Bagikan:

Target Pengurangan Emisi Karbon di NDC Indonesia Naik Jadi 31,89 Persen

Target tersebut dinaikkan 2,89 persen berdasarkan dokumen terbaru 'Enhanced National Determined Contribution (ENDC)', dari yang sebelumnya ditetapkan 29 persen.

NASIONAL

Rabu, 28 Sep 2022 19:02 WIB

emisi karbon

Petugas merawat panel surya pembangkit listrik di Bandara Ngurah Rai, Bali, Rabu (21/9/2022). (Foto: ANTARA/Fikri Yusuf)

KBR, Jakarta - Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menaikkan target pengurangan emisi menjadi 31,89 persen pada tahun 2030 mendatang.

Kepala Subdirektorat Pemantauan Pelaksanaan Mitigasi KLHK Franky Zamzani mengungkapkan target tersebut dinaikkan 2,89 persen berdasarkan dokumen terbaru 'Enhanced National Determined Contribution (ENDC)', dari yang sebelumnya ditetapkan 29 persen.

"Dengan NDC, kita akan turunkan 497 juta ton. Dengan enhance NDC jadi 500 pas, juta ton CO2e. Kemudian level emisi pada saat 2030 diharapkan di 217 juta ton, kalau merefer ke NDC yang lama. Lebih ambisi lagi kan Indonesia FOLU Net-sink mau serapan 140 juta ton. Jadi itu artinya kita punya upaya yang berat sekali di 2030 untuk mengurangi emisi sebanyak 850. Berapa itu 714 ditambah 140 juta ton (untuk ini, target masih berdasarkan dokumen lama)," ujar Franky (28/09/22).

Baca juga:


Franky Zamzani menyebut berdasarkan dokumen ENDC, pemerintah di sektor kehutanan harus mengurangi sekitar 500 juta ton CO2e, dari yang sebelumnya ditargetkan 497 juta ton CO2e.

Dokumen ENDC tersebut baru saja diserahkan KLHK kepada Sekretariat UNFCCC Jumat pekan lalu (23/9/2022).

Upaya pengurangan emisi yang dilakukan oleh KLHK pada sektor kehutanan adalah dengan mengimplementasikan REDD+ atau Reducing Emissions from Deforestation and Forest Degradation).

"Ini merupakan mekanisme global yang memberikan kesempatan bagi negara berkembang yang masih mempunyai hutan, untuk mengurangi emisi gas rumah kaca dari deforestasi dan degradasi. Di antaranya dengan meningkatkan stok karbon hutan, melakukan manajemen hutan lestari," ucapnya.

Pengurangan emisi dengan skema REDD+ dapat berjalan, salah satunya dengan mekanisme pembayaran berbasis kinerja (result based payment).

Program REDD+ yang sudah berjalan misalnya di wilayah Jambi, melalui BioCarbon Fund-Initiatibe Sustainable Forest Landscape (BioCF ISFL), dengan penghitungan kinerja dari tahun 2021 hingga 2025.

"Sebagai contoh BioCarbon Fund yang ada di Jambi. Ini tentunya skemanya REDD+. Ujungnya nanti di 2025, Jambi harus bisa mengurangi emisi sebesar 14 juta ton CO2e. Akhir-akhir ini pak Gubernur Jambi sudah menegosiasi supaya nilai per tonnya menjadi 10 Dolar AS. Artinya bisa mendapatkan 140 juta Dolar AS pada tahun 2025 nanti apabila berhasil," ujarnya.

Baca juga:


Editor: Agus Luqman

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Menyongsong Terbitnya Rupiah Digital

Episode 4: Relasi Kuasa: Akar Kekerasan & Pengaturannya Dalam UU TPKS

Kabar Baru Jam 7

Bagaimana Stok dan Stabilitas Harga Pangan Jelang Nataru?

Kabar Baru Jam 8

Most Popular / Trending