Batalkan Revisi UU KPK!

mari kita lawan siapapun yang melemahkan Komisi Pemberantasan Korupsi

BERITA , NASIONAL

Jumat, 06 Sep 2019 17:53 WIB

Author

Lea Citra

Batalkan Revisi UU KPK!

Pegawai KPK menggelar aksi unjuk rasa di kantor KPK, Jakarta, Jumat (6/9/2019). Dalam aksinya mereka menolak revisi UU KPK dan menolak calon pimpinan KPK yang diduga bermasalah. (Foto: Antara/Sigid Kurniawan)

KBR, Jakarta - Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mendesak Presiden Joko Widodo membatalkan revisi Undang-Undang KPK, yang usulannya telah disetujui DPR RI.

Penyidik KPK, HN Christian mengatakan, revisi UU KPK akan melumpuhkan KPK dalam memberantas korupsi.

Ia menegaskan, seluruh pegawai KPK akan melakukan aksi-aksi mendesak presiden menghentikan revisi UU KPK, jika pembahasan revisi UU KPK terus berlanjut.

"Kita semua tau, bahwa kemiskinan merajalela di mana-mana, karena ulah para koruptor. Setuju teman-teman! Oleh sebab itu saya mengimbau kepada seluruh masyarakat Indonesia, mari kita lawan siapapun yang melemahkan Komisi Pemberantasan Korupsi," kata Penyidik KPK, HN Christian di gedung Merah Putih KPK, Jumat (6/9/2019).

Ia menjelaskan, ada 9 persoalan di revisi UU KPK, di antaranya terancamnya independensi KPK, penyadapan dipersulit dan dibatasi, pembentukan Dewan Pengawas KPK, sumber penyelidik dan penyidik dibatasi, penuntutan perkara korupsi harus berkoordinasi dengan Kejagung, perkara yang diperhatikan masyarakat tak jadi kriteria, kewenangan penuntutan dipangkas, kewenangan strategis dihilangkan, hingga kewenangan mengelola laporan LHKPN dipangkas.

Menurut Christian, bantahan DPR akan perlemahan KPK hanya omong kosong, karena jika DPR hendak memperkuat KPK, maka dukung KPK memberantas korupsi dan batalkan revisi UU KPK.

Sebelumnya, Wakil Ketua KPK, Thony Saut Situmorang, Novel Baswedan, hingga ratusan pegawai KPK melakukan aksi penolakan revisi UU KPK. 

Editor: Kurniati Syahdan

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Eps.5: Kuliah di Iran, Cerita dari Bahesty Zahra

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17