Bagikan:

Warga Pulau Pari Terdampak Banjir Rob, Holcim Digugat

"Kalau sekarang saya pribadi dalam dua bulan terakhir saya sama sekali tidak ada penghasilan. Selalu tekor dan tekor."

NASIONAL

Rabu, 21 Sep 2022 16:29 WIB

Author

Fadli Gaper

Pulau Pari

Genangan air banjir rob di Pulau Pari pada 2021 lalu. (Foto: walhi.or.id)

KBR, Jakarta - Warga Pulau Pari di Kepulauan Seribu, DKI Jakarta mengeluhkan semakin seringnya rumah dan lingkungan mereka terendam banjir rob. Warga RT 04 Pulau Pari, Edi Mulyono mengungkapkan, banjir rob semakin parah terjadi sejak tiga tahun lalu. Air laut setinggi lutut orang dewasa masuk ke dalam rumah. 

Kata dia, sumur-sumur warga pun ikut tercemar air laut.

"Di tahun 2019, di tahun 2020, itu bahkan sampai mencapai 70 cm di rumah-rumah warga. Bahkan di RT 04 sendiri, di wilayah dekat LIPI itu sampai lebih dari sedengkul atau lutut orang dewasa, dan air itu sampai masuk ke dalam rumah. Bahkan saat kondisi air laut masuk itu, sumur-sumur yang mereka gunakan untuk mandi, untuk minum, itu sudah tidak bisa digunakan lagi karena sudah terkontaminasi dengan air laut," ungkap Edi Mulyono, warga Pulau Pari saat jumpa pers di Walhi Jakarta, Selasa (20/9/2022).

Baca juga:

- Ingin Lindungi Aktivis dari Kriminalisasi, Komnas HAM Tawarkan Program HRD

- Sengketa Lahan Pulau Pari, dari Izin sampai Kriminalisasi Warga

Edi menambahkan, banjir rob  beberapa kali  menyebabkan  kunjungan wisatawan ke Pulau Pari batal. Praktis, pengelola wisata merugi, pemilik homestay merugi dan serentetan kerugian lainnya.

Kini, Edi bersama tiga warga lainnya -Asmania, Arif dan Bobby-  dengan didampingi Walhi mengajukan gugatan ke perusahaan semen terbesar dunia, Holcim. Gugatan diajukan melalui pengadilan di Kota Zug, Swiss, tempat Holcim berkantor pusat.

Sementara itu, Mustagfirin yang juga Ketua Forum Peduli Pulau Pari (FP3) mengaku, tangkapan ikan yang diperolehnya semakin sedikit akibat terdampak kenaikan permukaan air laut yang disebabkan perubahan iklim global.

"Hasil tangkapan yang saya alami sebagai nelayan di lima atau enam tahun yang lalu itu, masih masih bisa dikatakan   lebih dari cukup ya. Kalau sekarang saya pribadi dalam dua bulan terakhir saya sama sekali tidak ada penghasilan. Selalu tekor dan tekor. Dan itulah yang kami rasakan sebagai warga nelayan itu akibat cuaca yang ekstrim, sehingga harus merubah penghasilan kami yang tadi nya harus dapat menjadi enggak dapat. Dampak-dampak dari krisis iklim inilah yang kami rasakan sebagai masyarakat nelayan yang ada di pulau-pulau kecil sangat-sangat berasa sekali," tutur nelayan Pulau Pari, Mustagfirin yang akrab disapa Bobby.

Editor: Rony Sitanggang

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Urgensi Reformasi Polri

Most Popular / Trending