Menyusuri Sejarah 30 September di Museum Lubang Buaya (2)

KBR, Jakarta

NASIONAL

Selasa, 30 Sep 2014 15:37 WIB

Menyusuri Sejarah 30 September di Museum Lubang Buaya (2)

PKI, lubang buaya

KBR, Jakarta – Museum ini lebih dikenal sebagai Museum Lubang Buaya, letaknya di Jakarta Timur. Nama resmi museum ini sebetulnya adalah Museum Pengkhianatan PKI, lengkap dengan diorama yang mempropagandakan “kekejaman PKI”.

(Baca juga: Menyusuri Sejarah 30 September di Museum Lubang Buaya (1))

Selain museum, di kompleks ini juga ada Monumen Pancasila Sakti. Juga ada sumur yang jadi tempat pembuangan enam pahlawan revolusi dengan dalam sekitar 12 meter. Ada juga boneka rekonstruksi penyiksaan yang terjadi pada tanggal 30 September 1965 malam itu. Dalam museum juga ada mobil truk yang dipakai untuk menculik para jenderal.

Kawasan Museum Lubang Buaya yang berdiri di atas lahan 14,6 hektar ini dibangun oleh Presiden ke-2 Indonesia, Soeharto. Sejumlah sejarawan menilai ada banyak informasi bohong tentang peristiwa 30 September 1965 yang dimunculkan lewat aneka diorama di sana. Sejarawan menilai, museum hanya menampilkan satu sudut pandang sejarah yaitu versi TNI, meskipun ada banyak bantahan soal kekejaman ini dari kalangan sejarah, saksi sejarah dan pelaku.

Pemaksaan sejarah

Sejarahwan sekaligus Pemimpin Redaksi Majalah Historia, Bonnie Triyana menyebut museum itu sebagai pemaksaan terhadap pengetahuan sejarah. Menurutnya, pasca Orde Baru runtuh banyak sejarah-sejarah yang selama 32 tahun dipertahankan akhirnya terbantahkan. Sebab setelah itu banyak pihak seperti media dan sejarahwan yang berani menggali fakta yang terjadi. Salah satunya tentang G-30-S yang tidak lagi bisa menyalahkan PKI sebagai dalang.

"Kita pakai logika saja kalau mau mengubah (pengetahuan sejarah). (Semisal ungkapan) komunis menghancurkan, tidak ber-Tuhanatau apa lah. Yang harus diajarkan ke siswa itu adalah hal yang logis dan berdasarkan dengan fakta,” jelas Bonnie ketika ditemui di kantornya. “Itu penting. nggak bisa mengajarkan sejarah pakai doktrin sekarang ini.”

Bonnie bercerita, salah satu tulisan panjang yang untuk kali pertama membantah keterlibatan PKI dalam gerakan 30 September ditulis oleh Benedict Anderson and Ruth Mcvey dalam sebuah jurnal ilmiah. Tulisan ini dikenal sebagai Cornell Paper dengan judul 'A Preliminary Analysis of the October 1, 1965, Coup in Indonesia'.

Cornell Paper memaparkan teori bahwa PKI maupun Soekarno tidak terlibat dalam gerakan 30 September 1965. PKI dan Soekarno disebut sebagai korban. Cornell Paper itu menilai kudeta adalah sebuah masalah internal dalam tentara yang bertujuan menggeser beberapa jendral yang dikatakan bekerja sama dengan CIA.

Dalam tulisannya itu, Anderson menyebutkan beberapa bukti Presiden ke-2 RI, Soeharto terlibat dalam G30S. Di antaranya hampir semua tokoh militer yang berpartisipasi dalam gerakan 30 September 1965 adalah bawahan dekat Suharto.

"Para sejarahwan itu sudah menulis, Ben Anderson menulis tentang peristiwa penculikan jenderal. Dia nggak bisa masuk ke Indonesia karena menulis yang berlainan menurut Orde Baru. Itu yang disebut mono-versi sejarah. Sejarah yang diajarkan dalam 1 versi saja," cerita Bonnie.

Meski begitu, Bonnie tidak menuduh kalau cerita yang dibangun di Museum Nasional bukanlah isu nasional yang ‘seksi’. Tapi lewat museum ini, semua orang diajak untuk menyepakati kalau sejarah tak bisa dijelaskan dengan sederhana.

“Semua harus berdasarkan fakta. Yang selama ini dibangun kan minos. Apa yang terjadi sesudah peristiwa, dibangun narasinya, dibuat Hari Kesaktian Pancasila. Untuk dibuat narasi kekuasaan. Kan begitu caranya. Dibikin, direproduksi, simbolnya, filmnya," jelas dia.

Namun menurutnya, di zaman informasi dan keterbukaan ini sangat mudah untuk mencari perbandingan soal fakta sejarah mulai dari lewat internet sampai situs jual beli lokal.

"Sehingga orang tidak perlu ditakut-takuti (soal sejarah). Zaman sekarang kalau orang ditakuti komunis itu malah ngoceh di Twitter," kelakarnya.

"Tujuan belajar sejarah itu bukan untuk menerima satu kebenaran secara final. Inti dari pengajaran sejarah itu adalah membuat siswa, krisis dan terdorong untuk mencari kebenaran yang diperlukan,” jelas Bonnie.

“Sejarah itu kan sekali terjadi. Nggak mungkin fakta itu secara objektif, peristiwanya sudah berlalu. Nggak mungkin diulang. Yang memungkinkan dalam perjalan sejarah itu menampilkan fakta tentang kejadian. Mengenai fakta siapa yang menyebabkan, biarkan lah orang yang mencari. Inti dalam sejarah itu adalah proses pencarian itu, bukan bersifat final.”

Editor: Citra Dyah Prastuti

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Survei Sebut Mayoritas Masyarakat Ingin Pandemi Jadi Endemi