Setahun Menjabat, Ini Penyebabnya Federasi Guru Beri Nadiem Rapor Merah

"Ada banyak nilai merah baik bantuan kuota belajar merah, hibah merah, relaksasi BOS merah, pembelajaran jarak jauh atau PJJ"

BERITA | NASIONAL

Senin, 26 Okt 2020 06:06 WIB

Author

Astri Septiani

Setahun Menjabat, Ini Penyebabnya Federasi Guru Beri Nadiem Rapor Merah

Mendikbud Nadiem Makarim saat Raker dengan Komisi X DPR Kamis (3/9). (Antara/Akbar Nugroho)

KBR, Jakarta- Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI) memberikan rapor merah setahun kinerja Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim. Sekjen FSGI Heru Purnomo mengatakan hal tersebut dilihat dari tak tercapainya kriteria ketuntasan minimum (KKM) sebesar 75 untuk 8 program yang diluncurkan Nadiem dalam setahun ini.

FSGI selama satu tahun melakukan pemantauan kinerja dan memiliki sejumlah data survei    Kinerja dengan menggunakan Kriteria Ketuntasan Minimum (KKM) sebesar 75.

"Ada banyak nilai merah baik bantuan kuota belajar merah, hibah merah, relaksasi BOS merah, pembelajaran jarak jauh atau PJJ merah, program organisasi POP merah. Dari 8 poin itu setelah kami kumulasikan maka rata-ratanya itu adalah 68. Dengan 68 itulah di bawah KKM. KKM 75 nilainya cuma 68," kata Heru pada konferensi pers daring, Minggu (25/10/20).

Menurut penilaian FSGI kebijakan kurikulum darurat mendapatkan nilai 80 dengan predikat tuntas. Kebijakan Belajar Dari Rumah (BDR) atau pembelajaran jarak jauh (PJJ) mendapat nilai 55 atau tidak tuntas.

Keempat kebijakan lainnya juga dinilai tidak tuntas yakni hibah merek Merdeka Belajar mendapat nilai 60, bantuan kuota internet diberi nilai 65, program organisasi penggerak (POP) mendapat nilai 50 dan relaksasi dana BOS mendapat nilai 60.

Kebijakan rencana assesmen nasional mendapat nilai 75 atau tuntas. Sementara itu ada satu kebijakan yakni penghapusan Ujian Nasional/USBN yang diberi nilai sempurna atau 100 oleh FSGI karena dinilai sangat tepat.

Editor: Rony Sitanggang

 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 7

Kisah Perempuan Listrik asal Semarang yang Mendunia

Kabar Baru Jam 8

Menilik Gerakan Digital Warganet Sepanjang 2020

Kabar Baru Jam 10