covid-19

Kasus COVID-19 Turun, Tingkat Kunjungan Mal Meningkat

Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) menyebut tingkat kunjungan mal meningkat setelah kasus COVID-19 turun dan ada pelonggaran PPKM.

BERITA | NASIONAL

Kamis, 09 Sep 2021 04:25 WIB

Kasus COVID-19 Turun, Tingkat Kunjungan Mal Meningkat

Petugas membersihkan lantai saat pembukaan hari pertama mal di Beachwalk Shopping Center, Kuta, Badung, Bali, Rabu (8/9/2021). (Foto: ANTARA/Fikri Yusuf)

KBR, Jakarta - Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI) menyebut kebijakan pemerintah melonggarkan pembatasan kegiatan masyarakat mulai berdampak pada tingkat kunjungan warga ke mal atau pusat perbelanjaan.

Ketua Umum APPBI Alphonzus Widjaja mengatakan tingkat kunjungan ke mal naik meski lambat. Ia berharap kondisi bisa normal kembali pada akhir tahun nanti.

"Kalau kita bicara tingkat kunjungan saat, ini setelah diberikan pelonggaran bergerak naik. Tetapi tentunya masih memerlukan waktu untuk bisa pulih seperti sebelum pemberlakuan PPKM darurat ataupun PPKM berdasarkan level. Tetapi sudah terlihat pergerakannya, sedikit lambat tetapi saya kira ini akan terus bergerak. Mudah-mudahan nanti di triwulan 4 bisa mencapai kondisi seperti sebelum pemberlakuan PPKM darurat," kata Alphonzus dalam diskusi virtual di kanal Kemkominfo TV, Rabu (8/9/2021).

Baca juga:

Alphonzus menyebut, pemberlakuan protokol wajib vaksinasi bagi pengunjung mal dan pusat belanja juga merupakan sebuah langkah baik agar masyarakat terdorong untuk melakukan vaksinasi COVID-19.

Alphonzus mengatakan, seluruh mal atau pusat perbelanjaan anggota APPBI di Jawa-Bali saat ini sudah mengimplementasikan penggunaan aplikasi PeduliLindungi untuk pengunjung mal dan pusat perbelanjaan.

Sedangkan penggunaan aplikasi PeduliLindungi di mal dan pusat perbelanjaan di luar Jawa-Bali akan dilakukan secara bertahap.

"Ini kami bisa mendorong juga percepatan vaksinasi, sehingga kami juga mendukung sepenuhnya. Sehingga kita bisa cepat-cepat memenuhi target vaksinasi, sehingga kita juga bisa cepat keluar dari krisis kesehatan yang selama ini kita alami," ujarnya.

Jangan euforia

Satuan Tugas Penanganan COVID-19 meminta masyarakat tidak gembira berlebihan dengan tren penurunan kasus Covid-19 di Indonesia. Tren penurunan kasus diikuti kebijakan pemerintah melonggarkan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM).

Juru bicara Satgas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito mengatakan, adanya perbaikan kondisi Covid-19 di Indonesia saat ini patut disyukuri, namun jangan sampai lengah sehingga mengendorkan protokol kesehatan.

Wiku menyebut, fase terberat dalam penanganan pandemi justru fase ketika kasus mulai melandai.

"Belajar dari pengalaman lonjakan kasus sebelumnya, justru fase yang paling berat adalah fase ketika kasus mulai melandai. Fase ini paling berat karena disinilah seluruh lapisan pemerintah dan masyarakat diuji kedisiplinan dan ketahanannya untuk mempertahankan situasi yang telah melandai ini agar tidak kembali mengalami lonjakan kasus," kata Wiku dalam konferensi pers, Selasa (7/9/2021).

Dengan dibukanya aktivitas sosial ekonomi secara bertahap dan perlahan kembali menuju kehidupan normal baru, kata Wiku, diharapkan masyarakat menjadikan momentum ini untuk bersama-sama refleksi bahwa keadaan ini jauh lebih baik dibandingkan keadaan dimana kasus melonjak tinggi, rumah sakit penuh, dan tingginya angka kematian.

"Renungan ini seharusnya lebih dari cukup untuk membuat kita tidak lengah dan terus disiplin protokol kesehatan. Karena tentunya kita tidak mau kembali ke keadaan itu lagi. Ingat cara termudah termurah dan satu-satunya yang paling efektif untuk segera mengakhiri pandemi ini adalah dengan disiplin protokol kesehatan secara kolektif, tidak hanya individu saja namun harus dilakukan oleh seluruh lapisan masyarakat," kata Wiku.

Baca juga:

Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito menambahkan, penanganan pandemi Covid-19 juga dihadapkan dengan tantangan dan kewaspadaan menghadapi varian mutasi virus baru yang terus muncul.

Wiku menjelaskan, pada prinsipnya respon pemerintah dalam menangani pandemi Covid-19 dibagi menjadi tiga fase yaitu fase merespon, memperbaiki, dan mempertahankan.

Saat ini Indonesia masih berada pada fase memperbaiki. Wiku mewanti-wanti, jangan sampai Indonesia kembali lagi ke fase merespon, seperti yang terjadi pada awal Juli lalu saat menghadapi puncak gelombang kedua kasus Covid-19.

"Penanganan ini, adaptasi tersebut diantaranya upaya antisipasi lonjakan kasus baru, intensifikasi vaksinasi, dan perawatan, khususnya demi menekan angka kematian sebesar-besarnya, dan meningkatkan angka kesembuhan setinggi-tingginya. Selain itu dilakukan pula evaluasi kondisi sistem kesehatan yang sempat mengalami kolaps, khususnya terkait aspek finansial fasilitas kesehatan dan psikis tenaga kesehatan," tambah Wiku.

Editor: Agus Luqman

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 7

Layanan Identitas Kependudukan bagi Kelompok Transpuan

Kabar Baru Jam 8

Seruan untuk Lindungi Nakes di Daerah Rawan

Kabar Baru Jam 10