Ingin Akhiri Era Energi Fosil, Anak Muda Sedunia Gelar Aksi Global

"Jutaan orang akan meninggalkan kantor dan rumahnya, turun ke jalan-jalan, bergabung dengan para pengunjuk rasa menuntut diakhirinya era bahan bakar fosil."

BERITA | NASIONAL | INTERNASIONAL

Rabu, 18 Sep 2019 15:45 WIB

Author

Adi Ahdiat

Ingin Akhiri Era Energi Fosil, Anak Muda Sedunia Gelar Aksi Global

Ilustrasi: Energi fosil tidak berkelanjutan dan merusak lingkungan. (Foto: Pixabay/Gerd Altmann)

KBR, Jakarta - Anak-anak muda yang tergabung dalam gerakan Global Climate Strike (GCS) akan menggelar aksi peduli krisis iklim pada Jumat (20/9/2019).

"Jutaan orang akan meninggalkan kantor dan rumahnya, turun ke jalan-jalan, bergabung dengan para pengunjuk rasa demi menuntut diakhirinya era bahan bakar fosil," jelas GCS dalam situs resminya.

GCS adalah gerakan peduli lingkungan yang melibatkan anak muda dari sekitar 150 negara di Asia, Eropa, Amerika, Afrika, dan Australia.

GCS didukung berbagai organisasi sipil tingkat global seperti Greenpeace International, Change.org, Amnesty International, dan puluhan lembaga lainnya.

Lewat aksi peduli krisis iklim, GCS ingin menyebarkan kesadaran bahwa, "Rumah kita kebakaran, dan kita harus segera menyelamatkannya."

Di Indonesia sendiri aksi serupa akan dilakukan di 14 kota besar, dari Jakarta, Surabaya, sampai Kupang, dengan nama "Aksi Jeda untuk Iklim".


Tuntut Status Darurat Iklim

Dalam "Aksi Jeda untuk Iklim" yang akan digelar Jumat (20/9/2019), ratusan anak muda di berbagai kota Indonesia bakal menggelar long march menuntut pemerintah menetapkan status darurat iklim.

Mereka juga menuntut pemerintah supaya menggencarkan penurunan emisi karbon, salah satunya dengan menggenjot penggunaan energi terbarukan.

“Kami ingin mendesak agar seluruh politikus, perusahaan, dan masyarakat untuk berhenti bersikap masa bodoh, dan serius bertindak untuk memastikan kehidupan generasi mendatang,” kata Alexandra Karyn, salah satu inisiator aksi, dalam rilisnya yang diterima KBR, Rabu (18/9/2019).

“Kebakaran hutan dan lahan, cuaca ekstrem, kekeringan, dan gagal panen, hanya beberapa dampak dari krisis iklim yang sudah negara kita alami. Ilmuwan menghitung, umur bumi kita sudah tidak lebih dari 11 tahun sebelum mencapai climate tipping point,” katanya lagi.

Selain menyerukan isu krisis iklim, energi, dan keberlanjutan lingkungan, aksi ini juga ditujukan untuk menyambut Pertemuan PBB tentang Perubahan Iklim yang akan digelar tanggal 23-24 September 2019 di New York, Amerika Serikat.


Anak Pesantren Ikut Aksi

"Aksi Jeda untuk Iklim" juga didukung oleh santri-santri dari berbagai pesantren Indonesia.

“Untuk memukul mundur krisis iklim, kita butuh keterlibatan semua orang dan dari semua kalangan," kata Mutia, salah satu penggagas aksi.

"Kita dapat memetik pelajaran dari Pesantren Miskat Al-Anwar di Bogor yang menginisiasi pesantren berbasis ekologi. Ada juga Pesantren Attarbiyatul Wathoniyah (PATWA) di Cirebon yang menggunakan energi terbarukan sebagai sumber listrik di masjid mereka," jelas Mutia.

Editor: Agus Luqman

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 12

Ponpes Kebon Jambu Cirebon, Pencetak ‘Ulama Perempuan’

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Cina Berencana Melarang Teknologi Asing di Seluruh Kantor Pemerintahan dan Institusi Publik