covid-19

Kemenkes: Waspada Potensi Gelombang Ketiga COVID-19 Awal Tahun Depan

Kemenkes: Waspada Potensi Gelombang Ketiga COVID-19 Awal Tahun Depan

BERITA | NASIONAL

Rabu, 22 Sep 2021 22:47 WIB

gelombang ketiga COVID-19

Seorang ibu membawa balita mengunjungi pusat perbelanjaan Senayan City, Jakarta, Rabu (22/9/2021). (Foto: ANTARA/Fakhri Hermansyah)

KBR, Jakarta - Kementerian Kesehatan terus mewanti-wanti potensi terjadinya gelombang ketiga penularan COVID-19 di Indonesia.

Juru bicara Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi mengatakan Indonesia berpotensi mengalami lonjakan kasus pada awal tahun depan, jika di akhir tahun ini tidak dilakukan pembatasan atau pengetatan aturan saat libur Natal dan Tahun Baru.

"Ada skenario yang merah, ini bahaya, jika skenario mobilitas libur Natal dan Tahun Baru tidak dilakukan penekanan. Artinya, kita tidak melakukan pengetatan atau pembatasan pelarangan kegiatan di Nataru, maka seperti inilah kondisi kita yang akan terjadi. Kalaupun ada penekanan kurvanya menjadi lebih landai," kata Nadia dalam diskusi virtual di kanal Divhumas Polri, Rabu (22/9/2021).

Nadia menjelaskan, potensi penularan varian baru virus korona semakin besar jika mobilitas masyarakat meningkat.

Baca juga:


Nadia mengatakan saat ini memang belum ditemukan virus COVID-19 varian Mu di Indonesia. Mu adalah salah satu varian baru mutasi virus korona yang sedang dalam pantauan WHO dan masuk dalam golongan variant of interest (VOI).

"Kita berharap kita masih bisa menahan varian baru, tentunya. Tadi kami sampaikan persiapan jika itu terjadi. Tapi kita berharap peningkatan kasus itu dalam bentuk kurva warna ungu ini, artinya betul-betul kita bisa kendalikan dan kita bisa atasi dengan baik," imbuhnya.

Grafik kasus paparan virus korona di Indonesia saat ini terus menunjukkan penurunan tajam. Hingga Selasa (20/9/2021) tambahan kasus positif rata-rata berada di kisaran tiga ribu perhari. Angka ini hampir sama dengan kasus baru harian September tahun lalu, saat gelombang pandemi pertama menerjang Indonesia.

Jumlah kasus aktif juga anjlok drastis. Bila pada puncak gelombang kedua, Juli lalu kasus aktif mencapai 560 ribu orang, kemarin angka kasus aktif ada di kisaran 56 ribu orang, atau tinggal sepersepuluh dari kasus tertinggi.

Menurut data Satuan Tugas Penanganan COVID-19, saat ini tidak ada lagi wilayah di Indonesia yang berstatus zona merah.

Epidemiolog dari Universitas Griffith Australia, Dicky Budiman mengatakan saat ini masa krisis serangan virus korona varian Delta masih belum berakhir.

Baca juga:


Editor: Agus Luqman

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Semai Toleransi ala Anak Muda Bandung