Bagikan:

Ini Isi Surat Khusus Istri Mendiang Munir untuk SBY

KBR, Jakarta - Istri mendiang Munir Said Thalib, Suciwati mengirimkan surat kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Presiden diingatkan kembali setelah 10 tahun berkuasa. SBY pernah berjanji menuntaskan kasus pelanggaran HAM. Namun itu belum dia lakukan

NASIONAL

Selasa, 02 Sep 2014 21:35 WIB

Ini Isi Surat Khusus Istri Mendiang Munir untuk SBY

munir, HAM

KBR, Jakarta - Istri mendiang Munir Said Thalib, Suciwati mengirimkan surat kepada Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Presiden diingatkan kembali setelah 10 tahun berkuasa. SBY pernah berjanji menuntaskan kasus pelanggaran HAM. Namun itu belum dia lakukan.

Surat itu dibacakan Suciwati di peringatan malam mengenang 10 tahun tewasnya Munir di Kedai Tempo di Jalan Utan Kayu No. 68H, Jakarta Timur, Selasa (2/9).

Munir tewas pada 7 September 2004 karena diracun arsenik. Hal ini terbukti juga dalam sidang pembunuhan Munir dengan terdakwa pilot Garuda, Pollycarpus Budihari Priyanto Agustus 2005 lalu di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

Hakim menjatuhkan vonis bersalah pada Pollycarpus dan menjatuhi hukuman 14 tahun penjara. Di tingkat banding, putusan dikuatkan. Di tingkat MA, Pollycarpus bebas, tapi ketika ada pengajuan PK, hukuman justru menjadi 20 tahun penjara.

Berikut isi surat itu:

Bapak Presiden Susilo Bambang Yudhoyono,

Apa kabar di hari-hari akhir pemerintahan Anda? Masihkah memegang janji untuk mengungkap dalang pelaku pembunuhan suami saya, Munir? Sepuluh tahun lalu Anda berkata “Kasus Munir adalah 'test of our history'.” Ujian sejarah kita. Sejarah bangsa Republik Indonesia.

Di ujung pemerintahan Anda yang kedua ini saya ingatkan lagi bahwa saya bersama korban pelanggaran HAM berat berdiri diam setiap Kamis sore selama sewindu lebih di depan istana megah Anda, bersama ratusan surat yang kami antarkan ke Istana. Agar Anda ingat dan berani.

Menuntaskan perkara yang Anda janjikan saja tidak 'berhasil' apalagi yang lainnya. Sungguh yang Anda wariskan hanyalah hutang pada generasi anak bangsa, hutang sejarah pelanggaran HAM dan kekebalan hukum penjahat kemanusiaannya.

Bapak Presiden,

Indonesia kini memiliki Presiden baru yaitu Joko Widodo dan Wakilnya Jusuf Kalla, wakil presiden era pertama pemerintahan Anda yang pasti tahu janji Anda. Oktober ini mereka dilantik menggantikan Anda. Jika memang Anda tidak lagi meyakini kemampuan kepresidenan Anda, maka saya ingin langsung menempatkan warisan yang tidak pernah Anda selesaikan ini, saya tagihkan kepada mereka.

Saya sadar, dalang pembunuh Munir bukan orang biasa. Bukan orang yang luar biasa. Tapi sangat luar biasa. Barangkali pembunuh itu bisa mempengaruhi begitu banyak petinggi kekuasaan sehingga dirinya tak tersentuh oleh hukum. Itu tidak melemahkan saya dan kawan-kawan yang mencintai Munir. Tidak sedikit pun membuat kami mundur demi memperjuangkan keadilan untuk Munir.

Keadilan itu menjadi keadilan yang tak terpisahkan dengan keadilan bagi para korban pelanggaran HAM berat masa lalu. Kami prihatin karena tak satu pun perkara ini dapat Anda selesaikan. Yang kita lihat saat ini akan dicatat oleh sejarah, tentu bukan dengan tinta emas.

Sekarang, saya beralih kepada Bapak Presiden terpilih Ir. Joko Widodo, dan Bapak Wakil Presiden terpilih Jusuf Kalla. Saya ingin berbagi  kerinduan, betapa saya dan rakyat Indonesia merindukan presiden dan wakil yang berani. Berani bertindak menuntut pelanggar HAM berat ke pengadilan.

Ini bukan mengungkit luka. Ini untuk  penyembuh luka sejarah bangsa kita. Kami butuh lilin penerang untuk masa depan. Pemimpin yang meluruskan sejarah kelam agar itu tak terjadi lagi. Peradaban, dimulai dari pemberani yang melakukan perubahan menjadi lebih baik. Andakah itu Pak Jokowi dan Pak JK?

Kami seluruh anak bangsa ini sungguh-sungguh  merindukan sosok itu ke depan. Saya menunggu dengan sepenuh cinta untuk perubahan negeri ini menjadi lebih baik.

Salam dari saya orang biasa, seorang perempuan, seorang ibu, seorang istri yang dipisahkan dari suaminya dengan cara yang menginjak perikemanusiaan bangsa kita, Republik Indonesia.

 

22 Agustus 2014


Suciwati

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Ragam Syarat Beli Minyak Goreng Curah, Efektifkah?