Bagikan:

Sebelum Diracun, Munir Tandatangani Cek Ini

KBR, Jakarta - Sepuluh tahun sudah kasus pembunuhan Munir berlalu tanpa kejelasan siapa pembunuhnya. PortalKBR menurunkan sejumlah tulisan sebagai untuk mengingatkan kita bersama: pembunuh Munir belum ditemukan.

NASIONAL

Kamis, 04 Sep 2014 14:18 WIB

Sebelum Diracun, Munir Tandatangani Cek Ini

munir, HAM

KBR, Jakarta - Sepuluh tahun sudah kasus pembunuhan Munir berlalu tanpa kejelasan siapa pembunuhnya. PortalKBR menurunkan sejumlah tulisan sebagai untuk mengingatkan kita bersama: pembunuh Munir belum ditemukan.

KBR, Jakarta - Direktur Eksekutif The Indonesian Human Rights Monitor (Imparsial) Poengky Indarti menunjuk ke salah satu dinding di ruang kerjanya. Di situ ada kertas warna cokelat yang dibingkai apik, diletakkan sendiri saja di sisi tembok itu, di tempat paling atas.

“Itu cek, tanda tangan terakhir dia di cek itu,” kata Poengky menjelaskan dengan bersemangat. Dia yang dimaksud adalah aktivis HAM Munir.
“Yang paling penting itu tanda tangannya, itu 6 September.”

Munir tewas diracun pada 7 September 2004, saat terbang ke Amsterdam dengan pesawat Garuda Indonesia GA 974. Di Belanda, sedianya Munir akan meneruskan kuliah S2 bidang Hukum Humaniter di Universitas Utrecht.

Meski cek itu sudah ditandatangani, Poengky sengaja tidak menukarkan cek kosong itu dengan uang tunai. Kata dia, kertas itu yang paling berharga dari semua peninggalan sahabat dekatnya itu.

Cek itu memang cek yang sengaja dibiarkan kosong di kolom angka, namun sudah dibubuhi tanda tangan Munir. Kata Poengky, cek itu seharusnya untuk mencairkan uang operasional untuk membiayai kegiatan sehari-hari LSM Imparsial. Saat itu Munir lah yang menjadi Direktur Eksekutifnya.

“Uang baru bisa dicairkan kalau ada tanda tangan dua dari empat pendiri Imparsial,” jelas Poengky. Keempat pendiri Imparsial pada 2002 lalu adalah Rachlan Nassidik, Rusdi Marpaung, Munir dan Poengky sendiri.

Bingkai cek itu selalu dipamerkan Poengky setiap kali ada yang datang ke kantornya dan bertanya soal Munir.

Foto dalam laptop

Bagi Poengky, ada banyak momen berharga di saat-saat terakhir Munir sebelum terbang ke Belanda, 6 September 10 tauhn lalu. Kumpulan foto Munir dan istrinya, Suciwati, ketika di Bandara Soekarno Hatta malam itu masih tersimpan rapi dalam laptopnya.

“Saya cerita sambil melihat foto yah. Fotonya di laptop. Munir itu sahabat lama saya," kata dia lagi sembari membuka laptop.
 
Di antara banyak foto itu, salah satunya foto Munir dan Suciwati yang tengah bersantai di gerai Dunkin Donuts di Terminal 2E Bandara Soekarno Hatta. Suci mengenakan sweater abu-abu bermotif kotak tengah memegang gelas berisi susu. Sementara Munir mengenakan baju berkerah krem berlengan pendek biru.

Munir saat itu tengah buku cek dan pulpen hitam. Buku itu dipangku di atas tas hitam Munir. Suci dan Munir berdekatan dengan membawa tas besar bermotif kotak-kotak kecil.

“Saat itulah Munir menulis cek,” jelas Poengky. “Di Dunkin Donuts Terminal 2F itu dia minum cokelat susu dan Suci minim susu putih. Munir nggak habis minumnya dan dihabiskan oleh Suci.”

“Kita janjian ketemu di sini tanggal 6 (September 2004). Dia bilang waktu itu ‘Wah aku lagi tanda tangan, jangan difoto’,” kata Poengky mengenang apa yang dikatakan sahabatnya. “Maklum waktu itu foto digital masih baru, jadi aku norak foto-foto.”

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Pengungsi dan Persoalan Regulasi di Indonesia