KSP Pastikan Temuan TGPF Intan Jaya Ditindaklanjuti Penegak Hukum

TGPF mengklaim independen dalam bekerja

BERITA | NASIONAL

Rabu, 28 Okt 2020 10:57 WIB

Author

Resky Novianto

KSP Pastikan Temuan TGPF Intan Jaya Ditindaklanjuti Penegak Hukum

Deputi V KSP Jaleswari Pramodhawardani. Gambar dicuplik dari video yang diunggah di akun Youtube resmi Kemenkopolhukam, Selasa (27/10/2020).

KBR,Jakarta - Deputi V Kantor Staf Presiden (KSP) Jaleswari Pramodhawardani memastikan hasil temuan Tim Gabungan Pencari Fakta (TGPF) Intan Jaya bakal ditindaklanjuti oleh penegak hukum. 

Hal ini diungkapkan Jaleswari, yang juga anggota TGPF, untuk menjawab keraguan masyarakat tentang kelanjutan kasus penembakan Pendeta Yeremia Zanambani. 

Ia mengibaratkan tugas TGPF sebagai pembuka pintu untuk penelusuran selanjutnya.

"Setelah TGPF ini selesai, maka akan ditindaklanjuti lagi prosesnya soal penyidikan, yang itu dilakukan dengan kerja-kerja pro yustisia oleh kepolisian dan lain-lain," kata Jaleswari dalam video yang diunggah di akun Youtube resmi Kemenkopolhukam, Selasa (27/10/2020).

Jaleswari mengklaim TGPF independen dalam bekerja. Ia menyodorkan komposisi tim yang terdiri banyak tokoh kredibel dari beragam latar belakang, termasuk dari Papua dan perwakilan gereja.

"Komposisi inilah yang menjadikan kita bekerja dengan sangat egaliter, melalui prosedur kerja yang terukur. Artinya di sini masing-masing anggota, memiliki kedudukan yang sama. Tidak ada subordinasi antara satu dan lainnya," imbuhnya.

Eks Peneliti LIPI ini menuturkan pembentukan TGPF merupakan bentuk respon cepat Presiden Joko Widodo atas aduan masyarakat.

"Kebetulan ini yang mengusulkan dan melaporkan ke Presiden adalah dari gereja," ujar dia.

Anggota TGPF dari unsur tokoh Papua, Samuel Tabuni menganggap wajar keraguan masyarakat terhadap kerja tim. Pasalnya, belum pernah ada tim semacam itu yang diterjunkan untuk mengusut kasus pembunuhan di Papua.

Samuel mengaku sempat dilarang ikut bergabung dalam tim oleh keluarga dan rekan di Papua. Namun, ia memutuskan terlibat setelah melihat komposisi TGPF yang beragam.

"Di sini tidak ada yang mendominasi dari satu lembaga atau institusi. Setelah saya lihat daftar nama orang-orang yang saya percaya, saya ambil keputusan untuk terlibat," kata Samuel dalam video yang diunggah di kanal Youtube Kemenkopolhukam, Selasa (27/10/2020).

Samuel menuturkan, TGPF bekerja transparan dan obyektif berdasarkan fakta.

"Tidak ada yang tersembunyi. Saya tidak lihat misalnya tim ini bekerja untuk negara atau bekerja untuk keluarga korban. Menurut saya ini tim yang luar biasa," tutur dia.

Ia berharap kasus-kasus lain bisa diperlakukan sama seperti Intan Jaya. Hal itu untuk membangun kepercayaan (trust) dari masyarakat Papua kepada negara dan aparat TNI-Polri. 

Citra Indonesia di mata internasional juga bakal terangkat, jika mampu menunjukkan komitmen untuk menuntaskan kasus-kasus pelanggaran HAM.

"Menurut saya mengangkat martabat bangsa dan negara. Kita lebih terhormat, ketika pelanggaran-pelanggaran itu kita selesaikan di mata internasional. Karena isu kemanusiaan itu isu global," ujar Samuel.

Samuel meminta pemerintah melanjutkan langkah positif di Papua ini dengan memperkuat pendekatan kemanusiaan. Menurutnya, kasus penembakan Pendeta Yeremia tak lepas dari konflik lain di Papua, salah satunya terkait keberadaan kelompok separatis. Pendekatan dialog mesti dikedepankan untuk mengakhiri konflik di Bumi Cenderawasih.

"Kelompok yang memisahkan diri ini kan sudah dimana-mana. Bukan rahasia lagi, seluruh Papua ada. Bagaimana mau mendekati mereka? perlu ada dialog. Terus yang penting itu rekonsiliasi," lanjutnya.

Sebelumnya, pada 21 Oktober 2020, Menkopolhukam Mahfud MD menyampaikan hasil temuan TGPF Intan Jaya yang bekerja sejak 1-17 Oktober 2020. Mahfud menyebut ada dugaan keterlibatan aparat dan kemungkinan pihak ketiga dalam penembakan Pendeta Yeremia.

Editor: Ninik Yuniati

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Dorong Penggunaan Medis, PBB Hapus Ganja dari Daftar Narkotika Paling Berbahaya

Liburan di Rumah Aja! #coronamasihada

Eps9. Bijak Energi

Menanti Nasib Ekspor Benur

Kabar Baru Jam 7