Peringatan, ESDM: Batubara Indonesia Diprediksi Habis 2086

"Andaikan misalnya dalam tiap tahun ada kenaikan eksplorasi 1 persen saja, itu akan bisa bertahan sampai 2139,"

BERITA | NASIONAL

Kamis, 04 Okt 2018 14:34 WIB

Author

Resky Novianto

Peringatan, ESDM: Batubara Indonesia Diprediksi Habis 2086

Ilustrasi: Tambang batu bara (foto: Antara)

KBR, Jakarta - Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mencatat cadangan batubara Indonesia hingga tahun 2017 sebesar 24,2 miliar ton dan peningkatan cadangan di 2018 sebesar 37 miliar ton. Direktur Pembinaan dan Pengusahaan Batubara Ditjen Minerba ESDM, Sri Rahardjo mengatakan, peningkatan cadangan batubara Indonesia terjadi karena adanya peningkatan eksplorasi.

Namun, ia beranggapan ketersediaan cadangan batubara nasional cukup mengkhawatirkan. Alasannya,  bila dihitung tingkat produksi versus cadangan maka angka yang ditetapkan Rencana Umum Energi Nasional (RUEN) itu asumsinya mulai 2019 hanya 400 juta ton, sehingga jika dibandingkan dengan cadangan 2017 maka batubara Indonesia itu akan habis di 2086.

"Ini warning, jadi kalau kita lihat bahwa kalau tingkat produksi versus cadangan, angka 400 (juta ton) itu adalah angka yang ditetapkan RUEN itu jadi asumsinya mulai 2019 sebetulnya itu 400 juta ton, kalau ini dibandingkan cadangan 2017, batubara Indonesia itu akan habis di 2086 karena dieksploitasi sepenuhnya," kata Sri Rahardjo dalam Diskusi terkait Pengelolaan Batubara di Aryaduta, Gambir, Jakarta Pusat, Rabu (4/10/2018).

Sri Rahardjo mengklaim, apabila dalam eksplorasi batubara ada kenaikan 1 persen, maka cadangan batubara Indonesia dapat bertahan lebih lama lagi atau diperkirakan hingga  2139 jika tambahan eksplorasi konstan bertambah setiap tahun.

"Andaikan misalnya dalam tiap tahun ada kenaikan eksplorasi 1 persen saja, itu (cadangan batubara) akan bisa bertahan sampai 2139," ucap Sri Rahardjo.

Ia menjelaskan, pemasaran batubara selama 5 tahun terakhir atau di kurun waktu 2013 hingga 2017,  yakni pemasaran domestik cakupannya lumayan besar, di kisaran 30 persen dan selebihnya untuk ekspor.

"Jadi tidak DMO (Domestic Market Obligation) seluruhnya dan tapi plus penjualan lain ke trader dalam negeri, walaupun ujungnya diekspor. Jika diekspor kan menambah ekspor. Kisaran 70 hingga 80 persen di ekspor," tutur Sri Rahardjo.

Sri Raharjo juga menyampaikan hingga bulan Agustus tahun ini, produksi batubara sudah mencapai 311 juta ton dari target 465 juta ton, dengan rincian penjualan domestik 102 juta ton dan penjualan ekspor 200 juta ton, sedangkan sisanya merupakan stok yang masih tersimpan.

"2018 sampai bulan Agustus sebesar produksi sudah mencapai 311 juta ton, dari target 465 juta ton. Kemudian domestik 102 juta ton dan ekspor 200 juta ton, dijumlah tidak sama karena ada stok juga," tutup Sri Rahardjo.
 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Tim Teknis Pengungkapan Kasus Novel Dinilai Belum Ungkap Apapun