Benahi Sistem Pengupahan Penghulu di KUA

KBR68H,Jakarta - Komisi Agama DPR mendesak pemerintah membenahi sistem pengupahan penghulu di Kantor Urusan agama (KUA).

NASIONAL

Rabu, 04 Sep 2013 07:13 WIB

Author

Gun Gun Gunawan

Benahi Sistem Pengupahan Penghulu di KUA

sistem pengupahan, penghulu, kantor urusan agama, hidayat nur wahid

KBR68H,Jakarta - Komisi Agama DPR mendesak pemerintah membenahi sistem pengupahan penghulu di Kantor Urusan agama (KUA). Anggota Komisi Agama Hidayat Nur Wahid mengatakan, hal tersebut perlu dilakukan untuk memberantas pungutan liar yang selama ini terjadi. Beberapa waktu lalu, Inspektorat Jendral Kemenag memperkirakan ada potensi pungli di tubuh KUA sebesar Rp 1,2 triliun per tahun.

"Karena itu kan bukan maunya pak penghulu (pungli). Karena negara mewajibkan adanya pencatatan nikah tapi negara hanya memberikan biaya Rp 30 ribu. Di saat yang sama negara membolehkan pencatatan nikah di luar KUA dan di luar hari kerja. Nah penghulu tak punya anggaran untuk itu. Makanya mempelai atau orang tua mempelai memberi uang. Ternyata ada yang besar bisa 300 ribu, bisa 3 juta," kata Hidayat Nur Wahhid kepada wartawan di gedung DPR, Selasa (3/9).

Anggota Komisi Agama Hidayat Nur Wahid menambahkan, pemerintah seharusnya memberi biaya tambahan bagi penghulu seperti uang transportasi dan uang lembur. Kata dia, anggaran tersebut harus diajukan oleh pemerintah dalam APBN tahun depan.

Upah penghulu KUA per acara pernikahan sebesar Rp30 ribu. Di atas tarif itu, KUA akan dinilai KPK menerima suap atau gratifikasi. Sejak 2008, KUA menerima dana operasional sebesar Rp2,5 juta dari Kementerian Agama.

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memberi nilai Kementerian Agama (Kemenag) di bawah rata-rata layanan publik nasional. Kemenag mendapat nilai di atas 6 untuk layanan KUA.

Editor: Doddy Rosadi

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 20

Kabar Baru Jam 19

Kabar Baru Jam 18

Kabar Baru Jam 17

Modus Baru, JAD Gunakan Racun untuk Aksi Teror