Bagikan:

Harga BBM Naik, Angka Kemiskinan Bisa Ikut Naik

Direktur Eksekutif Core Indonesia Mohammad Faisal mengatakan, dampak kenaikan harga BBM ini justru akan meningkatkan jumlah warga yang jatuh ke bawah garis kemiskinan.

NASIONAL

Selasa, 06 Sep 2022 13:29 WIB

harga BBM

Buruh berunjuk rasa menolak kenaikan harga BBM di Surabaya, Jawa Timur, Rabu (31/8/2022). (Foto: ANTARA/Didik Suhartono)

KBR, Jakarta - Pemerintah resmi menaikkan harga BBM subsidi per Sabtu 3 September 2022. Banyak pihak menyayangkan keputusan ini, sebab naiknya harga BBM subsidi pasti meningkatkan inflasi, menurunkan daya beli hingga peningkatan kemiskinan.

Meski begitu, pemerintah mengeklaim penambahan angka kemiskinan tetap bisa ditekan dengan program bantuan sosial pengalihan subsidi BBM.

Penurunan angka kemiskinan merupakan program pemerintah dalam pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).

Wakil Presiden Maruf Amin menyebut, saat ini semua negara menghadapi tantangan berat imbas krisis ekonomi global. Maruf mengatakan, Indonesia memiliki beragam pekerjaan rumah, terutama dalam mencapai target SDGs yakni memberantas kemiskinan.

"Guna meniadakan kemiskinan dalam bentuk apapun sebagaimana tujuan SDGs pertama misalnya pemerintah mengedepankan kebijakan perlindungan sosial dan pemberdayaan masyarakat. Selain itu mengurangi kemiskinan nasional sebesar 10,14% per Maret 2021 juga utamanya untuk menyasar kemiskinan ekstrem yang tercatat 4%. Terlebih bapak presiden juga telah menetapkan target penghapusan kemiskinan ekstrem pada tahun 2004," kata Maruf saat membuka secara virtual Indonesian SDGs Corporate Summit (ISCOS) Tahun 2022 yang diselenggarakan oleh Corporate Forum for CSR Development (CFCD) di Jakarta, Selasa (6/9/2022).

Maruf Amin mengatakan, untuk mewujudkan target penurunan angka kemiskinan diperlukan integrasi, sinergi, dan kolaborasi program dari berbagai kementerian dan lembaga, serta pelibatan aktor nonpemerintah.

Selain itu harus ada akurasi data sasaran penerima manfaat program perlindungan sosial dan pemberdayaan masyarakat.

Baca juga:


Dampak Kenaikan BBM

Upaya menurunkan angka kemiskinan makin berat, setelah pemerintah akhirnya terpaksa menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi. Meski mendapat penolakan luas di masyarakat.

Menteri Keuangan Sri Mulyani mengakui kenaikan harga BBM pasti akan berdampak luas, baik dari sisi inflasi hingga dari sisi kenaikan jumlah kemiskinan. Meski begitu, Sri Mulyani yakin penambahan angka kemiskinan di Indonesia tetap bisa ditekan, walaupun harga BBM subsidi naik. Menurutnya, program bantuan sosial tambahan sebesar Rp24,17 triliun yang disiapkan pemerintah bisa menahan peningkatan angka kemiskinan.

Sri Mulyani mengatakan, dengan adanya bantuan sosial tersebut maka angka kemiskinan bisa ditekan turun sekitar 1,07 persen.

"Maka sebagian dari tadi belanja yang tadinya adalah untuk keseluruhan subsidi adalah digunakan untuk memberikan bantuan sosial kepada masyarakat. Kita juga akan memantau dampak inflasi dan pertumbuhan ekonomi serta kemiskinan dari kenaikan BBM yang diumumkan oleh bapak menteri ESDM. Kita perkirakan dengan adanya bansos yang diberikan tambahan 24,17 triliun maka kita bisa menahan pertambahan jumlah kemiskinan sehingga tetap bisa kita jaga, dan bahkan kita upayakan menurun melalui program-program pemerintah lainnya," kata Sri Mulyani dalam keterangan pers, Sabtu (3/9/2022).

Baca juga:

DPR Tidak Yakin

Klaim pemerintah ini nyatanya tidak cukup meyakinkan parlemen. Anggota DPR dari Fraksi PKS Hidayat Nur Wahid tidak yakin bantuan sosial yang diberikan pemerintah sebagai pengalihan subsidi BBM akan mampu menekan angka kemiskinan di tanah air. 

Hidayat Nur Wahid mengkritik anggaran yang disiapkan pemerintah tidak dapat mengimbangi beban yang dirasakan oleh masyarakat.

"Anggaran yang diberikan saja hanya untuk enam bulan. Itu pun per bulan hanya Rp150 ribu. Yang akan naik ini seluruh komponen harga. Sebelumnya sudah naik, sekarang akan tambah naik. Transportasi naik, sekarang sembako semuanya naik. Itu angka Rp150 ribu rupiah per bulan itu enggak cukup. Sama sekali tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar dari warga. Dan apalagi kalau itu kemudian malah naik. Maka bagaimana akan menekan angka kemiskinan? Itu justru akan sangat potensial menghadirkan kemiskinan," kata Hidayat saat dihubungi KBR (5/9/2022).

Sorotan juga muncul dari kalangan ekonom. Direktur Eksekutif lembaga kajian ekonomi CORE Indonesia Mohammad Faisal ragu bantuan sosial sebesar Rp24,07 triliun dari pemerintah bisa menutupi dampak kenaikan BBM terhadap warga miskin.

Menurutnya, angka tersebut tidak akan maksimal menahan masyarakat jatuh ke jurang kemiskinan karena tidak sebanding dengan kenaikan inflasi.

"Manfaat yang diterima oleh masyarakat dengan adanya BLT bbm ini tidak sebanding dengan dampak buruk daripada inflasi. Karena apa? satu dari sisi besaran tidak sebanding dengan kenaikan inflasinya, yang kedua dari sisi kecepatan penyaluran BLT yang lebih lambat dibandingkan dengan efek daripada kenaikan bbm yang sudah diumumkan. Lalu yang ketiga juga dari sisi coverage, siapa yang mendapatkan ini? masih banyak sebetulnya masyarakat miskin yang selama ini belum bisa mengakses atau mendapatkan bansos. Itu dari data bps sendiri," kata Faisal kepada KBR, Senin (5/9/2022).

Mohammad Faisal mengatakan, dampak kenaikan harga BBM ini justru akan meningkatkan jumlah warga yang jatuh ke bawah garis kemiskinan. Kondisi ini bertolak belakang dengan target pemerintah yang berupaya mengentaskan kemiskinan ekstrem.

Editor: Agus Luqman

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Menyongsong Terbitnya Rupiah Digital

Episode 4: Relasi Kuasa: Akar Kekerasan & Pengaturannya Dalam UU TPKS

Kabar Baru Jam 7

Kabar Baru Jam 8

Mendorong Vaksinasi Booster untuk Antisipasi Kenaikan Kasus Covid-19 di Akhir Tahun

Most Popular / Trending