covid-19

Santri di Jawa Bakal Ikut Program Deradikalisasi Kemenag

Sekitar 150-an santri di Jawa akan mendapatkan program deradikalisasi dari Kementerian Agama bulan depan. Santri-santri ini direkrut dari 50-an pondok pesantren yang ada di Jawa.

NASIONAL

Kamis, 30 Okt 2014 07:30 WIB

Author

nurika Manan

Santri di Jawa  Bakal Ikut Program Deradikalisasi Kemenag

menteri agama, aliran kepercayaan, Lukman Hakim Syaifuddin

KBR, Jakarta - Sekitar 150-an santri di Jawa akan mendapatkan program deradikalisasi dari Kementerian Agama bulan depan. Santri-santri ini direkrut dari  50-an pondok pesantren yang ada di Jawa. 


Menteri Agama Lukman Hakim Syaefuddin mengatakan, selanjutnya program ini juga akan diberlakukan di Sumatera, Kalimantan, Sulawesi hingga ke seluruh pelosok nusantara. 


Tujuannya, memberikan pemahaman dasar agama yakni sikap welas asih. Program yang bekerjasama dengan Mahkamah Konstitusi ini akan lebih banyak diisi dengan pertukaran pemikiran dan diskusi antara pemateri dengan peserta.


“Lalu juga kami perbanyak metodenya dengan diskusi studi kasus. Kami ingin lebih memperkaya wawasan mereka dengan studi kasus. Kemudian mereka mendiskusikan secara kelompok,” kata Lukman kepada KBR.


“Lalu mempresentasikan hasil kelompoknya, lalu di antara kelompok saling berinterakasi. Setidak-tidaknya program ini ingin memberikan pemahaman keagamaannya. Jadi membangun fondasi keagamaan bahwa radikalisasi itu sesuatu yang justru bertolak belakang dengan ajaran agama.” 


Lukman Hakim Syaefuddin menambahkan, peserta pelatihan nantinya akan menularkan materi deradikalisasi tersebut ke pondok pesantrennya masing-masing. Saat ini, kementeriannya tengah mendata pondok-pondok pesantren dari daerah hingga pusat untuk menjadi sasaran program ini. 


Setiap pesantren akan mengirimkan 2 hingga 3 perwakilannya untuk ikut serta dalam program ini. Program deradikalisasi ini nantinya akan dilangsungkan secara periodik dan rutin sebanyak 6 hingga 7 kali pertemuan tiap tahunnya. Menurut Lukman, program ini menjadi proses berkelanjutan dan membutuhkan waktu yang panjang.


Editor: Antonius Eko 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 7

Kabar Baru Jam 8

Fasilitas Jalan Aman di Indonesia

Menyorot Klaster Covid-19 pada Pembelajaran Tatap Muka

Kabar Baru Jam 10