Buruh Ancam Kembali Turun ke Jalan Jika Rupiah Terus Anjlok

Pelemahan rupiah diniai telah menyebabkan maraknya pemutusan hubungan kerja oleh perusahaan.

BERITA | NASIONAL

Selasa, 01 Sep 2015 15:33 WIB

Author

Bambang Hari

Buruh Ancam Kembali Turun ke Jalan Jika Rupiah Terus Anjlok

Ribuan buruh berunjuk rasa menuntut haknya dan mengeluhkan nilai tukar rupiah yang terus anjlok, sehingga menyebabkan tingginya gelombang PHK, Selasa (1/9/2015)

KBR, Jakarta- Sejumlah serikat buruh di Jakarta, Bogor, Depok, dan Tangerang mengancam kembali turun ke jalan apabila nilai tukar rupiah terus melemah. Dalam aksi yang berlangsung pagi tadi, salah satu orator mengatakan, nilai tukar rupiah yang terus melemah mendorong tingginya angka pemutusan hubungan kerja (PHK) yang dilakukan oleh perusahaan. Selain itu, hal tersebut juga berimbas pada tingginya harga berbagai kebutuhan pokok.

"Pada Bulan September ini, kami tegaskan kepada Pemerintah, kami akan turun terus ke jalan apabila rupiah melemah sampai 17 ribu per dolar. Itu artinya, buruh sudah layak memprotes kinerja tim ekonomi di Pemerintahan Joko Widodo. Kami juga akan menuntut mereka kembali di-reshuffle," katanya, Selasa (1/9/2015).

Sejak pagi tadi, ribuan buruh yang berasal dari Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi berunjuk rasa di beberapa titik, semisal Bundaran Hotel Indonesia, Bundaran Patung Kuda, hingga Istana Negara. Selain menuntut hak-haknya sebagai buruh, mereka juga mengeluhkan nilai tukar rupiah yang terus anjlok yang dinilai mendorong terjadinya gelombang PHK.

Editor: Malika

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Rangkuman Berita Sepekan KBR

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Jaksa Agung Diminta Klarifikasi Pernyataan bahwa Tragedi Semanggi I-II Bukan Pelanggaran HAM Berat