Pengamat: Kabareskrim Baru Jangan Malu SP3 Kasus Tak Benar

Pengamat kepolisian dari Universitas Indonesia Bambang Widodo Umar menyarankan Kepala Badan Reserse dan Kriminal Mabes Polri Anang Iskandar melakukan gelar perkara kasus peninggalan Budi Waseso.

BERITA | NASIONAL

Senin, 07 Sep 2015 22:33 WIB

Author

Lulu Zuhriyah

Pengamat: Kabareskrim Baru Jangan Malu SP3 Kasus Tak Benar

Kabareskrim Mabes Polri yang baru, Anang Iskandar menggantikan Budi Waseso. (Foto: bnn.go.id)

KBR, Jakarta - Pengamat kepolisian dari Universitas Indonesia Bambang Widodo Umar menyarankan Kepala Badan Reserse dan Kriminal Mabes Polri Anang Iskandar melakukan gelar perkara kasus peninggalan Budi Waseso.

Bambang Widodo Umar mengatakan gelar perkara itu perlu melibatkan berbagai pihak yang memiliki kemampuan dan pemahaman di bidang hukum. 

Tujuan gelar perkara, menurut Bambang Widodo, adalah untuk menyelaraskan tindakan-tindakan yang sudah dilakukan Bareskrim POLRI pada masa sebelumnya dengan ketentuan hukum yang baik dan benar.

"Jadi Kabareskrim yang baru ini menggelar perkara dulu lah. Undang itu ahli-ahli dari luar, dari perguruan tinggi atau dari pakar. Juga dari BPK untuk betul-betul mengetahui prosedur melawan hukumnya ini benar atau tidak. Dari KPK kalau perlu diundang juga. Sehingga kasus-kasu yang diungkap atau yang ditangkap itu memenuhi syarat dalam proses-proses hukum atau tidak. Kalau tidak, polisi ya harus fair, artinya ya ditutup, SP3. Tidak perlu malu," kata pensiunan polisi berpangkat Komisaris Besar di Kantor ICW Jakarta, Senin (7/9) 

Menurut Widodo, kinerja Buwas mengenai pengusutan kasus-kasu besar perlu diapreasiasi. Namun kata dia, perlu diperhatikan apakah sudah sesuai dengan kaidah-kaidah hukum  atau belum. 

Salah satu yang diapresiasi Bambang Widodo adalah kasus penggrebekan mafia penimbunan sapi di Tangerang. Dalam kasus itu polisi menemukan ada 22 ribu ekor sapi yang ternyata tidak sesuai aturan pemerintah. 

Editor: Agus Luqman  

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Bekas Napi Koruptor Harus Jeda Lima Tahun Sebelum Maju di Pilkada