Vonis Cebongan Tidak Berikan Rasa Keadilan

KBR68H, Timor Tengah Utara - Keluarga Korban pembunuhan di LP Cebongan menilai vonis yang dijatuhkan majelis hakim Mahkamah Milter hari ini tidak memberikan rasa keadilan.

NASIONAL

Kamis, 05 Sep 2013 22:51 WIB

Author

Oscar Praso dan Sasmito Madrim

Vonis Cebongan Tidak Berikan Rasa Keadilan

Vonis Cebongan, Rasa Keadilan, kopassus

KBR68H, Timor Tengah Utara - Keluarga Korban pembunuhan di LP Cebongan menilai vonis yang dijatuhkan majelis hakim Mahkamah Milter hari ini tidak memberikan rasa keadilan. Kakak kandung salah satu korban, Juan Manbait mengatakan, ada upaya rekayasa dalam persidangan ini. Menurutnya, banyak fakta yang tidak terungkap dalam persidangan. Misalnya pertemuan petinggi TNI dan Polri sebelum terjadi penyerangan, dan adanya bekas penganiayaan sebelum para korban dibantai.

“Dengan melihat kondisi tubuh Juan, Deky dan Ady yang ada patah di tangan dan kaki, itu artinya sebelum mereka dibantai itu sempat dianiaya. Nah ini tidak terungkap dalam persidangan. (Keluarga tidak puas dengan vonis yang ada ?) Kita tidak bisa menyatakan puas atau tidak karena faktanya seperti ini dan sejak dari awal keluarga sudah melihat apapun nantinya proses persidangan ini, tidak akan memberikan rasa keadilan terutama penegakkan hukum di negara hukum ini,”tegasnya.

Menurut Viktor Manbait, untuk mendapatkan vonis yang adil sejak awal keluarga menuntut agar persidangan kasus ini dilakukan di peradilan sipil bukan militer. Karena kasus penganiayaan hingga penembakan yang terjadi di LP Cebongan merupakan pelanggaran HAM berat.


Sementara itu Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (KontraS) menyayangkan perjalanan kasus Cebongan. Pasalnya sejak terjadinya peristiwa hingga dijatuhkannya vonis tidak mengungkap sama sekali peran Kepala Kepolisian Yogyakarta dalam kasus tersebut. Koordinator Kontras, Haris Azhar mengatakan, Majelis Hakim Militer harus meminta pertanggungjawaban dari Kepala Kepolisian setempat.

“Menurut saya yang penting, konstruksi hukumnya yang kurang mantap dalam vonis itu. Seharusnya konstruksi putusan bisa menggambarkan sistematik dari kasus Cebongan bukan penyerangan saja. Karena beberapa hari sebelumnya ada tindakan-tindakan yang justru konstributif terjadinya peristiwa Cebongan itu. Seharusnya dilakukan tindakan untuk mencegah tindakan itu terjadi. Nah itu yang saya maksud perannya kapolda Yogyakarta. Karena dia yang mimpin rapat pasca peristiwa di Hugoscafe.”ujar Haris kepada KBR68H

Majelis Hakim Pengadilan Militer Yogyakarta memvonis 8 dari 12 terdakwa penyerangan Lembaga Pemasyarakatan (LP) Cebongan, Sleman. Putusan itu menunjukkan bahwa kasus ini merupakan kriminal murni.Terdakwa eksekutor utama yakni Ucok Tigor Simbolon divonis penjara 12 tahun dikurangi masa tahanan. Sementara Sugeng Sumaryanto dihukum 10 tahun penjara dan Kodik dihukum 8 tahun penjara. Ketiga pelaku utama ini dipecat dari TNI AD. (Baca: 12 Anggota Kopassus Jalani Sidang Vonis Kasus Cebongan)

Editor: Nanda Hidayat

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Pemerintah Sebut Sertifikasi Layak Nikah Tak Wajib

Super You by Sequis Online, Asuransi Online untuk Milenial