Masyarakat Peduli Api

Begitu api melalap area bergambut, penyebarannya sulit dikendalikan. Alhasil, karbon yang semula mengendap dalam gambut, mendadak terlepas begitu saja ke udara.

BERITA | NASIONAL

Selasa, 20 Okt 2020 17:53 WIB

Author

KBR

Pemadaman kebakaran lahan gambut

Pemadaman kebakaran lahan gambut (Foto: Antara)

Apakah ancaman utama gambut? Kebakaran hutan dan lahan, karhutla. Begitu api melalap area bergambut, penyebarannya sulit dikendalikan. Alhasil, karbon yang semula mengendap dalam gambut, mendadak terlepas begitu saja ke udara. Garda terdepan penjaga lahan gambut, tak lain tak bukan: warga. Podcast Gambut Bakisah masih mengajak kita berkelana ke berbagai desa, dan melihat aksi langsung warga menjaga gambutnya.

Narasumber Badan Restorasi Gambut,Dinamisator untuk provinsi Kalteng, Kalbar serta Fasilitator Desa (Fasdes) Desa Peduli Gambut (DPG) Dari Rokan Ilir.

Aika: Halo, kita bertemu lagi di Podcast Gambut Bakisah, sebuah podcast yang mengajak kita belajar, kenal dan lebih akrab lagi dengan gambut. Kerjasama KBR dengan Kemitraan. Saya Aika Renata.

Asrul: Dan saya Asrul Dwi.

Aik: Srul, tahu kan kalimat-kalimat yang cukup jamak dilekatkan pada Indonesia, yang mestinya bikin kita merasa beruntung dan bersyukur ya. Misalnya nih… Indonesia punya beraneka ragam suku, bangsa dan bahasa… kulinernya kaya… rempah melimpah…

Tapi ada satu lagi keberuntungan Indonesia yang jarang disebut.

Asr: Apa nih.

Aik: Punya gambut!

Asr: Eh iya juga ya. Ekosistem gambut tidak mudah ditemui di berbagai belahan dunia lho. Wilayah yang punya gambut berarti kekayaan alamnya masih terjaga. Ini kita banget nih…

Aik: Tapi kan ya ada sekarang, bukan berarti selamanya juga bakal ada. Ngga ada yang abadi gitu ya? Kemarau nih.. artinya, kebakaran hutan dan lahan juga mengintai. Ini langganan banget nih bagi lahan gambut di Indonesia… dan ini bukan langganan yang menyenangkan ya. Kalau langganan spa atau langganan layanan streaming film sih oke ya wak.

Asr: Sampai September 2019, kebakaran hutan dan lahan di Indonesia, mencapai 800 ribu hektar lebih yang terdiri dari 600 ribuan lahan mineral dan 200 ribuan hektar di lahan gambut. Angka ini naik meningkat 160% jika dibandingkan luasan pada bulan Agustus di tahun yang sama

Aik: Core of the core dari langkah yang harus kita lakukan kalau kita nggak mau ketemu angka kebakaran hutan dan lahan yang makin besar adalah… pen-ce-ga-han.

Aika: Aduh ngeri deh kalau udah denger bunyi api-api gini. Apalagi kalau liat foto-foto orang utan dan satwa lain yang terbakar. Mereka harusnya bisa hidup damai, terpaksa harus diungsikan karena habitat asli mereka habis dilalap api. Ingat juga soal bangkai ular phyton yang terbakar di hutan kalimantan kan? Sedih deh

Asr: Indonesia punya Badan Restorasi Gambut (BRG). Ini lembaga yang secara khusus ditugaskan untuk menjaga gambut. Berdiri pada tahun 2016 dan salah satu program yang keren banget adalah Desa Peduli Gambut, DPG.

BRG. DPG. Jangan keliru ya.

Aika: Karena judulnya “desa”, maka ini pendekatannya lokal banget. Dan tentunya, melibatkan warga di desa itu.

Asr: Iya..Jadi DPG itu bisa dibilang sebuah program pembangunan desa. Wilayahnya menjadi prioritas restorasi gambut. Warga dapat pengetahuan baru, kapasitas baru, terus bisa aktif jaga gambut deh.

Kepala Sub Kelompok Kerja Peningkatan Partisipasi Desa Gambut, Badan Restorasi Gambut (BRG), Muhammad Yusuf, bisa lebih menggambarkan untuk apa sih ada DPG.

M. Yusuf:

Badan Restorasi Gambut (BRG) percaya bahwa kunci sukses restorasi gambut itu tidak mungkin tanpa pelibatan seluas-luasnya masyarakat di daerah target restorasi gambut. Karena itu BRG meluncurkan program yang namanya 'Desa Peduli Gambut' (DPG). Bagaimana menjalankan DPG? Ruhnya adalah pendampingan. Bagaimana menghimpun partisipasi, bagaimana melakukan sosialisasi, bagaimana melakukan edukasi di tingkat warga.

Aika: Nah yang melakukan pendampingan namanya Fasdes, alias Fasilitator Desa. Yang kasih arahan kepada Fasdes ini adalah Dinamisator, yang bertanggung jawab atas pendampingan di suatu provinsi.

Ingat ya. Ada fasilitator. Ada dinamisator.

M. Yusuf:

Jadi para fasilitator lah yang melakukan ujung tombak ceritanya. Ujung tombak bagaimana melakukan partisipasi, bagaimana meng-adjust-kan program DPG. Jadi mereka live in, mereka harus tinggal bersama keluarga selama 10 bulan kurang lebih, bahkan ada yang lebih dari dua tahun pada desa yang sama gitu ya. Tapi kebanyakan juga harus pindah-pindah. Hidup bersama warga, menghayati problem yang ada di mereka, kemudian bagaimana merumuskan aksi bersama, bersama Pemerintah Desa tentunya, untuk melakukan pemulihan dan pemanfaatan ekosistem gambut secara berkelanjutan.

Asrul: Hidup bersama. Menghayati. Merumuskan aksi bersama. Nah ini memang langkah yang penting nih karena setiap daerah kan punya karakteristik masyarakat yang beda. Jadi mesti betul-betul sesuai kebutuhan daerah dan masyarakat tersebut. Masyarakat di situ pun beragam juga – ada yang memang berasal dari daerah itu, ada juga yang pendatang. Yang menyatukan mereka ya si gambut itu. Tepatnya, restorasi gambut.

Aika: Kuncinya adalah mendapatkan kepercayaan masyarakat dan pemerintah desa. Tanpa itu, fasdes mati gaya. Nggak bisa ngapa-ngapain. Abis itu baru deh mulai ngobrol, bicara, diskusi – menjembatani kebutuhan desa dengan program yang dijalankan pemerintah.

M. Yusuf:

Teman-teman ini lah yang menjadi representasi kehadiran negara begitu ya di tingkat tapak, di tingkat desa. Karena program pemerintah, walaupun dikemas dalam pendekatan yang sangat basis base gitu ya, berbasis masyarakat.

Asrul: Oke, sekarang kita bahas aksi lapangan. Desa Peduli Gambut ini kan tujuannya untuk, sesuai namanya, melindungi gambut. Termasuk pencegahan kebakaran hutan dan lahan dong…

Aika: Harus. Apalagi api kan musuh utama gambut banget ya. Nah, salah satu hal dasar yang diajarkan ke warga adalah Pengolahan Lahan Tanpa Bakar, PLTB. Jadi buka lahan gambut yang anti bakar-bakar club itu. Begini nih penjelasan dinamisator DPG di provinsi Kalimantan Tengah, Joko Waluyo.

Joko:

Kita introdusir di semua desa tentang PLTB itu. Karena intinya kita dimandatkan oleh Presiden untuk mencegah, pencegahan. Jadi BRG itu pencegahan kebakaran. Oleh karena itu kita harus dorong, bagaimana mengintrodusir teknologi tanpa bakar. Jadi kita bukan melarang orang bercocok tanam. Karena masyarakat harus hidup kan. Mereka tinggal di situ.

Asrul: Yang juga penting adalah mengajak semua orang peduli. Terutama mereka yang tinggal di sekitar area gambut ya.

Analoginya gini nih, dengan orang yang tinggal di tepi sungai. Kalau sungai ada di sisi belakang rumah, orang banyak yang cuek tuh buang sampah ke sungai. Soalnya kan sampahnya gak keliatan, ada di belakang. Nah begitu rumah menghadap ke sungai, nggak jadi buang sampah sembarangan deh. Kan keliatan, di depan mata.

Aika: Jadi ada kepedulian gitu ya, karena ini rumah bersama. Karena itu pen-ce-ga-han adalah kontji. Dan salah satu kontji-nya adalah M-P-A.

Asrul: Masyarakat Peduli Api.

Ini tugas MPA, menurut fasdes DPG di Desa Rantau Panjang, Kecamatan Simpang Hilir, Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat, Syarifah Ashria.

Syarifah:

Mereka bergerak untuk monitoring, untuk melakukan pemeliharaan. Selain itu juga MPA itu mereka juga mensosialisasikan kepada masyarakat juga, bagaimana PLTB, bagaimana Pengolahan Lahan Tanpa Bakar. Sebenarnya itu dari MPA sendiri agendanya bukan cuman pencegahan sih. Mereka juga mensosialisasikan tentang lahan gambut itu sebenarnya tanpa dibakar itu bisa diolah.

Aika: Lagi-lagi PLTB disebut ya. Tapi tadi dia bilang MPA melakukan pemeliharaan. Pemeliharaan apa ya?

Asrul: Pemeliharaan infrastruktur yang berfungsi menjaga gambut tetap basah. Jadi sederhananya begini. Gambut itu kan ekosistem berawa gitu ya, basah. Api sebetulnya nggak akan menyala di daerah yang berair. Karhutla bisa terjadi kalau kondisi gambut itu kering.Makanya, kebasahan gambut jadi kunci pencegahan Karhutla juga. Infrastruktur yang mendukung di antaranya sumur bor dan sekat kanal.

Aika: Kayak gimana sih cara kerja sumur bor itu?

Asrul: Jadi sumur bor itu sistemnya memompa cadangan air tanah, untuk kemudian disiramkan pada daerah-daerah gambut yang tingkat kebasahan dan kelembabannya kurang, apalagi pada musim kemarau. Fungsi lain dari sumur bor, sebagai sumber air untuk pemadaman kebakaran.

Asrul: Nah kalau sekat kanal, tugasnya untuk mendukung pengelolaan tata air. Jadi kanal tuh disekat, supaya air gambut yang keluar bisa dialirkan ke tempat lain yang perlu dibasahi. Dengan begitu, daya simpan air pada gambut lebih tinggi dan bisa mencegah penurunan permukaan air.

Makanya tadi ditekankan, pemeliharaan itu jadi tugas pentingnya MPA. Syarifah membagikan cerita keberhasilan MPA, di desa Pulau Kumbang, saat dia bertugas tahun 2019.

Syarifah:

Nah kalau keberhasilan itu kalau Pulau Kumbang itu kan, itu dia punya lahan gambut 66% dari luasan lahan desa. Kemudian yang terbakar itu 33%. Alhamdulillah dengan adanya PLTB yang memberikan contoh ke masyarakat gitu kan, masyarakat mulai semangat lagi pengolahannya yang awalnya trauma, itu dengan keberhasilan demplot PLTB itu menjadi contoh jadi tidak ada lagi sih kebakaran. Di 2019 tidak ada lagi kebakaran.

Aika: Ngomongin infrastruktur, itu kan butuh modal yang besar banget ya. MPA dibentuk Kepala Desa, berarti anggaran pembangunan dari desa juga?

Asrul: Kan ada nih Dana Desa, yang dapat dari pemerintah pusat. Fasdes akan mendampingi desa untuk gimana nih cara kelola dana desa ini. Misalnya, mendorong integrasi antara kebutuhan pemulihan gambut dengan kebutuhan desa. BRG punya strategi 3R dalam pemulihan gambut tadi, yaitu Rewetting atau pembasahan, Revegetasiatau penanaman kembali, dan Revitalization of local livelihoods atau peningkatan kesejahteraan masyarakat.

Jadi ini dicocokin gitu dengan kebutuhan desa, yang juga punya rencana anggaran. Bentuknya adalah Rencana Kerja Pemerintah, RKP, Desa.

Tugasnya fasdes adalah semacam melobi gitu, supaya program restorasi gambut masuk juga di dalam rencana anggaran desa. Karena itu, warga mesti diajak kenal akan potensi dan kondisi gambut di desa mereka.

Nih ada cerita dari fasilitator DPG di Desa Bagan Tengah, Kecamatan Bangko, Kabupaten Rokan Hilir, Riau, Irwandi.

Irwandi:

Halo saya Irwandi, sekarang ini sebagai Fasdes di Bagan Tengah, Kecamatan Bangko, Kabupaten Rokan Hilir. Sebenarnya kalau bicara tips dan pengalaman pribadi,hal yang paling terpenting memang menurut saya adalah di kita hanya sebagai fasilitator Desa, kita perlu memahami dulu sebenarnya seluk-beluk dalam Perencanaan Desa itu seperti apa. Mulai dari Peraturan Desa, mulai dari peraturan atasnya ya misalnya dari Undang-Undang desa dan lain sebagainya.

Karena itu kita mencoba memberikan pemahaman-pemahaman dasar terutama kepada Pemerintah Desa, kepada BPD dan tokoh-tokoh, bahwa perlunya keberlanjutan ini, bagaimana gambut ini dikelola dengan penuh tanggung jawab. Salah satu itu kita perlu juga memahami celahnya, bisa masuk di aturan-aturannya. Misalnya di Permendes tentang Prioritas Dana Desa. Kita coba meyakinkan kepada desa dan kepada masyarakat bahwa pentingnya desa hadir.

Aika: Lalu apakah trik itu berhasil?

Irwandi:

Alhamdulillah berhasil melakukan integrasi program tersebut, baik itu 3R itu ya, kebasahan gambut. Terus juga upaya revitalisasi ekonomi misalnya rencana untuk sekolah lapang. Itu mereka mau mengalokasikan di rencana atau di RKP desa tersebut. Dan lebih jelas, untuk pembangunan sekat kanalnya sudah direalisasikan dari desa, tahun 2020 ini. Berarti di RKP tahun 2019, dan rencana juga untuk pembukaan lahan pertanian.

Aika: Jadi karena ada Dana Desa, maka desa bisa jadi mandiri lah ya. Yang penting adalah supaya ide restorasi gambut itu, masuk juga di rencana anggaran mereka. Supaya desa jadi berdaya gitu. Ada cerita nih dari Dinamisator DPG untuk provinsi Sumatera Selatan, Dede Sineba.

Dede:

Bagaimana memanfaatkan, dalam tanda petik ya, "kekuatan desa", sebagai orang sebagai garda terdepan dari pencegahan dan antisipasi kebakaran yang terjadi. Saya kira hal itu yang menjadi penting ya untuk segera ditindaklanjuti menurut saya oleh semua stakeholder.

Asrul: Desa harus kuat dong ya. Dia yang paling dekat, paling merasakan pentingnya gambut, juga bakal paling merasakan kalau ada kebakaran hutan dan lahan.

Aika: Tentu yang dibutuhkan nggak cuma anggaran. Tapi juga kerjasama dengan berbagai pihak. Kalau sendiri-sendiri kan percuma juga..

Dede:

Saya kira pemerintah daerah mesti harus juga bersiap menyambut arahan. Sehingga kita tidak terjadi bencana asap yang membuat rakyat semakin menderita. Khususnya rakyat-rakyat yang ada di pedesaan gambut.Bagaimana bentuk dukungan dan pelaksanaan dari arahan dari Presiden tersebut? Tentu saja pertama mengalokasikan semua sumber daya yang ada di provinsi atau kabupaten untuk bisa menghadapi Karhutla. Misalnya seperti contoh kelengkapan OPD, mulai dari BPBD, kemudian pemadam Manggala Agni dan sebagainya. Kemudian juga yang kedua tentu aja mengalokasikan sebagian anggaran untuk membantu atau memfasilitasi gerakan-gerakan daripada pihak-pihak yang terkait tadi. Sehingga kita tidak akan mendengar bahwa kita tidak punya anggaran, tidak siap, dan sebagainya.

Asrul: Yang menarik juga nih, kerjasama dengan penegak hukum.

Jadi ceritanya gini nih..

Ini cerita dari Kalimantan Barat, di Desa Trimandayan, Kecamatan Teluk Keramat, Kabupaten Sambas. Ini cerita dari fasdes, namanya Wendrika Wicha.

Jadi Wendrika ini lagi cerita ini sama warga desa, soal pentingnya menjaga kelestarian gambut. Eh ternyata ada petugas Babinkamtibmas yang ikut mendengarkan. Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat atau Bhabinkamtibmas. Nah, itu tuh.

Dia dengar, eh tertarik. Sampailah itu cerita ke atasan dan atasannya lagi. Sampai akhirnya, Babinkamtibmas diminta ikut serta dalam pendekatan persuasif ke masyarakat untuk ikut cegah karhutla.

Wendrika:

Kan kita tahu kalau selama ini, kalau untuk menindak para pelaku Karhutla itu, penegak hukum itu lebih menggunakan entah itu penanagan, entah itu ganti rugi segala macam. Nah melalui program BRG ini, mungkin karena mereka tertarik, rupanya di Trimandayan bisa loh, kenapa kita nggak bisa? Nah mereka tertarik. Dengan cara kita mengedukasi masyarkat, mereka merasakan. Oh negara itu hadir loh tanpa harus kita mengadili masyarakat atau membuat masyarakat takut. Toh masyarakat dibuat bertahun-tahun dibuat peraturan seperti itu, nggak membuat mereka jera juga.

Aika: Asik ya, beragam betul apa yang bisa dilakukan warga. Jadi MPA, bisa. Yang penegak hukum, juga bisa ikut terlibat.

Podcast Gambut Bakisah akan balik lagi dengan episode lain yang membuat kita lebih paham soal pentingnya gambut. Masukan atau saran, ditunggu ya. Silakan email ke podcast@kbrprime.id Sampai ketemu lagi!

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Dorong Penggunaan Medis, PBB Hapus Ganja dari Daftar Narkotika Paling Berbahaya

Liburan di Rumah Aja! #coronamasihada

Eps9. Bijak Energi

Menanti Nasib Ekspor Benur

Kabar Baru Jam 7