Share This

Tim SAR Masih Temukan Jenazah di Petobo

Menurut Mursidi, dari seluruh hasil pencarian, 80 persen jenazah dalam keadaan tidak utuh dan sulit dikenali.

NASIONAL

Rabu, 10 Okt 2018 17:17 WIB

Astri Septiani, Dwi Reinjani
Author

Astri Septiani, Dwi Reinjani

KBR, Sigi - Tim pencarian dan penyelamatan Basarnas yang bertugas di Kecamatan Petobo, Kabupaten Sigi masih menyisir korban di antara puing dan reruntuhan pascagempa disusul tsunami.

Anggota tim Basarnas di Petobo, Mursidi mengungkapkan pencarian korban hingga kini dilakukan hanya berbekal informasi keluarga.

"Kalau untuk yang kurang ini, kita sudah maksimal ya. Teman-teman itu sudah berusaha tapi untuk seluas ini kita itu hanya mengandalkan alat berat dan laporan dari keluarga-keluarga korban ya di dalam, apabila di sini dia mencurigai itu yang kita prioritaskan," tutur Mursidi kepada KBR, Rabu (10/10/2018).

"Karena kan korban sekarang ini yang terjangkau pandangan mata itu kan nggak tau lagi di mana. Tapi kalau ada keluarga korban yang melaporkan kita prioritaskan," tambahnya.

Kata Mursidi, tak ada alat bantu deteksi atau lainnya yang mampu digunakan untuk membantu kerja tim. Bahkan menurutnya, alat berat pun baru berdatangan setelah tiga hari bencana menerpa.

Ia menambahkan, timnya masih menemukan korban di bawah reruntuhan bangunan yang tanahnya terangkat. Satu jenazah bahkan baru saja ditemukan pada pencarian, Rabu (10/10/2018) pagi ini. Sehingga total temuan jenazah sejak Minggu (7/10/2018) berjumlah 175 orang.

Menurutnya, dari seluruh hasil pencarian, 80 persen jenazah dalam keadaan tidak utuh dan sulit dikenali. 

"Hampir semua engga bisa dikenali apalagi yang hari ini kan, sudah beberapa hari. (Rata-rata korban?)  Semua ada, anak, dewasa laki-laki, perempuan, semua campur. Ada yang kita temukan anak berpelukan dengan ibunya."


Puing bangunan usai di kawasan Petobo, Kota Palu. (Foto: KBR/ Dwi Reinjani)

Dari pantauan KBR saat mendatangi lokasi, keadaan tanah di perumahan tersebut sudah naik 5 hingga 6 meter dari jalanan normal. Seluruh bangunan rumah hancur, juga kendaraan-kendaraan di sekitarnya. Tanah tempat berpijak pun basah dan empuk. Sehingga saat ditapaki, seperti lumpur penghisap. 

Di sana juga terdapat enam alat berat untuk menggaru dan membersihkan puing-puing bangunan. Menurut laporan tim basarnas, terdapat 1 titik seperti kolam di mana diduga masih terdapat jenazah yang sulit diangkat, karena membahayakan anggota tim bila dipaksakan.

"Iya kami tidak suruh tim turun, karena kami belum lihat lagi seperti apa kalau berbahaya ya kita lihat bagaimana," jelas Mursidi.

Baca juga: Pemulihan Trauma Korban Bencana Sulteng 

Verifikasi Data Korban

Sementara itu di lokasi berbeda, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyatakan kemungkinan ada 5.000 orang yang masih belum ditemukan pascagempa dan tsunami di Sulawesi Tengah.

Jumlah itu menurut Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB, Sutopo Purwo Nugroho meliputi dua wilayah di Palu. Antara lain Balaroa dan Petobo.

"Dan berdasarkan laporan dari kepala desa Balaroa dan Petobo terdapat sekitar 5.000 orang yang belum ditemukan. Karena kalau kita jumlahkan ribuan rumahnya, 1.045 unit di Balaroa sedangkan Petobo 2.050 unit," terang Sutopo saat ditemui di Graha BNPB Jakarta, Minggu (7/10/2018).

Balaroa merupakan daerah yang terkena pengangkatan dan amblesan akibat gempa. Sementara, Petobo adalah daerah yang mengalami likuifaksi--di mana dataran tanah berubah menjadi cairan.

Namun menurut Sutopo, petugas masih mengonfirmasi dan mendata ulang informasi mengenai perkiraan jumlah korban tersebut. Kata dia, hal tersebut cukup sulit mengingat kemungkinan korban tertimbun material longsoran maupun terdampak likuifaksi.

Sutopo menyebut, pemerintah menargetkan pencarian dan penyelamatan korban rampung pada Kamis (11/10/2018). Mengingat tanggal itu merupakan tenggat masa tanggap darurat berakhir. Jika hingga 11 Oktober masih ada korban belum ditemukan, maka akan dinyatakan hilang.

Setelah tanggal 11 Oktober nanti, kata Sutopo, petugas akan tetap melakukan evakuasi namun dengan kekuatan yang dikurangi.

Baca juga:




Editor: Nurika Manan

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Recent Podcast

September ini merupakan gelombang ketiga penetapan anggota DPRD Kota Malang sebagai tersangka oleh KPK.

Dengan langkah terbaru dari polisi, Istana mengklaim: Negara serius menuntaskan kasus Munir.

Aturan yang ada sangat mudah digunakan kelompok tertentu untuk melakukan persekusi atau kekerasan.

KPU tak kalah ngotot, meminta KPU daerah menunda proses pencaloan 12 nama bakal caleg eks napi korupsi yang sudah diloloskan Bawaslu.

Pelemahan rupiah karena kebijakan bank sentral AS The Fed, juga perang dagang AS-China.