covid-19

Meski Ada Virus Varian Mu, Vaksin Booster Belum Mendesak untuk Umum

"Jadi belum ada pengarahan bahwa vaksin itu harus disesuaikan untuk varian-varian baru. Karena kita belum tahu beberapa bulan ke depan, varian yang mana yang menjadi dominan,”

BERITA | NASIONAL

Rabu, 08 Sep 2021 15:58 WIB

Meski Ada Virus Varian Mu, Vaksin Booster Belum Mendesak untuk Umum

Petugas menyuntikkan vaksin COVID-19 kepada penyandang disabilitas di Temanggung, Jawa Tengah, Selasa (7/9/2021). (Foto: ANTARA/Anis Efizudin)

KBR, Jakarta - Kepala Lembaga Biologi Molekuler (LBM) Eijkman, Amin Soebandrio menyatakan belum ada kegentingan menyuntikkan vaksin booster kepada masyarakat umum, meskipun bermunculan varian baru virus korona.

Baru-baru ini, Organisasi Kesehatan Dunia, WHO mengklasifikasikan strain baru covid-19, varian Mu sebagai variant of interest, atau varian yang diamati, dengan sifat virus yang lebih cepat menular, lolos diagnostik PCR, mempunyai gejala klinis berbeda, dan merespons antibodi yang menurun pascavaksinasi.

“Efikasi vaksin itu semuanya masih di atas 50 persen. Nah pedoman WHO, selama efikasi di atas 50 persen itu masih bisa digunakan, termasuk variant of interest atau variant of concern. Jadi belum ada pengarahan bahwa vaksin itu harus disesuaikan untuk varian-varian baru. Karena kita belum tahu beberapa bulan ke depan, varian yang mana yang menjadi dominan,” ucap Amin saat dihubungi KBR, Rabu, (8/9/2021).

Baca: Varian Covid Mu, Kalbar Perketat Perbatasan dengan Malaysia

Amin Soebandrio menambahkan, kunci penanganan varian Mu masih sama seperti varian virus korona lainnya, yaitu kepatuhan masyarakat menjaga dan menjalankan protokol kesehatan, termasuk vaksinasi Covid-19.

"Termasuk prosedur karantina mandiri bagi pelaku perjalanan dari luar negeri harus tetap diberlakukan" jelasnya.

Varian Mu Belum Masuk ke Indonesia

Sementara itu, Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 belum memastikan bahaya kemunculan varian baru virus Covid-19 tipe B1621 atau disebut varian Mu.

Juru bicara Satgas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito mengatakan keganasan strain baru virus varian covid Mu itu masih dalam tahap penelitian.

"Indikasi karakteristik Mu seperti lebih ganas dibanding Delta atau dapat menghindari kekebalan tubuh, masih merupakan perkiraan dan masih terus diteliti lebih dalam," kata Wiku dalam siaran pers secara daring, Selasa (7/9/2021).

Wiku mengungkapkan, dari pemeriksaan whole genome sequence tertanggal 6 September 2021 menyebutkan varian ini tidak ditemukan di Indonesia.

Di Kalimantan Barat, Dinas Kesehatan provinsi itu meminta Satgas Penanganan Covid-19 di perbatasan Indonesia-Malaysia, tidak lengah terhadap lalu lintas masyarakat yang datang dari Malaysia.

Hal itu, menurut Kepala Dinas Kesehatan Kalbar, Harisson, mencegah masuknya virus korona, dan varian mutasinya.

Harisson mengungkapkan, tingginya kasus positif Covid-19 di Malaysia dikhawatirkan membuat infeksi virus korona beberapa kabupaten di perbatasan meningkat, bahkan membawa mutasinya, terlebih varian Mu masuk ke Kalbar.

“Yang menjadi riskan itu daerah perbatasan dengan Serawak. Malaysia itu kan masih tinggi, sementara kita sudah rendah, jadi satgas di perbatasan jangan lengah, masyarakat yang datang itu harus benar-benar diisolasi, di-PCR kemudian diisolasi selama delapan hari. Yang kita khawatirkan dari Serawak masuknya varian Mu itu. Untuk pelabuhan ini kan sampai sekarang masih kita tutup,” jelas Harisson.

Baca juga: Kasus Terus Turun, Jokowi Klaim Mampu Kendalikan Covid-19 Varian Delta

Harisson menambahkan, saat ini, daerah yang perlu dijaga adalah kabupaten/kota di daerah berbatasan dengan Sarawak di Malaysia, seperti Sambas, Sanggau, Bengkayang, Sintang, dan Kapuas Hulu.

“Kita melihat adanya kecenderungan peningkatan kasus di beberapa kabupaten perbatasan ini yang kita curigai masuknya warga kita dari negara tetangga melalui jalur tikus,” ujarnya.

Harisson juga meminta petugas di perbatasan memantau jalur-jalur ilegal yang kemungkinan dilewati warga.

Varian covid Mu pertama kali ditemukan di Columbia, Januari lalu. Varian ini lantas ditetapkan sebagai varian yang diamati (VOI) oleh organisasi kesehatan dunia (WHO) pada 30 Agustus 2021.

Editor: Kurniati Syahdan

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 12

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7