Akui Identitas Aliran Kepercayaan, MA Lakukan Terobosan Besar

KBR68H, Jakarta

NASIONAL

Jumat, 20 Sep 2013 10:00 WIB

Author

Doddy Rosadi

Akui Identitas Aliran Kepercayaan, MA Lakukan Terobosan Besar

aliran kepercayaan, mahkamah agung, setara

KBR68H, Jakarta – Keputusan Mahkamah Agung yang mengakui identitas penganut aliran kepercayaan menuai pujian. Peneliti dari Setara Institute, Ismail Hasani mengatakan, keputusan MA tersebut bisa dijadikan yurisprudensi bagi aparat hukum lain apabila menghadapi kasus yang melibatkan penganut aliran kepercayaan.

Selama ini, penganut aliran kepercayaan selalu mengalami masalah apabila berhadapan dengan hukum. Karena, aliran kepercayaan tidak diakui sebagai agama di Indonesia.

“Saya punya teman, dia atheis, ketika dia menjadi saksi di Mahkamah Konstitusi tetap harus mengambil sumpah berdasarkan salah satu dari enam agama yang berlaku. Saya pikir keputusan MA itu merupakan sebuah terobosan besar. Ini bisa membuat penganut aliran kepercayaan tidak perlu takut lagi dalam berhadapan dengan hukum,”kata Ismail saat dihubungi KBR68H melalui sambungan telepon, Jumat (20/9).

Ismail menambahkan, keputusan MA tersebut memang belum menjadi aturan yang mengikat karena hanya terkait dengan pengaju kasasi tersebut. Namun, hal itu sudah merupakan kabar baik bagi penganut aliran kepercayaan di Indonesia.

Mahkamah Agung mengakui identitas aliran kepercayaan. Sebelumnya, dalam Undang Undang Administrasi Kependudukan, hanya 6 agama yang diakui, yaitu Islam, Kristen, Katholik, Hindu, Budha, dan Konghucu. Latar belakang pengakuan identitas ini berdasarkan putusan MA dalam kasus penipuan dengan terdakwa Basuki Nugroho.

Saat kasus ini berjalan, hakim tidak mempermasalahkan identitas agama terdakwa yang tertulis “Kepercayaan Penghayat Tuhan.” Menurut Juru Bicara MA Ridwan Mansyur, penulisan agama Kepercayaan Penghayat Tuhan bukan berarti mengakui sebagai agama, namun semata-mata hanya mengakuinya sebagai identitas terdakwa.

Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

Most Popular / Trending

Kabar Baru Jam 17

Aplikasi LAPOR Dinilai Tidak Efektif Tanggapi Laporan Masyarakat

Kabar Baru Jam 15

Perlukah Sertifikasi Pernikahan?

Kabar Baru Jam 14