Bagikan:

FOMO Sapiens : Perkara Kriss Hatta dan Cukai Minuman Berpemanis

Kris Hatta dinilai melakukan child grooming lantaran hubungan romantiknya dengan anak berusia 14 tahun. Sementara, pemerintah mewacanakan cukai minuman berpemanis pada 2023.

NASIONAL | RAGAM

Jumat, 30 Sep 2022 15:58 WIB

FOMO Sapiens : Perkara Kriss Hatta dan Cukai Minuman Berpemanis

Ilustrasi highlight berita sepekan. (FOTO : KBR)

KBR, Jakarta – Kris Hatta menjadi topik hangat lantaran hubungan romantiknya dengan anak berusia 14 tahun atau 20 tahun lebih muda. Bahkan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) juga turut bersuara, seperti apakah?

Wacana cukai untuk minuman berpemanis mulai dikumandangkan. Kebijakan tersebut rencananya diimplementasikan pada 2023. Apa sih yang bikin pemerintah mengeluarkan kebijakan itu?

1. Perkara Kriss Hatta

Pekan ini warganet diramaikan dengan istilah child grooming. Child grooming merupakan kejahatan yang telah dilarang dengan sejak Konvensi Internasional untuk Pemberantasan Perdagangan Perempuan dan Anak disepakati sebagai perjanjian multilateral. Tindakan kejahatan ini berdampak buruk pada korbannya. Seperti apa? Lalu, bagaimana mengenali tahapan terjadinya child grooming?

Baca juga : Jokowi Serukan Cegah Perkawinan Anak

2. Cukai Minuman Berpemanis

Kementerian Keuangan berencana menerapkan kebijakan cukai plastik dan minuman berpemanis dengan alasan kesehatan. Kebijakan itu dilakukan demi mengerem konsumsi gula masyarakat dan pembatasan iklan minuman berpemanis buat anak-anak. Bagaimana selengkapnya?

Baca : Struktur Cukai Rokok Tidak Optimal Beri Peluang Pabrikan Jual Rokok Lebih Murah

Dengarkan bahasan selengkapnya di FOMO Sapiens pekan ini bersama Ian Hugen dan Aika Renata. Akan ada juga obrolan terkait risis global seperti energi dan pangan, serta dampaknya ke Indonesia.

*Kami ingin mendengar saran dan komentar kamu terkait podcast yang baru saja kamu simak, melalui surel ke [email protected]

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Menyongsong Terbitnya Rupiah Digital

Episode 4: Relasi Kuasa: Akar Kekerasan & Pengaturannya Dalam UU TPKS

Kabar Baru Jam 7

Kabar Baru Jam 8

Mendorong Vaksinasi Booster untuk Antisipasi Kenaikan Kasus Covid-19 di Akhir Tahun

Most Popular / Trending