Revitalisasi SMK, Mendikbud Ingin Anak-Anak Belajar di Industri

“Diupayakan anak-anak belajarnya sekitar 60-70 persen di industri, jadi tidak di kelas.”

BERITA | NASIONAL

Senin, 07 Okt 2019 15:32 WIB

Author

Adi Ahdiat

Revitalisasi SMK, Mendikbud Ingin Anak-Anak Belajar di Industri

Pekerja merakit mesin di pabrik mobil Esemka, Boyolali, Jawa Tengah (6/9/2019). Pabrik ini telah menyerap 300 pekerja lulusan SMK hingga D3. (Foto: ANTARA)

KBR, Jakarta - Pemerintah menyiapkan anggaran Rp4,3 triliun untuk merevitalisasi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di seluruh Indonesia.

Namun, menurut Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy anggaran tersebut hanya cukup untuk merevitalisasi 5.000 SMK.

“Anggarannya tidak terlalu besar, sekitar Rp4,3 triliun. Sebetulnya masih jauh dari target karena jumlah SMK kita kan 14 ribu,” kata Mendikbud Muhadjir Effendy, seperti dikutip Antara, Senin (7/10/2019).

Revitalisasi SMK meliputi penyempurnaan kurikulum, link and match materi pendidikan dengan kebutuhan industri, serta menambah jumlah dan kompetensi guru.

Sektor SMK yang menjadi fokus revitalisasi adalah pariwisata, pertanian produktif, ekonomi kreatif, kemaritiman, dan energi pertambangan.

“Diupayakan anak-anak belajarnya sekitar 60-70 persen di industri, jadi tidak di kelas,” ujar Mendikbud.

Mendikbud menyebut program revitalisasi ini didasarkan pada Instruksi Presiden (Inpres) tahun 2016. Namun, pelaksanaannya baru berjalan mulai 2018 di 300 SMK.

Mendikbud menargetkan akan merevitalisasi 300 SMK lagi sampai akhir 2019. Ia pun berjanji akan terus menggencarkan revitalisasi hingga totalnya mencapai 5.000 SMK pada tahun 2024 mendatang.


Lulusan SMK Paling Banyak Menganggur

Menurut data Badan Pusat Statistik (BPS), sampai Februari 2019 pengangguran terbuka paling banyak berasal dari lulusan SMK.

Lulusan SMK yang menganggur mencapai 8,6 persen, diikuti lulusan Diploma 6,8 persen, lulusan SMA 6,7 persen, dan lulusan universitas 6,2 persen. 

Mendikbud menilai tingkat pengangguran SMK tinggi karena kurikulum pembelajarannya tidak sesuai dengan kebutuhan dunia industri.

Kerja sama antara lembaga pendidikan vokasi dan industri juga dinilai masih rendah. Karena itu, Mendikbud berencana menyusun materi pendidikan SMK bersama asosiasi industri.

“Ini baru mulai bersama-sama dengan Kamar Dagang Indonesia (Kadin) merumuskan standar kompetensi dan sertifikasi. Jadi siswa SMK di samping nanti mendapatkan ijazah, dia juga akan mendapat sertifikat kemahiran,” kata Mendikbud.

Mendikbud menjelaskan, lulusan SMK nantinya akan mendapat sertifikat kemahiran dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP), sekaligus sertifikasi dari lembaga internasional sesuai bidang keahliannya.

“Kalau jurusan perhotelan ya sertifkasi dari asosiasi hotel internasional,” ujarnya. 

Editor: Agus Luqman

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 12

Ponpes Kebon Jambu Cirebon, Pencetak ‘Ulama Perempuan’

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Cina Berencana Melarang Teknologi Asing di Seluruh Kantor Pemerintahan dan Institusi Publik