covid-19

Menteri Gita: Harga Jual Kedelai untuk Perajin Dihapus

KBR68H, Jakarta- Kementerian Perdagangan resmi menghapus harga jual kedelai untuk perajin tahu dan tempe (HJP). Penghapusan HJP untuk perajin itu, dituangkan dalam revisi Peraturan Menteri Perdagangan yang dikeluarkan hari ini.

NASIONAL

Jumat, 20 Sep 2013 14:36 WIB

Menteri Gita: Harga Jual Kedelai untuk Perajin Dihapus

menteri perdagangan, gita wirjawan, harga jual, kedelai

KBR68H, Jakarta- Kementerian Perdagangan resmi menghapus harga jual kedelai untuk perajin tahu dan tempe (HJP). Penghapusan HJP untuk perajin itu, dituangkan dalam revisi Peraturan Menteri Perdagangan yang dikeluarkan hari ini.

Menteri Perdagangan Gita Wirjawan mengatakan, penghapusan HJP  dilakukan hingga harga kedelai nasional kembali stabil. Dalam aturan yang sama, perajin tahu dan tempe juga diberikan izin untuk mengimpor kedelai untuk kebutuhan mereka.

“ Harga jual ke perajin itu arahan Wakil Presiden karena kalau ditiadakan, itu kekuatan atau hukum pasar untuk bisa menstablilisasi harga. Jadi pasokan untuk Bulan September cukup, ini kelihatan kan cukup, tinggal harganya saja yang tak murah karena produksi nasional masih kurang, “ jelas Menteri Perdagangan Gita Wirjawan saat memantau Pabrik Tahu Tempe di Utan Kayu, Jakarta, Jumat (20/9).

Gabungan Koperasi Tahu Tempe Indonesia (Gakoptindo ) menolak penghapusan Harga Jual Perajin (HJP). Gakoptindo khawatir, para importir akan menetapkan harga seenaknya jika HJP dihapuskan. Namun, Pemerintah beralasan, melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika membuat penetapan HJP sulit dilakukan.

Pada Agustus lalu, harga jual kedelai dari importir ke tingkat perajin dipatok sebesar Rp 7.700/kg. Sedangkan pada bulan Juli dipatok Rp 7.450/kg. Naiknya harga kedelai beberapa waktu terakhir juga memicu mogok produsen kedelai Nasional. Mereka menuntut, Pemerintah menurunkan harga kedelai, agar perajin tahu tempe tidak gulung tikar karena kedelai mahal.

Editor: Doddy Rosadi

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 7

Kabar Baru Jam 8

Fasilitas Jalan Aman di Indonesia

Menyorot Klaster Covid-19 pada Pembelajaran Tatap Muka

Kabar Baru Jam 10