Bagikan:

Jokowi Selalu Pesankan Menkeu untuk Berhemat APBN

Presiden meminta, APBN digunakan untuk hal-hal yang produktif dan memberikan imbal hasil yang jelas.

NASIONAL

Kamis, 29 Sep 2022 18:32 WIB

Author

Heru Haetami

APBN

Presiden Joko Widodo saat acara "UOB Economic Outlook 2023" di Jakarta (29/9/2022). (Foto: Tangkapan Layar Kompas TV)

KBR, Jakarta - Presiden Joko Widodo mengingatkan Menteri Keuangan Sri Mulyani, untuk berhati-hati mengelola Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

Presiden meminta, APBN digunakan untuk hal-hal yang produktif dan memberikan imbal hasil yang jelas.

“Saya selalu sampaikan ke Bu Menteri Keuangan. ‘Bu, kalau punya uang kita, di APBN kita, dieman-eman, dijaga, hati-hati mengeluarkannya. Harus produktif, harus memunculkan return yang jelas,’ karena kita tahu sekali lagi, hampir semua negara tumbuh melemah, terkontraksi ekonominya,” kata Jokowi saat menyampaikan sambutan pada acara United Overseas Bank (UOB) Economic Outlook 2023 yang digelar di Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta, pada Kamis, (29/9/2022).

Jokowi juga menyebut, saat ini semua negara sedang berusaha menyelesaikan tingginya angka inflasi, yang berdampak pada kenaikan harga-harga barang dan jasa.

Baca juga:

- Menkeu: Realisasi Anggaran Kesehatan Turun 29,4 Persen

- Anggaran Khusus Pandemi Dihapus di RAPBN 2023, PKS Protes

Jokowi mengklaim, inflasi Indonesia masih cukup terkendali di angka 4,6 persen. Angka ini diklaim masih lebih baik dibandingkan inflasi di negara-negara lain.

Perkiraan Pertumbuhan Ekonomi Kuartal III

Sementara itu, Presiden Joko Widodo juga mengatakan Indonesia mencapai pertumbuhan ekonomi tertinggi di antara negara dan kawasan anggota forum G20. Pertumbuhan ini mengindikasikan berjalannya pemulihan ekonomi di Tanah Air.

Jokowi memperkirakan, ekonomi nasional bisa tumbuh 5,44 persen di kuartal II tahun ini. Termasuk pertumbuhan realisasi penerimaan negara.

"Negara kita, Indonesia kalau saya lihat pemulihan ekonominya relatif masih kuat. Kita lihat, realisasi pendapatan negara mencapai Rp1.764 triliun atau tumbuh 49% year on year," tuturnya.

Jokowi juga menyebutkan sejumlah indikator positif terkait pemulihan ekonomi. Mulai dari penerimaan pajak yang mencapai 1,1 kuadriliun rupiah, atau tumbuh 58 persen, penerimaan bea cukai mencapai 206 triliun rupiah atau tumbuh 30,5 persen dan realisasi Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) sebesar 386 triliun rupiah, atau tumbuh hampir 39 persen.

Jokowi juga optimistis ekonomi Indonesia tumbuh hingga 6 persen di kuartal III tahun ini.

Editor: Fadli Gaper

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Menyongsong Terbitnya Rupiah Digital

Episode 4: Relasi Kuasa: Akar Kekerasan & Pengaturannya Dalam UU TPKS

Kabar Baru Jam 7

Bagaimana Stok dan Stabilitas Harga Pangan Jelang Nataru?

Kabar Baru Jam 8