Usai Demo Mahasiswa, Pagar DPR yang Jebol Langsung Diperbaiki

Tak hanya itu, tembok-tembok yang tadinya dicoret-coret juga langsung dicat kembali.

BERITA | NASIONAL

Selasa, 24 Sep 2019 23:42 WIB

Author

Wahyu Setiawan

Usai Demo Mahasiswa, Pagar DPR yang Jebol Langsung Diperbaiki

Usai situasi di depan Gedung DPR steril, sejumlah petugas langsung memperbaiki pagar yang jebol dan mengecat tembok yang semula dicoret-coret. Saat ini hanya tersisa sampah yang masih berserakan di jalanan. Foto: Wahyu Setiawan/KBR

KBR, Jakarta- Demo ribuan mahasiswa di depan gedung DPR Jakarta berujung bentrok dengan aparat kepolisian, Selasa (24/9/2019). Bentrokan itu mengakibatkan rusaknya pagar di depan gedung wakil rakyat tersebut.

Pantauan KBR di lokasi pukul 23.00 WIB, ada salah satu pagar samping DPR yang jebol. Diduga jebolnya pagar itu imbas dari tindakan massa yang berulang kali mencoba menerobos masuk ke dalam.

Usai massa membubarkan diri, sejumlah petugas langsung memperbaiki pagar tersebut. Tak hanya itu, tembok-tembok yang tadinya dicoret-coret juga langsung dicat kembali.

Saat ini hanya tersisa sampah-sampah yang berserakan di depan Gedung DPR. Tampak pula kendaraan water canon dengan kondisi kaca yang hancur tengah terparkir.

Hingga saat ini, situasi di sekitar DPR relatif sudah kondusif. Massa yang tadinya mengarah ke Semanggi, berangsur mulai membubarkan diri.

Hanya saja hingga pukul 23.00 WIB, pergerakan massa masih terpantau di sekitaran fly over arah Slipi. Di sana, polisi beberapa kali menembakkan gas air mata untuk membubarkan massa.

Aksi demo yang dilakukan ribuan mahasiswa dilakukan sejak kemarin hingga hari ini. Demo dilakukan di sejumlah daerah, seperti Jakarta, Makassar, Surabaya, dan Yogyakarta. 

Di Jakarta demo diikuti mahasiswa dari sejumlah universitas, semisal Universitas Indonesia, dan Universitas Trisakti.

Dalam aksinya, mereka mendesak Pemerintah dan DPR menunda pengesahan RKUHP, RUU Pertanahan, RUU Pemasyarakatan, dan RUU Pertanahan, serta mengeluarkan Perppu untuk membatalkan UU KPK. Menurut mereka aturan-aturan tersebut berpotensi mengancam demokrasi dan mencampuri hak privasi warga.

Editor: Sindu Dharmawan 

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Tim Teknis Pengungkapan Kasus Novel Dinilai Belum Ungkap Apapun