itu? Maksud saya saudara-saudaramu di tempat lain? Kalau di Indonesia kan ada juga gambut di Riau, atau daerah lain seperti Ciamis di pulau Jawa pun dalam sejarahnya pernah ada, sebelum menjadi permukiman dan lahan pertanian. Di belahan dunia lain bagaimana?

Gambut: Beda sih, tapi kita akan fokus pada gambut di iklim tropis dulu ya, karena itu tempat saya tinggal. Gambut tropik memiliki tingkat keasaman cukup tinggi (pH 4-5).

Ada dua jenis dari gambut tropik, yaitu gambut ombrogen dan topogen.

Gambut ombrogen umumnya berada di tengah kawasan atau sekitar kubah. Ia miskin hara karena terbentuk dari tanaman pepohonan yang kadar kayunya tinggi atau nutrisinya tidak banyak. Pengaruh pasang surut air sungai atau laut tidak sampai ke sini karena kubahnya sudah tinggi. Sedangkan gambut topogen tingkat kesuburannya relatif lebih baik. Ia masih dipengaruhi pasang surut air serta air tanah. Lapisan kubah gambut topogen lebih tipis dibandingkan ombrogen.

Asrul: Air sepertinya mengambil peranan penting di sini ya?

Gambut: Betul sekali. Genangan air adalah bagian dari tubuh kami. Kamu tahu? Pada lahan gambut ini lah, kami mempertahankan stok karbon yang besar untuk menyeimbangi bumi. Selain dari vegetasi yang tumbuh di atas permukaan. Karena itu, ekosistem gambut bisa mengandung 10 kali lebih banyak karbon, dari hutan tanah mineral.

Tadi kamu juga sudah sebut, pembentukan gambut di Indonesia terjadi antara 6.800 sampai 4.200 tahun yang silam. Karena memang selama itulah proses kami terbentuk. Butuh waktu ribuan tahun hingga akhirnya kami terbentuk, dan puluhan tahun kondisi yang stabil sehingga kami dapat bertahan. Menghilangkan kandungan air dari gambut, sama saja membunuh kami. Kami juga jadi semacam cadangan air lho.

Aika: Guru Besar Ilmu Tanah, Fakultas Pertanian, Universitas Gadjah Mada Profesor Azwar Maas dalam kuliah daring bersama Badan Restorasi Gambut mengatakan, peran-peran gambut ini harus dijaga oleh manusia. Sekarang saya lebih paham maksudnya, karena fungsi utama gambut itu menyimpan karbon yang besar.

Nah, Profesor Azwar Maas bercerita juga soal Proyek Lahan Gambut (PLG). Ini proyek tahun 1995-1996. Cita-citanya adalah mencetak lahan sawah 1,13 juta hektar di Kalimantan Tengah. Nah 63% dari lahan itu, artinya sekitar 700 ribu hektar, adalah lahan gambut. Lahan gambut mau disulap jadi sawah. Alih fungsi lahan itu namanya.

Tapi ujung-ujungnya: lahan gambut rusak. Karena kebutuhan air gambut tidak diperhatikan. Duh, maafkan kami ya…

Gambut: (menarik nafas panjang dan berat atau awkward laughter) Berat rasanya mengatakan ini. Tapi beberapa perubahan yang manusia lakukan, memang bencana untuk kami, ekosistem gambut. Dan itu salah satunya.

Kelompok-kelompok manusia datang menemukan kami. Mungkin kami tampak seperti lahan yang terabaikan dan tak berfungsi. Lantas kami digunduli, dikosongkan, sehingga tersisa lahan gambutnya saja. Ada yang kemudian menggantikan vegetasi alami dengan pepohonan sejenis, komoditas perkebunan seperti kelapa sawit, hingga tanaman-tanaman pertanian untuk dikonsumsi.

Gambut: Dengan itu, beberapa kebutuhan manusia memang jadi terpenuhi. Sayangnya untuk itu, kami perlu mengorbankan hidup. Sadar atau tidak, teknik budidaya tanaman dan pengelolaan air yang dilakukan, belum cukup bijak dilakukan oleh manusia. Ketika berusaha memenuhi kebutuhannya, kebutuhan kami seringkali dikesampingkan. Kehidupan seperti direnggut secara paksa. Air mulai terpisah dari tubuh kami, sehingga membunuh sebagian dari kami.

Asrul: Saya tidak tahu harus berkata apa. Kita, manusia, dan alam seharusnya hidup berdampingan. Betul, jumlah manusia terus bertambah, artinya kebutuhan manusia terus bertambah, sementara bumi-nya ya cuma satu. Tapi justru karena itu kaan… karena bumi itu hanya satu, maka ini adalah rumah kita bersama.

Aika: Tahun 1995-1996, sudah ada Proyek Lahan Gambut yang merusak gambut. Bersamaan dengan itu, proyek-proyek swasta juga sedang masif berjalan untuk membangun Hutan Tanaman Industri (HTI) dan perkebunan kelapa sawit. Pengalihfungsian lahan ini kemudian menyebabkan kebakaran hutan lahan, dan lainnya. Sehingga terlihat betapa besar tekanan dari manusia kepada lahan gambut.

Gambut: Sebetulnya manusia dan gambut bisa kok hidup berdampingan. Seperti di Desa Mantangai Hilir di Kecamatan Mantangai, Kabupaten Kapuas, Kalimantan Tengah. Petaninya ada yang berhasil mengolah lahan gambut tanpa bakar, untuk budidaya pertanian baik kacang panjang, cabai, atau terong, juga budidaya tanaman kehutanan seperti sengon.

Aika: Tapi kalau kamu terus rusak, digerus kehidupannya, lantas apa yang terjadi? Kamu rusak dan tak bisa lagi menyimpan karbon?

Gambut: Jadi, vegetasi di atas lahan gambut itu adalah sebagian karbon yang kami simpan. Terutama dalam kayu-kayu pepohonan. Ketika ditebangi, jumlah karbonnya tentu akan otomatis berkurang. Lahan yang terbuka kemudian mempercepat penguapan genangan air di lahan gambut. Apalagi jika ada pengaturan tata air tidak bijak untuk kegiatan budidaya. Tubuh lahan kami mengering. Tumpukan sisa tumbuhan ratusan tahun lalu yang tidak terurai sempurna, dapat terpapar matahari secara langsung. Pada saat itulah kami benar-benar rusak.

Asrul: Lalu, bagaimana dengan karbon lain yang tersisa?

Gambut: Karbon ada di vegetasi yang ada di permukaan tanah, juga ada di dalam tanah. Lahan gambut mengandung karbon yang sangat besar. Sifat kimianya, mudah terbakar. Dengan musim kemarau yang sangat kering hingga lemparan api yang sengaja diberikan manusia untuk pembakaran lahan, itu akan menciptakan kebakaran besar.

Aika: Kebakaran yang besar?

Gambut: Iya. Coba kamu bayangkan spons atau kasur kapuk. Lahan gambut serupa dengan itu. Saat kebakaran terjadi, manusia bisa saja mencoba memadamkan apinya. Pada permukaan tampak api sudah hilang, tetapi di dalam lahan gambut sebetulnya api tetap menjalar, karena lahan yang terlanjur kering. Tanpa genangan air di lahan gambut, api ini sangat sulit dipadamkan. Sadar atau tidak, pembakaran ini melepaskan karbon dengan cepat ke udara.

Asrul: Guru Besar Perlindungan Hutan, Fakultas Kehutanan, Institut Pertanian Bogor, Bambang Hero Saharjo dalam suatu kuliah daring menekankan kebakaran di lahan gambut itu sulit dikendalikan.

Kebakaran itu banyak terjadi di areal konsesi. Ini adalah lahan milik negara, yang diberikan ke perusahaan, dengan izin pemanfaatan. Beberapa penyebab bencana ini misalnya ada pembakaran yang memang sengaja dilakukan dalam rangka pembukaan atau penyiapan lahan. Hingga adanya konflik atau sengketa lahan perusahaan dengan masyarakat.

Gambut: Betul, kira-kira seperti itu. Karena gambut menyimpan banyak karbon, ketika terbakar maka akan menghasilkan emisi dengan angka yang tinggi pula. Emisi ini atau lebih dikenal emisi Gas Rumah Kaca, menjadikan lapisan ozon semakin tipis. Akibatnya sinar ultraviolet lebih banyak masuk ke bumi, lalu suhu panas terperangkap di dalamnya. Fenomena ini kita sebut pemanasan global.

Aika: Kebutuhan manusia ini, entah mengapa terdengar mengkhawatirkan, jika tidak menggunakan penggelolaan lahan yang bijak. Tidak berhenti pada kisah masa lalu, saat ini pemerintah sedang merencanakan untuk mencetak lahan sawah baru, salah satunya di lahan gambut.

Profesor Maas dari Universitas Gadjah Mada ketika mendengar rencana ini menjelaskan bahwa kualitas lahan gambut itu tidak seragam, nutrisinya tidak sebanyak tanah mineral dan pengendalian airnya sulit. Artinya jika akan dimanfaatkan sebagai lahan pertanian, diperlukan sistem tata air yang kompleks demi mendatangkan air yang relatif lebih segar. Kemudian memerlukan input berupa pupuk yang harus menerapkan prinsip kehati-hatian, karena sifat tanahnya gambut itu asam.

Menurut dia, mungkin saja rencana pemerintah ini dilakukan, tetapi bukan pada hamparan yang luas, melainkan spot-spot tertentu. Harus ada kajian yang jeli sambil tetap mempertimbangkan pengalaman pahit di masa lalu. Namun dia pesimis itu bisa dilakukan.

Kepala Badan Restorasi Gambut, BRG, Nazir Foead di kesempatan lain mengklaim lahan gambut yang bisa jadi lahan pertanian nanti itu yang memang sudah terbuka, tipis gambutnya, dan langganan kebakaran. Rencananya lahan itu akan dijadikan lebih produktif dengan bantuan pemerintah. Kenapa? karena biaya pengelolaannya mahal, petani hanya mampu olah sebagiannya kalau tanpa bantuan.

Gambut: Hahahhaaa, entahlah setelah mendengar kabar itu saya bingung harus marah atau sedih atau keduanya. Manusia harusnya memiliki dasar riset yang sangat baik, sebelum memutuskan pemanfaatan lahan seperti apa yang akan dilakukan. Pengalaman kegagalan di masa lalu, tentu tak boleh dilupakan. Dan jangan salah, tidak hanya masalah alam yang timbul dari pola konsumsi manusia. Permasalahan sosial juga dialami masyarakat sekitar ekosistem alam ini, termasuk masyarakat adat.

Seperti yang terjadi di Riau. Riau memiliki total lahan gambut 4,04 juta hektar atau hampir separuh dari total wilayah Riau. Bahkan hamparan gambut di Riau itu merupakan 56% dari total gambut di Sumatra. Dari 4,04 juta hektar itu sekitar 60% sudah rusak. Kerusakan itu paling besar dipicu oleh praktik buruk investasi di sektor kehutanan yakni hutan tanaman industri dan perkebunan sawit.

Asrul: Bicara permasalahan sosial, saya ingat, FIAN Indonesia, juga menyinggung soal itu. FIAN Indonesia adalah sebuah organisasi masyarakat sipil yang mendorong hak atas pangan dan nutrisi. Ketuanya, Laksmi Savitri dalam sebuah diskusi Mei 2020, menyampaikan hasil kajian mulai tahun 2012 sampai 2018 tentang proyek-proyek kebun pangan di Indonesia.

Dari lensa ekonomi politik, salah satunya ia menemukan proyek seperti ini memunculkan jaringan relasi kepialangan. Aktor-aktor seperti broker tanah, hadir untuk memuluskan proses pembebasan lahan. Berbagai skema pembebasan lahan akhirnya terjadi. Yang terburuk yaitu kemudahan proses perampasan tanah milik masyarakat.

Gambut: Itulah tampaknya manusia-manusia yang ada di kursi kekuasaan tak memahami hal dasar ini. Padahal dengan mempertahankan kami, sama dengan mempertahankan kehidupan untuk anak cucu mereka kelak. Terkadang, aku ingin mengetahui apa sebenarnya isi dalam otak manusia-manusia itu.

Asrul-Aika: Gambut, terima kasih banyak ya.

Podcast Gambut Bakisah akan balik lagi dengan episode lain yang membuat kita lebih paham soal pentingnya gambut bagi kehidupan kita. Bukan cuma yang hidup dekat gambut saja nih yang harus peduli. Masukan atau saran, ditunggu ya. Silakan email ke podcast@kbrprime.id Sampai ketemu lagi.

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 7

Kisah Perempuan Listrik asal Semarang yang Mendunia

Kabar Baru Jam 8

Menilik Gerakan Digital Warganet Sepanjang 2020

Kabar Baru Jam 10