Kritik Pembangunan PLTN, Staf Ahli Batan Dinonaktifkan

KBR68H, Jakarta - Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) mengecam langkah Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) yang menonaktifkan salah seorang staf ahlinya bernama Soedarjo.

NASIONAL

Sabtu, 12 Okt 2013 20:54 WIB

Author

Ade Irmansyah

Kritik Pembangunan PLTN, Staf Ahli Batan Dinonaktifkan

pltn, batan, dipecat, kontras

KBR68H, Jakarta - Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) mengecam langkah Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) yang menonaktifkan salah seorang staf ahlinya bernama Soedarjo.

Koordinator KontraS, Haris Azhar mengatakan, Soedarjo dianggap membangkang karena terus mengritisi rencana pembangungan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Bangka Belitung oleh Batan. Kata dia, ini merupakan salah satu bentuk pembungkaman kebenaran yang dilakukan petinggi Batan.

“Nah sebetulnya dia hanya ingin menjelaskan ada prosedur-prosedur yang belum ditempuh oleh Batan selain Batan juga menurut aturan perundang-undangan yang berlaku itu bukan pihak yang tepat untuk melakukan beberapa tindakan sebelum diberlakukannya pembangunan PLTN tersebut. Jadi dia memprotes sejumlah hal yang belum tepat, tidak tepat dan tidak cocok. Nah justru dia dianggap sebagai orang yang tidak mendukung proyek pembuatan tenaga nuklir,” ujarnya kepada KBR68H.

Koordinator Kontras, Haris Azhar menambahkan, terkait hal tersebut Kontras berencana mengadukan permasalahan ini ke Komnas Ham, Ombudsman dan PTUN Jakarta. Kontras akan menggunakan Undang Undang Lingkungan untuk memperkarakan Batan terkait permasalahan tersebut.

Badan Tenaga Nuklir Nasional (Batan) meminta pemerintah mempertimbangkan agar memberikan izin pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN). Investasi PLTN diyakini lebih murah dibandingkan dengan PLTU Batu bara.


Editor: Doddy Rosadi

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 7

Dampak Tambang terhadap Lingkungan di Sulawesi Tenggara dan Tengah

NFT, New Kid on the Block (chain)

Kabar Baru Jam 8

Seruan Penolakan Bibit-Bibit Kekuasaan Mutlak