Menyusuri Sejarah 30 September di Museum Lubang Buaya (1)

KBR, Jakarta

NASIONAL

Senin, 29 Sep 2014 17:43 WIB

Menyusuri Sejarah 30 September di Museum Lubang Buaya (1)

PKI, lubang buaya

KBR, Jakarta – Kesan seram langsung menyergap begitu masuk ke kawasan Museum Pengkhianatan Partai Komunis Indonesia (PKI) – atau Museum Lubang Buaya. Dari nama museum saja sudah terang benderang apa yang hendak digambarkan di dalamnya.

Sejak berdiri pada tahun 1972, tak ada perubahan di museum itu. Cerita dan relief di sana masih jelas-jelas menyebut PKI berlaku keji, berkhianat dan kejam. Ini terlihat dari berbagai cerita yang ada di gedung megah berlantai dua ini lewat berbagai diorama di balik kubus kaca yang ada.

Diorama itu menceritakan semua “kejahatan PKI”, salah satunya lewat penggalan foto hitam putih berukuran besar di dinding. Foto itu menggambarkan proses pengangkatan jenazah enam perwira tinggi TNI yang disebut dibunuh oleh TNI. Mereka adalah Letjen TNI Ahmad Yani, Mayjen TNI Raden Suprapto, Mayjen TNI Mas Tirtodarmo Haryono, Mayjen TNI Siswondo Parman, Brigjen TNI Donald Isaac Panjaitan, dan Brigjen TNI Sutoyo Siswomiharjo. Di foto itu juga tampak sosok Soeharto yang saat itu menjabat sebagai Panglima Komando Strategis Cadangan Angkatan Darat (Pangkostrad). Dalam sejarah resmi versi negara soal Peristiwa 30 September 1965, Soeharto adalah orang yang paling berjasa dalam mengungkap kasus G-30-S ini.

Kalau kita meneruskan langkah sampai ke diorama di bagian dalam, cerita soal “kekejaman PKI” masih berlanjut. PKI diasosiasikan dengan kata-kata negatif. Misalnya dalam cerita pembunuhan missal di Tirtomoyo tahun 1948 yang menyebutkan begini: “…tentara PKI masih melanjutkan kekejaman terhadap lawan politiknya". Di situ disebutkan kalau PKI menculik pejabat pemerintah daerah, polisi dan para ulama. Mereka lantas disiksa dengan cara “disembelih, ditusuk dengan bambu runcing, dan leher mereka dijerat dengan kawat”.

Di peristiwa Madiun 194, PKI juga ditulis sebagai pemberontak dan melakukan aksi teror. PKI disebut mengumumkan berdirinya 'Soviet Republik Indonesia'.

Dalam diorama itu juga disebutkan soal aksi PKI dalam kampanye budaya pada 25 Maret 1963. PKI dituduh memasukkan ajaran komunisme melalui Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), Lembaga Sastra, Lembaga Film dan Drama.

"Secara sistematis mereka memasukkan kumunisme ke dalam seni dan sastra, mempolitikan kebudayaan dengan semboyan 'politik adalah panglima' serta mendeskriditkan para sastrawam dan kebudayaan non komunis," begitu salah satu petikannya.

Sebetulnya dari berbagai referensi dan pengakuan saksi sejarah serta sejarawan, Lekra bukanlah organisasi yang ada di bawah kendali PKI. Lekra disebut sebagai organisasi merdeka dalam hal sastra. Di akhir sajian puluhan diorama, terdapat kata-kata yang masih disajikan dengan ungkapan negatif soal PKI.

Di akhir kunjungan, maka tulisan inilah yang akan Anda lihat: "Terimakasih kepada Anda yang telah menyaksikan sebagian dari diorama perisiwa biadab yang dilakukan oleh PKI. Jangan Biarkan peristiwa semacam itu terulang kembali. Cukup sudah setetes darah dan airmata membasahi bumi pertiwi. Untuk itu perlihara dan tingkatkan persatuan dan kesatuan bangsa. Selamat jalan dan merdeka!"
Apakah gambaran sejarah di Museum Pengkhianatan PKI itu sudah benar?

Editor: Citra Dyah Prastuti

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Survei Sebut Mayoritas Masyarakat Ingin Pandemi Jadi Endemi