Walhi Desak Bank Dunia Ikut Bertanggung Jawab atas Gagalnya Proyek Waduk Kedungombo

Walhi mendesak Bank Dunia untuk ikut bertanggung jawab atas kegagalan proyek Waduk Kedung Ombo di Jawa Tengah.

BERITA | NASIONAL

Jumat, 05 Okt 2018 20:21 WIB

Author

Bayu Putra

Walhi Desak Bank Dunia Ikut Bertanggung Jawab atas Gagalnya Proyek Waduk Kedungombo

Personel TNI berfoto dengan latar belakang logo bendera berbagai negara di kawasan yang akan jadi tempat berlangsungnya pertemuan tahunan IMF-Bank Dunia di Bali, Senin (1/10). (Foto: ANTARA/ Budhiana)

KBR, Jakarta - Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) mendesak Bank Dunia untuk ikut bertanggung jawab atas kegagalan proyek Waduk Kedung Ombo di Jawa Tengah. Permintaan itu dilontarkan merespons pertemuan tahunan antara Bank Dunia dan International Monetary Fund (IMF) di Bali pada 8-14 Oktober 2018.

LSM lingkungan ini menilai pembangunan waduk selama tiga tahun sejak 1985-1991 yang dibiayai Bank Dunia itu menyisakan persoalan. Manajer Kampanye Walhi Edo Rohman menyebut, salah satu impak proyek tersebut adalah penanganan korban pembangunan yang hingga kini belum tuntas.

"Dampak dari sosial dan lingkungan dari proyek Kedung Ombo ini itu bukan hanya dirasakan oleh generasi yang lalu, tapi sampai generasi saat ini," tutur Edo pada konferensi pers di kawasan Cikini, Jakarta, Jumat (5/10/2018).

"Jadi antar generasi dampaknya terhadap utang luar negeri melalui proyek Kedung Ombo ini juga dirasakan oleh masyarakat di Indonesia," tambah Edo lagi.

Salah satu fokus agenda petemuan Bank Dunia-IMF itu soal peningkatan peran dalam pengentasan kemiskinan dan peningkatan kesejahteraan sosial. Poin ini juga beroleh kritik dari Edo.

"Nyatanya pembangunan yang didorong oleh Bank Dunia melalui pembangunan infrastruktur besar justru menyebabkan penggusuran dan pemiskinan hingga dua generasi," tukas Edo.

Proyek pembangunan Waduk Kedung Ombo seluas 59.340 hektare berada di perbatasan tiga kabupaten di Jawa Tengah. Yakni Kabupaten Sragen, Kabupaten Boyolali dan, Kabupaten Grobogan. Pembangunan berdampak pada 37 desa dan 5.390 keluarga. Lahan pertanian produkif milik warga pun berkurang bahkan hilang akibat terendam air waduk.

"Padahal 87 persen warga adalah petani."

Edo melanjutkan, setelah 30 tahun waduk beroperasi, warga korban pembangunan proyek pun masih menghadapi kesulitan ekonomi dan sosial. Belum lagi, masalah jerat kemiskinan yang berlanjut setelah kemunculan proyek.

"Bahkan, hingga saat ini, para keluarga korban masih terus memperjuangkan hak mereka karena merasa dirugikan akibat pembangunan waduk," pungkas Edo.



Editor: Nurika Manan

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 15

Kabar Baru Jam 14

Kenali dan Obati Katarak Sejak Dini

Kabar Baru Jam 13

Kabar Baru Jam 12