Abaikan Korban perkosaan, Migrant Care Desak Izin Penyalur TKI di Taiwan Dicabut

"Kalau agensi memang benar-benar tidak merespon laporan ini pihak KDEI Indonesia itu bisa meminta pemerintah Taiwan itu mencabut izin agensi tersebut,"

BERITA | NASIONAL

Senin, 12 Sep 2016 18:12 WIB

Author

Randyka Wijaya

Abaikan Korban perkosaan, Migrant Care Desak  Izin   Penyalur TKI di Taiwan Dicabut

Ilustrasi



KBR, Jakarta-
Organisasi advokasi pekerja migran, Migrant Care menilai upaya Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang jadi korban perkosaan di Taiwan mengunggah videonya ke Youtube sebagai bentuk frustasi. Korban yang merupakan perempuan berusia 31 tahun itu nekat mengunggah video tersebut ke Youtube lantaran laporannya tak digubris oleh agensi penyalurnya. Bahkan, korban sempat berupaya bunuh diri dengan menyayat pergelangan tangannya.

Analis Kebijakan Migrant Care, Wahyu Susilo mengatakan Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia (KDEI) di Taiwan bisa meminta pemerintah setempat untuk mencabut izin usaha agensi penyalur TKI tersebut. Ini apabila agensi penyalur memang tidak merespon laporan dari korban.

"Saya kira itu bentuk frustasi ya artinya kan harus dalam konteks ini pihak agensi, pihak pemerintah Taiwan dan pihak perwakilan Indonesia di sana KDEI itu harus segera bertindak gitu lho. Itu yang membuat kadang-kadang teman-teman TKI kita itu berbuat atau melakukan hal-hal yang sepatutnya tidak dia lakukan. Misalnya rencana bunuh diri atau tindakan-tindakan lain yang sebetulnya itu juga kontraproduktif gitu lho. Kalau agensi memang benar-benar tidak merespon laporan ini pihak KDEI Indonesia itu bisa meminta pemerintah Taiwan itu mencabut izin agensi tersebut," kata Wahyu Susilo kepada KBR, Senin (12/09/2016).

Migrant Care meminta pemerintah Indonesia untuk mendesak pemerintah Taiwan segera menyelesaikan kasus ini. Kata dia, yang terpenting adalah pelaku pemerkosaan harus diproses hukum. Wahyu menilai kasus tersebut akibat relasi kekuasaan yang tidak setara antara majikan dan buruh.

"Kemudian ini kan juga gender-based violence, kekerasan yang berbasis pada ketidakadilan gender. Ekspresinya biasanya kekerasan dan perkosaan seperti itu," ujar Wahyu.

Kemarin, Kejaksaan Thaicung telah mengajukan permintaan penahanan ke pengadilan setempat untuk tersangka pemerkosa, demikian laporan dari Kantor Berita Taiwan, CNA. Pemerkosa adalah majikannya sendiri bermarga Hsieh (58). Pria asal Taiwan itu diserahkan ke jaksa usai diperiksa oleh Kepolisian setempat. Hsieh sempat kabur setelah korban melapor kepada Kementerian Ketenagakerjaan Taiwan melalui hotline bebas pulsa 1995, khusus untuk para pekerja asing.

Korban telah merekam dengan telepon genggamnya saat dia diperkosa Hsieh. Awalnya, korban mengirim rekaman video itu kepada agen penyalurnya. Namun, makelar tenaga kerja asing itu tak melakukan tindakan apapun. Kemudian, korban mengunggah video perkosaan itu ke Youtube pekan lalu (08/09). Kini video tersebut telah dihapus oleh Youtube. Kejaksaan Thaicung  mempertimbangkan video itu sebagai barang bukti di persidangan.

Korban merupakan seorang pengasuh lansia. Ia dipekerjakan Hsieh untuk merawat ayahnya. Hsieh sendiri telah menikah dan tinggal bersama kedua orang tuanya di Kota Thaicung, Taiwan. 

Editor: Rony Sitanggang
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Ramadan Kelabu Korban Gempa Malang

Kabar Baru Jam 7

Maqam Ibrahim: Mengaji Artefak Arkeologi

Kebebasan dalam Berpakaian

Kabar Baru Jam 8