Bagikan:

Pertalite Langka, DPR Tagih Pertamina Buka Realisasi BBM Bersubsidi

“Padahal, kuota Pertalite untuk tahun 2022 adalah sebanyak 23,05 juta kiloliter."

NASIONAL

Rabu, 10 Agus 2022 07:39 WIB

Author

Heru Haetami

Pertalite langka

Pertalite dan BBM bersubsidi langka di SPBU Kelurahan Pasir Mulya, Kota Bogor, Jabar, Senin (8/8/22).(Antara/Arif Firmansyah)

KBR, Jakarta- Anggota Komisi bidang Energi DPR, Mulyanto, meminta Pertamina membuka data realisasi kuota BBM bersubsidi tahun 2022. Hal itu diminta usai dirinya menerima laporan banyak SPBU yang tidak dapat melayani pembelian BBM bersubsidi dengan alasan habis.

“Padahal, kuota Pertalite untuk tahun 2022 adalah sebanyak 23,05 juta kiloliter. Sedangkan kuota solar tahun 2022 adalah sebesar 15 juta kiloliter,” kata Mulyanto dalam keterangan tertulis, Selasa (9/8/2022).

Mulyanto meminta Pertamina menjelaskan secara gamblang kepada DPR kondisi cadangan BBM bersubsidi yang sebenarnya. 

Kata dia, jangan sampai masyarakat berspekulasi macam-macam sehingga menimbulkan gejolak.

"Sekarang saja dikabarkan cadangan operasional BBM Pertamina tinggal 15 hari, dari yang seharusnya 20-30 hari. Akibatnya, di beberapa tempat mulai ada berita tentang antrean BBM," kata Mulyanto.

"Karena itu DPR merasa perlu mendengar penjelasan resmi Pertamina terkait cadangan BBM bersubsidi tersebut," imbuhnya.

Mulyanto minta Pertamina tidak mengambil tindakan sepihak dengan melakukan pembatasan cadangan operasional di masing-masing SPBU secara diam-diam. Apalagi kata dia, sampai menimbulkan antrean kendaraan pelanggan BBM.

Mulyanto mengungkapan, setelah adanya kenaikan harga BBM nonsubsidi jenis Dexlite, diperkirakan tidak sedikit pelanggan yang bermigrasi dari BBM nonsubsidi ini ke BBM subsidi jenis solar.

Setelah sebelumnya juga terjadi migrasi pelanggan Pertamax ke BBM bersubsidi jenis Pertalite, karena kenaikan harga Pertamax.

"Kalau ini terjadi, maka akan menambah kebisingan ruang publik di saat menjelang tahun politik seperti sekarang ini," terang Mulyanto.

Baca juga:

Sementara itu, Pertamina menyatakan kuota BBM subsidi kian menipis. Hingga Juli lalu, konsumsi Pertalite dan solar bersubsidi sudah mencapai lebih dari 60 persen dari kota yang sudah ditetapkan tahun ini yaitu 23 juta kiloliter.


Juru bicara Pertamina Patra Niaga, Irto Ginting mengatakan, pembatasan BBM bersubsidi harus menunggu revisi peraturan presiden tentang distribusi dan harga jual eceran bbm subsidi selesai.

“Saat ini belum dilakukan pemberlakuan QR Code (My Pertamina). Paralel, kami masih menunggu revisi Perpres 191 tahun 2014. Melihat kuota yang tersedia, pengaturan harus segera dilakukan. Karena bila tidak, perlu ada penambahan kuota BBM bersubsidi,” kata Irto melalui pesan singkat kepada, KBR, Minggu (7/8/2022).

Editor: Rony Sitanggang

Kirim pesan ke kami

Whatsapp
Komentar

KBR percaya pembaca situs ini adalah orang-orang yang cerdas dan terpelajar. Karena itu mari kita gunakan kata-kata yang santun di dalam kolom komentar ini. Kalimat yang sopan, menjauhi prasangka SARA (suku, agama, ras dan antargolongan), pasti akan lebih didengar. Yuk, kita praktikkan!

BERITA LAINNYA - NASIONAL

Kabar Baru Jam 11

Kabar Baru Jam 10

Kabar Baru Jam 8

Kabar Baru Jam 7

Laporan Temuan Ombudsman soal Penanganan Bencana

Most Popular / Trending