Arist Merdeka: Mendikbud Berempatilah pada Murid Korban Perkosaan

KBR68H, Jakarta - Komisi Nasional Perlidungan Anak menilai Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tidak peduli pada kasus perkosaan yang menimpa pelajar . Penilaian itu menanggapi langkah Kemendikbud yang menyerahkan sanksi kepada siswa korban perkosaan ke

NASIONAL

Kamis, 17 Okt 2013 10:55 WIB

Author

Novaeny Wulandari

Arist Merdeka: Mendikbud Berempatilah pada Murid Korban Perkosaan

mendikbud, perkosaan, purworejo

KBR68H, Jakarta - Komisi Nasional Perlidungan Anak menilai Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tidak peduli pada kasus perkosaan yang menimpa pelajar . Penilaian itu menanggapi langkah Kemendikbud yang menyerahkan sanksi kepada siswa korban perkosaan kepada dinas pendidikan setempat.

Ketua Komnas Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait mengatakan, seharusnya kementerian mengeluarkan kebijakan yang  melindungi siswa bukan malah menghukumnya. Seperti sekolah yang mengeluarkan pelajar korban perkosaan di  Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah.

"Purworejo misalnya, bisa tidak pak Nuh itu memahami kami bagaimana sakitnya pengalaman anak ini yang diperkosa oleh kakeknya sampai hamil lalu kemudian dikeluarkan dari sekolah. Bisa tidak dia, tanpa menghurangi hormat saya kepada Pak Nuh sebagai menteri memahami itu. Empati itukan penting. Tapi kalau terus mengatakan tidak punya kewenangan karena otonomi daerah dan sebagainya, Undang-Undang perlindungan anak itu mewajibkan semua termasuk lembaga wajib memberikan perlindungan kepada anak termasuk lembaga pendidikan," jelas Arist dalam perbincangan Sarapan Pagi KBR68H.

Kejadian dikeluarkannya siswa korban pemerkosaan dari sekolah kembali terulang. Seorang siswa di Purworejo  dikeluarkan dari sekolah setelah diketahui diperkosa kakeknya. Kejadian serupa juga terjadi tahun lalu. Siswa SMP swasta di Depok yang menjadi korban penculikan dan perkosaan dikeluarkan oleh sekolahnya.

Editor: Suryawijayanti 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Mengusung Pilkada yang Sehat dan Berkualitas