Menyesap Kopi Liberica

Desa Gandang Barat ini, salah satu Desa Peduli Gambut (DPG), program pembangunan yang ada di pedesaan gambut, khususnya di dalam dan sekitar areal restorasi gambut

BERITA | NASIONAL

Kamis, 15 Okt 2020 10:16 WIB

Author

KBR

Menyesap Kopi Liberica

Liberika memberikan rasa asam dan manis sedikit mirip arabika, tetapi memberikan kesan fruity setelah diteguk. Untuk aroma yang dikeluarkan, kopi ini mempunyai aroma seperti pohon nangka. Ini kopi yang beli di Desa Gandang Barat, Kec. Maliku, Kab. Pulang Pisau, Pas jalan ke kalimantan tengah kemarin. Desa Gandang Barat ini, salah satu Desa Peduli Gambut (DPG), program pembangunan yang ada di pedesaan gambut, khususnya di dalam dan sekitar areal restorasi gambut. Podcast Gambut Bakisah kali ini bercerita soal kerjasama antardesa yang ada dalam satu bentang alam Kesatuan Hidrologis Gambut.

Asrul: Gimana rasanya?

Aika: Rasanya.. pahit… Indonesia banget sih rasanya.

Asrul: Gimana itu rasanya Indonesia banget….

Aika: After taste-nya agak asam di ujung begitu…

Asrul: Ini kopi yang beli di Desa Gandang Barat, Kec. Maliku, Kab. Pulang Pisau, Pas jalan ke kalimantan tengah kemarin. Desa Gandang Barat ini, salah satu Desa Peduli Gambut (DPG), program pembangunan yang ada di pedesaan gambut, khususnya di dalam dan sekitar areal restorasi gambut. Pendekatan yang digunakan adalah merajut kerjasama antar desa yang ada dalam satu bentang alam Kesatuan Hidrologis Gambut.

Aika: Fruity, fruity gitu lho rasanya…

Asrul: Ini sebetulnya kita bahas kopi atau gambut yaa..

Asrul: Kopi yang dikasih merk Petak Sahep Gadabar, petak sahep itu lahan gambut dalam bahasa lokal, diproduksi sekelompok ibu-ibu di desa Gandang Barat. Mereka ini bikin usaha kopi ini. Di pekarangan rumah itu juga ada kopi gitu.

Aika: Oh.. keren ya.

Aika: Itu suara apa ya?

Asrul: Itu suara roasting kopi. Masih sederhana itu alat yang dipakai. Bahannya dari Stainless Steel, bentuknya kayak kaleng susu lha, terus pemanasnya pakai kompor gas itu. Biar merata, alat sangrainya diputar secara manual, ada pedalnya gitu sih. Sekali dia nge-roasting atau menyangrai, itu bisa sampai 3-5 kilogram kopi, dipedal pakai tangan.

Aika: Wah pakai tangan… capek yaa..

Asrul: Lha itu, manual banget memang itu caranya.

Purwanti:
Sepengalaman saya selama di sini, untuk proses seperti ini, kami tahunya hanya tanam, petik, panen. Gitu saja.

Asrul: Ini Ibu Purwanti, dari kelompok ibu-ibu yang mengolah kopi ini.

Purwanti:
Untuk memperoleh hasil yang lebih banyak, yang lebih bagus, kami nggak tahu caranya. Ini seadanya saja, ini lho yang dicari yang harus bagus itu kami tidak tahu. Saya kok kayaknya tertarik untuk meningkatkan harga dan kualitas kopi supaya lebih baik.

Asrul: Masyarakat di sini menanam kopi secara sengaja untuk jadi penghasilan atau gimana?

Purwanti:
Ya, memang disengaja.

Aika: Tanaman kopi, khususnya Liberika diperkenalkan sejak tahun 1980-an, barengan dengan program transmigrasi. Kopi liberika (Coffea liberica) dipilih lantaran kemampuannya beradaptasi dengan baik di tanah gambut, liberika bahkan dibilang sebagai kopi khas gambut.

Purwanti:
Di sini kan bagus, tanpa dipupuk pun kopi bisa tumbuh bagus. Hasilnya pun bagus. Tanpa pupuk, tanpa obat. Jadi orang-orang tertarik untuk menambah perekonomian ibu-ibu. Sebelum kerja, sekadar sampingan sih kopi ini, karena kopi nggak setiap hari panen. Jadi ini untuk sampingan dan tabungan.

Asrul: Ada kesulitan saat awal belajar?

Purwanti:
Sangat sulit. Karena ini kan baru, sementara ibu-ibu di sini kan sudah lama. Kami di sini kan harus lihat kondisi kopi, serta peroleh harga yang bagus. Sementara ibu-ibu di sini panennya kan asal. Padahal yang warnanya hijau, ada rasa nggak enak. Nah di sini dibutuhkan kopi yang betul-betul matang. Kalau yang hijau, dibuang. Awalnya ibu-ibu nggak mau terlibat karena belum paham, belum tahu harga, nggak tahu harga yang bagus itu berapa, harga tengkulak yang masuk ke sini tuh berapa, belum tahu harga. Paling kami bisa membedakan selisih harga. Kalau kopinya bagus, kita berani menaikkan harga Rp 1.000.

Aika: Pengelolaan dan pengemasan kopi ini termasuk program revitalisasi pencaharian masyarakat di sekitar gambut ya?

Asrul: Betul banget. Program pemulihan gambut dari kebakaran hutan dan lahan itu ada 3 nih: rewetting, revegetation & revitalization. Nah ini termasuk revitalisasi di bidang ekonomi. Orang yang pertama kali melihat potensi kopi ini adalah Kurnia, fasilitator di Desa Gandang Barat.

Kurnia:
Kebetulan waktu tahun 2018, ada dari seniman pangan, Mas Ulin Japara yang ajarin langsung ke petani, bagaimana perawatan biji kopi, bagaimana pengelolaan pasca panen. Dari situ petani yang diajak, mulai mengerti bagaimana memelihara kebun, bagaimana supaya hasil biji kopi bagus. Ada yang mengikuti, ada yang masih berproses. Ada yang masih berpendapat kalau cara mereka adalah yang mudah, mereka nggak mau ribet karena masyarakat maunya kan instan.

Asrul: Dan mereka juga belum tahu potensi ekonominya ya.

Kurnia:
Iya, mereka belum tahu kalau potensi ekonominya besar.

Asrul: Kayak dulu, meyakinkan masyarakat untuk terlibat, bagaimana caranya?

Kurnia:
Saya koordinir 4-5 orang untuk sortir kopi dan penuhi pesanan. Saya ajarin gimana cara memilah biji kopi mana yang bagus dan tidak. Saya tidak punya basic sebetulnya, saya belajar sendiri, belajar dari internet, bagaimana memilah kopi.

Asrul: Sekarang sudah berapa orang?

Kurnia:
Sekarang sudah 8 orang. Hari ini ada 4 orang yang datang, sisanya 4 orang punya kegiatan lain.

Asrul: Sekarang seminggu bisa olah berapa banyak?

Kurnia:
Seminggu ini sudah produksi 100 bungkus. Sisanya kami mau pasarkan dan jual di warung-warung. Orang lewat, mampir, pesan kopi. Warung juga sudah pesan, minta kopi untuk di warung mereka.

Asrul: Kopi beli dari masyarakat kan?

Kurnia:
Ya, kalau harga kami ikuti harga pasar. Kami lebihkan Rp 1000, karena kami lihat dulu dari hasil kopinya. Jika metik hasil kopinya merah semua, harganya lebih tinggi. Ini supaya mereka punya motivasi gitu ‘Oh kopiku bagus, dibeli dengan harga tinggi’. Dari situ, kami edukasi lagi. Untuk pisah biji kopi, petik biji kopi yang merah saja.

Asrul: Semacam insentif ya untuk jerih payah mereka…

Kurnia:
Ya. Kami awalnya beli kopi ke rumah-rumah warga, karena mereka terbiasa dengan tengkulak. Sekarang, kalau mereka mau jual kopi, tidak cari tengkulak tapi antar ke sini.

Asrul: Panennya tidak ada waktu khusus?

Kurnia:
Panen bulan Mei sampai Agustus. Untuk musim sekarang ini, buah kopi masih muda, masih berwarna hijau.

Asrul: Ada pola tanam khusus untuk kopi liberica di lahan gambut?

Kurnia:
Tidak ada pola tanam khusus. Mereka tanam di pekarangan, itu pun tidak ada jarak tanam. Ada biji kopi jatuh, tumbuh, dibiarkan besar, berbuah… kopi yang sebelumnya tua, ditebang. Begitu saja pola tanamnya. Pemupukan atau pemangkasan itu tidak ada.

Asrul: Ini potensial sebetulnya walaupun hanya tanaman pekarangan saja…

Kurnia:
Saya melihat ke aspek bisnisnya. Kopi selalu punya pasar, hanya saja bagaimana kita memperoleh dan memproduksinya. Di mana pun, orang pasti produksi kopi. Dari berbekal ilmu wirausaha, di situ warga mulai tertarik untuk menularkan ilmu itu ke ibu-ibunya. Jadi kopi bukan dipandang sebagai minuman di rumah, tapi juga sebagai pendapatan walaupun nggak besar.

A : Siapa tuh Nia

B : Di tiap DPG, terdapat fasilitator desa yang bertugas melakukan dampingan. Nia yang disebut Bu Purwati adalah Kurnia, fasilitator desa Gandang Barat. Nanti kita kenalan bareng di ya.

A : Masih sering ketemu sedotan plastik atau nggak kalau pas lagi ngopi-ngopi?

B : Masiih, bahkan beberapa cafe atau kedai kopi waralaba yang gede, masih menyediakan sedotan plastik. Meskipun, itu jadi pilihan aja buat konsumen. Mau ngambil atau nggak.

A : Eh ada juga kan, yang menyediakan sedotan yang nggak sekali pakai atau bukan terbuat dari plastik.

B : Pernah lihat sedotan purun?
Penampakannya kayak sedotan bambu, cuman tanamannya masih sodaran sama rerumputan.

A : rumput kan batangnya kecil.

B : Diameternya sih lebih kurang sama kayak sedotan plastik, tapi ada yang agak gedean dikit. Jadi Purun ini, tepatnya Purun Danau (Lepironia articulata) memang berongga kayak bambu.

Purun danau menyebar luas mulai dari Madagaskar, Srilangka, Indocina, Cina Selatan, Thailand, Kawasan Malesia, hingga pesisir Australia utara dan timur, Kaledonia Baru, hingga Fiji. Di Indonesia didapati di Sumatra, Bangka, Kalimantan, Sulawesi (Danau Towuti), Maluku (Sula, Taliabu, Buru), dan Nugini.

CARA BIKIN SEDOTAN

B : Kita ke Desa Tumbang Nusa, Kec. Jabiren Raya, Kab. Pulang Pisau, Kalimantan Tengah. Di sana ada sekelompok ibu-ibu yang bikin sedoran ramah lingkungan dari Purun.



A : Itu tadi suara Ibu Kumala, salah seorang warga Desa Tumbang Nusa yang bergabung dalam kelompok yang memanfaatkan dan mengolah purun. Bu Kumala lagi cerita perkara pemanfaatan purun di sana.



Kalau bikin anyaman relatif lebih sulit, sementara bikin sedotan itu prosesnya lebih sederhana dan gampang. Para Ibu di sana baru mulai produksi sedotan di bulan november akhir tahun lalu.



Itu dulu untuk episode kali ini.

Episode berikutnya, kita bakal masih bagi-bagi cerita dari desa yang ada di atau berdekatan dengan lahan gambut.

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Valentino Rossi Akan Kembali Ke Arena Balap Pada MotoGP Eropa

Kisruh Rencana Pengadaan Mobil Dinas Pimpinan KPK

Kabar Baru Jam 7

Nakesku Sayang, Nakesku Malang

Eps3. Ketika Burgermu Memanaskan Bumi