Tanah Kita Tanah Surga

Koes Plus sudah bilang: tanah kita tanah surga. Berkat keuletan warga juga, gambut jadi sumber aneka budidaya baru.

BERITA | NASIONAL

Kamis, 15 Okt 2020 10:43 WIB

Author

KBR

Petani di lahan gambut

Petani di lahan gambut (Foto: Antara)

Gambut adalah dataran berawa yang terbentuk dari sisa-sisa tanaman tak terdekomposisi sempurna. Karena itulah, tingkat keasaman lahan sangat tinggi. Tidak semua tanaman bisa tumbuh di atasnya. Apakah lantas lahan gambut tak bisa dimanfaatkan? Tenang… Koes Plus sudah bilang: tanah kita tanah surge. Berkat keuletan warga juga, gambut jadi sumber aneka budidaya baru. Dari hasil pertanian sampai pewarna untuk batik. Penasaran? Podcast Gambut Bakisah mengajak kita berkelana ke sejumlah desa di Kalimantan Tengah dan Sumatera Selatan. Kita akan mendengar langsung bagaimana warga memanfaatkan gambut dengan teknik budidaya yang unik.

Aika: Halo, kita bertemu lagi di Podcast Gambut Bakisah, sebuah podcast yang mengajak kita belajar, kenal dan lebih akrab lagi dengan gambut. Kerjasama KBR dengan Kemitraan. Saya Aika Renata.

Asrul: Dan saya Asrul Dwi.


Asr: Di episode sebelumnya, kita sempat berbincang - secara imajiner - dengan si gambut. Dari situ kita belajar soal karakteristik lahan gambut, dan sebagainya. Untuk pengingat saja nih, gambut tropis memiliki tingkat keasaman cukup tinggi, yaitu sekitar pH 4-5.

Aika: Jadi gambut itu sebetulnya miskin hara. Gampangnya gini: lahan gambut itu miskin ‘sumber makanannya tumbuhan’. Gambut ini nggak seperti tanah mineral. Katakanlah, tanahnya itu terbentuk dari sisa tanaman, pepohonan yang kadar kayunya tinggi dan nutrisinya nggak banyak. Hal baiknya, perlu kita ulang terus nih, ekosistem gambut mampu menyimpan karbon, sepuluh kali lebih besar dari ekosistem hutan di tanah mineral.

Aika: Kali ini, kita mau ke desa-desa nih. Kenapa? Karena yang paling dekat memanfaatkan gambut ini ya masyarakat sekitar. Tapi… tadi kan katanyagambut itu lahannya asam… tanaman susah tumbuh… lha terus gimana cara memanfaatkannya?

Asr: Oke, kita menuju ke… Kalimantan Tengah.



Asr: Kita mulai, berkenalan dengan Sumarjito. Ini adalah seorang petani di lahan gambut yang berbagi soal teknik yang diberi nama: pengelolaan lahan tanpa bakar, PLTB.

Masih inget dong… warga setempat itu menggunakan teknik membakar lahan untuk membuka lahan baru. Ini langkah yang paling praktis untuk menambah unsur hara pada tanah.

Aika: Tadi katanya tanpa bakar…

Asr: Jadi yang ditawarkan ini semacam teknik budidaya gambut yang baru gitu. Warga yang tinggal di sekitar ekosistem gambut, dapat pendampingan dari Badan Restorasi Gambut (BRG) supaya bisa hidup berdampingan dengan gambut. Pengelolaan Lahan Tanpa Bakar atau PLTB ini jadi cara untuk mengelola gambut secara berkelanjutan. Sesuai namanya, ini tanpa bakar-bakaran.

Aika: Tapikan membakar itu cara paling praktis ya untuk mengembalikan unsur hara di lahan gambut...

Asr: Nah itu tuh karena abu sisa pembakaran bisa berdampak pada meningkatnya pH dan kandungan basa tanah, sehingga tanaman bisa tumbuh lebih baik. Dengan metode baru tanpa bakar-bakar club ini, maka tanah dikasih benda yang namanya “dolomit” untuk menetralkan keasaman tanah atau menaikkan pH tanah.

Metode ini juga disampaikan Joko Waluyo, Dinamisator Desa Peduli Gambut di Kalimantan Tengah. Dinamisator itu perpanjangan tangan Badan Restorasi Gambut yang membantu meningkatkan kapasitas masyarakat di sekitar lahan gambut.

Joko:
Namanya PLTB, Pengolahan Lahan Tanpa Bakar. Caranya bagaimana? Jadi kalau mau pembersihan lahan itu secara mekanis ya. Jadi ditebang, tebas, tanpa bakar. Setelah ditebas itu kemudian si tanaman-tanaman, rumput-rumput yang kita tebas tadi, itu kita busukan dengan enzim. Ada yang mengintrodusir dengan berbagai macam pupuk cair. Tapi intinya itu semua kita mainnya mekanis atau biologis. Seminimal mungkin menggunakan kimiawi.



Aika: Dolomit ini jadi kayak semacam... pupuk gitu kali ya?

Asr: Iya, itu nutrisi tambahan. Tapi… dolomit ini harganya mahal. Jadi ada nih alternatif yang lebih murah, kata Dinamisator Desa Peduli Gambut di Kalimantan Barat, Hermawansyah.

Wawan:
Masalahnya kapur dolomit ini mahal mbak. Satu hektar itu butuh sekitar 2 ton. Kalau karung pupuknya yang 50 kilo, satu karung Rp45.000, maka kebutuhan satu hektar itu sekitar 1,8 juta rupiah. Nah, makanya BRG mengenalkan metode PLTB dengan penggunaan mekanisasi dan bahan-bahan organik gitu ya. Itu misalnya kalau di Kalbar yang sekarang juga sudah mulai dikembangkan di provinsi yang lain, dengan yang namanya pupuk F1 Embio, itu cuma dengan Rp50.000, itu bisa meng-cover kebutuhan pupuk satu hektar misalnya. Itu kan murah meriah.

Aik: Uwoo, apa lagi nih F1 Embio.



Asr: Jadi F1 Embio ini pupuk organik, dibuat oleh tokoh penyuluh pertanian lokal. Ini diperkenalkan oleh Badan Restorasi Gambut BRG lewat program Sekolah Lapang. Manfaatnya: meningkatkan organisme tanah. Ini bagus untuk keseimbangan sistem ekologi dalam tanah, merombak sisa organik tanah sampai mengurangi keasaman tanah.

Aik: Jadi kita rangkum nih. PLTB alias Pengelolaan Lahan Tanpa Bakar hadir sebagai solusi pengelolaan lahan gambut yang berkelanjutan. Untuk itu butuh dolomit. Eh dolomit mahal, jadi deh diganti dengan F1 Embio.

Aik: Sejak itu masyarakat jadi yakin dong ya… kalau nggak usah bakar-bakar lahan dulu untuk kelola gambut… Ini kata Wawan, Dinamisator Desa Peduli Gambut di Kalimantan Barat.

Wawan:
Petani sudah mulai yakin dengan pendekatan BRG, kemudian kembali mereka semangat untuk mengelola lahannya yang sebelumnya terlantar. Karena kan pasca Karhutla 2015, kan itu lahannya banyak terlantar. Fasdes masuk, kemudian dengan kegiatan sekolah lapang, itu yang dikenalkan dengan metode PLTB, kemudian menghasilkan gitu ya. Mereka panen cabai, jahe, terong, tomat dan tanaman hortikultura yang lain.

Aika: Hasil panen sayur-sayuran ini secara umum cukup oke juga di daerah-daerah lain. Misalnya di Desa Bumi Agung, KecamatanLalan, Kabupaten Musi Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan. Ini membuat warga mandiri, bisa makan sayur dari tanah sendiri. Ini kata fasilitator Desa Peduli Gambut, Dina Mathius Ferdinand.

Mathius:
Yang dikembangkan oleh masyarakat ini tanaman-tanaman sayuran itu kan, tanaman kebutuhan sehari-hari. Jadi selama ini, jangankan desa ini, dulu satu kecamatan ini kalau untuk kebutuhan sayur, mereka dikirim dari luar kota, dari Jambi, dari Bengkulu. Tapi semenjak mereka ada demplot-demplot ini yang mulai berkembang, Demplot dan inilah yang sekarang saat ini menyuplai hampir seluruh kecamatan di Lalan.

Asr: Eaaaa… demplot. Apalagi ini?

Aika: Demplot ini singkatan dari Demonstration Plot. Semacam area percobaan gitu. Soalnya kan fasilitator desa seperti Mathius ini datang ke suatu desa, kulonuwun, lalu mengajak warga untuk tidak lagi tergantung pada pupuk kimia atau cara-cara lain yang tidak berkelanjutan.

Asr: Betul juga ya. Harus lihat contoh dulu gitu baru yakin. Soalnya kan Mathius ini “orang baru” yang datang ke suatu desa dan menawarkan gagasan baru. Tentu nggak mudah juga diterima kan…

Aika: Betul. Karena itu dibangunlah Demplot atau Demonstration Plot, oleh BRG juga warga setempat.

Mathius:
Akhirnya setelah demplot ini berhasil, dan yang mengurus demplot ini secara kehidupan juga ada perubahan, setidaknya kebutuhan itu juga. Ini lah yang menjadi daya tarik mereka semuanya. Jadi satu kampung itu yang awalnya ditanami kelapa sawit, akhirnya beralih merubah jadi tanaman-tanaman sayur itu.



Aika: Tadi kita sudah belajar soal demplot, dolomit dan teman-temannya… yang membantu warga mandiri soal pangan. Ada contoh lagi nggak nih?

Asr: Pernah dengar orang makan teratai?

Aika: Wah… Taunya Suzana nih yang makan melati…



Asr: Jadiya… kalau kamu main ke desa-desa yang punya areal gambut, maka patut dicoba nih: produk olahan biji teratai.



Asrul: Ingetkan kalau teratai tumbuh di air yaa…

Aika: Tentuu. Kita dengerin dulu soal inovasi biji teratai ini dong bersama fasilitator desa, Namanya Yeni Kusuma. Dia bertugas mendampingi warga di Desa Sungai Namang, di Kecamatan Danau Panggang, Kabupaten Hulu Sungai Utara, Kalimantan Selatan.

Yeni:
Biji teratai yang ada itu digiling dulu kayak benih gitu loh. Kan bulat-bulat kalau biji teratai, itu digiling ke penggilingan, kayak padi juga. Baru nanti ada yang digunakan alat, ditembak dikecilkan lagi. Itu dikecilkan lagi supaya jadi tepung, dari itu dijadikan kue. Tapi dari yang kemarin kami latih itu ada 4 jenis kue yang dibikin. Itu ada yang namanya kue talipuk original, kemudian ada kue talipuk coklat, kemudian ada kue kelemben yang berbahan talipuk juga atau biji teratai tadi, kemudian ada biskuit talipuk. Jadi ada empat jenis yang dihasilkan oleh desa dari biji teratai tadi.

Asr: Baiklah… biji teratai jadi kue dan biskuit yaaaa….

Yeni:
Jadi kalau kalau biji teratai yang original itu biasanya yang dari dibikin kayak jagung.Itu digoreng supaya membesar. Kalau talipuk yang coklat itu tinggal dikasih coklat aja. Nah kalau kelemben itu yang agak rumit. Karena harus dijadikan tepung terlebih dahulu oleh mereka, baru bisa diproses untuk dibikin kue kelemben yang kecil-kecil.Kemudian kalau biskuit, biskuit ini biasanya tergantung model cetakannya. Jadi ada berbagai cetakan untuk membuat yang biskuit tadi.
Aik: Aduh.. Penasaran banget sih pengen coba. Kalau pandemi Covid-19 ini udah selesai, langsung deh meluncur ke sana deh..

Asrul: Ada juga produk lain nih yang kabarnya akan diproduksi masyarakat, dengan memanfaatkan lahan gambut. Coba kita dengar dulu cerita dari Dinamisator DPG untuk provinsi Kalimantan Selatan, Eni Maslahah ya.

Eni:
Hari ini, Fasdes Herli dari Kalsel sedang belajar bersama dengan masyarakat di desa Banua Hanyar untuk mengolah keladi. Kalau bahasa lokal adalah keladi itu talas untuk dijadikan olahan, produk olahan. Nah memang potensi di lahan gambut di sini banyak kebun-kebun keladi dan itu belum dijadikan olahan produk makanan. Jadi masih dijual barang mentah di pasar, di ibu kota Kabupaten.Nah kami mencoba itu menjadikan olahan pangan yang bisa menaikkan untuk nilai jual nilai talas. Dan juga sebagai potensi unggulan desa ya, menjadi produk unggulan desa.

Asrul: Nah kalau yang sudah diproduksi Kalimantan Selatan, ada namanya serat alam yang dihasilkan dari tanaman purun. Ini purun yang sama dengan yang buat bikin sedotan itu lho. Dan… nggak berhenti di situ saja. BRG, kata Eni, terus berupaya mengembangkan kapasitas masyarakat hingga kualitas produk itu sendiri.

Eni:
Pertama kita meningkatkan kapasitas pengrajin untuk meningkatkan kualitas produk, yang kedua kita menguatkan kelembagaannya. Kelembagaannya seperti koperasi. Kita sedang sedang menginisiasi dan mengajak beberapa kelompok pengrajin purun untuk membuat koperasi pengrajin, koperasi produksi. Yang itu nanti kita link-an dengan desa-desa yang penyedia bahan bakunya.

Aika: Ih takjub aku tuh. Ada lagi nggak? Ada lagi nggak?

Asrul: Ada dong. Ini bisa jadi ‘oleh-oleh’ yang bisa kita bawa pulang, setelah main ke desa-desa gambut. Ada batik sasirangan. Ini bukannya kain batik berasal dari tanaman di lahan gambutnya… tapi pewarna alam dikembangkan dari lahan gambut. Ini yang dilakukan masyarakat DPG di Kalimantan Selatan.

Eni:
BRG mencoba memunculkan kembali untuk pengolahan pewarna alam. Kita sudah punya empat kelompok sasirangan pewarna alam. Dan sudah dijadikan bentuk usaha ya. Ini sudah satu tahun ini mereka melakukan usaha itu. Dan sudah menghasilkan ratusan produk kain sasirangan alami, yang dipesan oleh pemerintah daerah, kemudian di pameran. Bahkan pameran kemari di Banjarmasin, kita mendapatkan stand untuk daerah Hulu Sungai Utara yang memamerkan produk sasirangan pewarna alam dari produk desa gambut, mendapatkan juara. Juara stand yang dengan kriteria stand yang memamerkan produk ramah lingkungan dan yang berbasis komunitas anak muda.

Aika: Nah kan. Banyak banget loh ya manfaat si gambut ini. Kalau masyarakat punya pengetahuan dan kemampuan baru, jadi punya cara baru juga untuk memanfaatkan lahan gambut. Inikan bagian dari upaya menjaga ekosistem gambut toooh…

Asrul: Itu dia.. Kita jaga gambut, gambut jaga kita…

Aika: Eh… jadi laper nih… Apa kita pesan online aja itu biskuit biji teratai ya..

Podcast Gambut Bakisah akan balik lagi dengan episode lain yang membuat kita lebih paham soal pentingnya gambut. Masukan atau saran, ditunggu ya. Silakan email ke podcast@kbrprime.id Sampai ketemu lagi!

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Valentino Rossi Akan Kembali Ke Arena Balap Pada MotoGP Eropa

Kisruh Rencana Pengadaan Mobil Dinas Pimpinan KPK

Kabar Baru Jam 7

Nakesku Sayang, Nakesku Malang

Eps3. Ketika Burgermu Memanaskan Bumi